Culinary Memoirs of A Biologist Who Loves Food

Posts tagged “ayam

Se’i, The Famous Indonesian Smoked Meat (Se’i Lamalera, Bandung)

Smoking and curing are known way to preserve meat, as well as probably the most favorite ones. These procedures enhance the flavor of the meat to the max, making it more enjoyable to eat. And normally, when we hear about smoked beef, we might think if that comes from Europe or America. The answer, not really. Smoking is popular in many cultures and traditions throughout the globe, including Indonesia.

In Eastern Indonesia, specifically in Kupang (Timor Island), Nusa Tenggara Timur, there’s a smoked meat product called se’i (from Rote language: to slice the meat in thin strips). Originally, as it is a game food, venison is used. But now, because there is a restriction on deer hunting for conservation, either pork or beef are used. Sometimes, chicken and fish are also good for options.

To make se’i, the normal ingredients like table salt (NaCl) and saltpeter/curing salt (KNO3) are used as flavor enhancer and preserving agent against unwanted microbes, respectively. But, the real magic comes from a specific tree, which leaves and woods used for smoking the se’i. The tree is called, kesambi or kosambi (Schleichera oleosa (Lour.) Oken, which belongs to family Sapindaceae, a cousin of Rambutan), also known as Makassar oil tree, or Ceylon Oak. Somehow, in a reason I don’t really know, smoking with this plant materials gives se’i its distinctive flavor and aroma, as well as giving it the reddish surface color.

Unfortunately for me, I haven’t had a chance to go to Kupang to tell the real story. So instead, I visited a restaurant, which specifically selling this smoked meat goodness in Bandung, that only takes me a moment by train from Jakarta (the travel duration would be the same, but you spend only IDR 100k (USD 8) to Bandung, IDR 1.1 million (USD 80) to Kupang).

I ordered the se’i sapi (beef se’i) and se’i ayam (chicken se’i), using the traditional sambal lu’at (sambal or spicy condiment from Kupang, with chili, tomato, and coriander leaves) and sambal matah (sambal made of chili and lemongrass, quite trendy now in Indonesia). Ah, and when we ordered se’i, it seems to be common if it served with rice, a lemony clear broth, and sauteed papaya (Carica papaya L.) flowers. This time, not only the flowers, but also sauteed papaya leaves.

img_6683

Se’i Sapi with Sambal Lu’at, sauteed papaya leaves and flower, the broth, and rice on background

img_6684

Se’i Ayam mixed with Sambal Matah, sauteed papaya leaves and flower, the broth, and rice on background

The taste is awesome. The beef one used brisket meat (if I correct), making it layered with fat, enhancing the flavor. It tastes like normal smoked beef, but the smokiness is stronger, as it was just smoked. We normally eat meat with something sour, right, so we used sauces like barbecue sauce. Sambal lu’at has the spicy and sour kick that we need, the coriander boost the flavor even more. Sambal matah is also good, but too spicy for me and it conceal the smokey goodness of the se’i. The broth is good if you add it a bit to the rice, giving more lemon flavor with a hint of meat stock flavor to it. For the sauteed leaves, I like the bites in it and the perfect saltiness add to it. As it is part of papaya plant (it has bitter latex), I’d say that they cook it perfectly.

Final verdict, sambal lu’at is the best condiment for se’i. I like the beef one, but preferably I like the chicken more. Because the beef se’i is kinda shrinking and drier when it served, while the chicken (also I like chicken) is still meaty and succulent, although the beef has stronger smokey flavor.

P.S.: Other than regular beef meat and chicken meat, they also selling se’i of beef tongue (it is much softer and has smoother texture) and beef ribs (rib eye meat) (which has even more denser beef flavor).

SE’I SAPI LAMALERA

Address: Jl. Bagus Rangin no. 24A, Bandung, Indonesia. Zomato. TripAdvisor

Restaurant notes:

  • Mushalla (praying room) – Available
  • Debit card – Available

Ordered Meals:

  • Se’i Sapi with Sambal Lu’at – Regular Size (IDR 20k)
  • Se’i Ayam with Sambal Matah – Regular Size (IDR 15k)

Notes:

  • Because the price is very affordable for students, this place is packed with people for lunch, plan your trip wisely so you can get a seat!
  • You can buy the 1/4, 1/2, and 1 Kg of the Se’i here. The 1 Kg beef se’i was about IDR 150k

-AW-

Advertisements

Chef Purbo Wahyono – Berawal Dari Nekat, Berubah Menjadi Dahsyat!

Bagi kalian yang pernah menonton film Disney Pixar, Rattatouille, Chef Auguste Gusteau pernah bilang bahwa “Semua orang bisa masak!” dan ditambah dengan sang kritikus restoran Anton Ego di review akhirnya menambahkan, “Tidak semua orang bisa menjadi seniman yang handal, tapi seniman yang handal bisa berasal dari manapun”. Ya, semua orang bisa masak dengan apapun latar belakang mereka.

Chef Purbo (1)

Tidak terkecuali sang Executive Chef dari Hotel Royal Ambarrukmo, Yogyakarta, Chef Purbo Wahyono (47). Pria kelahiran 20 Januari 1969 ini awalnya sekolah di sebuah sekolah perbankan di Yogyakarta pada tahun 1988, mengikuti ambisi orang tua yang pada saat ini masih berkiblat pada anggapan bahwa kerja sukses adalah kerja kantoran dan mengurus uang. Namun hal ini menurut Chef Purbo kurang menarik. Hingga suatu ketika Chef Purbo menemui temannya di Hotel Inna Garuda, Yogyakarta, dan beliau terinspirasi menjadi seorang chef.

Hanya bermodal nekat setelah melihat flyer tentang sekolah perhotelan di Denpasar, Bali, ia akhirnya berusaha meyakinkan orang tuanya agar ia bisa ikut tes. Saat itupun, orang tua beliau menganggap sekolah perhotelan itu tidak memiliki masa depan yang jelas. Dengan modal niat yang kuat, dan doa ke Tuhan YME dengan tulus, beliau pun pergi ke Denpasar. Di sini, saya belajar bahwa yang namanya intervensi Tuhan atau divine intervension itu ada.

“Saya awalnya ga yakin, soalnya tes nya kan Bahasa Inggris dan pertanyaan2 dasar dapur. Saya berdoa, dan alhamdulillah… saya dapat pertanyaan yang gampang, sementara yang lain pertanyaannya ribet!”

Akhirnya Chef Purbo sekolah di Denpasar. Di sana karena dengan modal awal nekat, ia hidup dalam keterbatasan, bahkan tinggal di musholla. Saat itupun, orang tua mulai menggelengkan kepala mereka karena melihat masa depannya suram. Tapi itu tidak menyurutkan semangat Chef Purbo! Akhirnya setelah selesai dan ia bisa ke hotel. Pilihan awalnya adalah sebagai manajemen hotel. Namun, sekali lagi, ia memilih jalan lain. Menjadi tukang jagal atau butcher di dapur. Mengapa? Tukang jagal yang memasok daging itu adalah pusat atau jiwa dari dapur! Belajar tentang daging akan membuat kita selalu diperlukan di dapur.

Chef Purbo (2)

Tahun 1995, Chef Purbo berkesempatan kerja di kapal pesiar Royal Oddisey dan ia menjadi SATU-SATUNYA orang Indonesia yang kerja di sana! Ia awalnya bekerja sebagai “garbage boy” di bawah Divisi Stuart/Kelasi. Memegang profesi ini, ia tak putus asa, tapi ia belajar juga. Ia menjadi mengerti zat2 kimia yang berguna untuk pekerjaannya. Ketika jam istirahat, seharusnya petugas di sana ganti shift dan istirahat total untuk sesi selanjutnya, namun Chef Purbo mengambil waktu istirahatnya untuk belajar di dapur. Sekian lama kemudian, hal ini terendus sang Executive Chef di sana dan ia pun dites untuk masak. Akhirnya, Chef Purbo resmi menjadi cook (juru masak) di sana setelah itu!

Setelah momen itu, ia mulai meniti karir di berbagai tempat. Mulai dari Hotel Sheraton Surabaya (1996), hingga ke Royal Caribbean Cruise Line milik Amerika Serikat pada tahun 1999, lalu ke Dubai pada tahun 2005-2006, dan kembali ke tanah air pada 2007 ke Hotel Sheraton Timika dan Hotel Sedona Manado. Setelah ia menikah, ia pun mulai menjadi Executive Chef di Maladewa (Maldives) pada tahun 2008 sebelum kembali ke Indonesia dan bekerja di Hotel Atlet Century pada tahun 2012 dan akhirnya di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta menjadi Executive Chef ke-4 setelah Chef Tri Heru Basuki pindah kerja.

Dari hidupnya yang penuh petualang, Chef Purbo selalu bilang untuk selalu ingat Tuhan dan berdoa, serta selalu pasang niat yang kuat. Prinsip beliau dalam bekerja…

“Jika kita mencintai pekerjaan kita, maka kita akan (bisa) menentukan masa depan kita. Be a leader, not follower!

Menjadi seorang juru masak handal, pasti tidak lepas dari kritik…

“Kita tidak bisa melihat kuping kita sendiri. Kita harus menerima masukan atas kekurangan kita agar bisa maju.”

Ketika beliau ditanya, siapakah inspirasi utama beliau?

“Inspirasi saya bukan orang, tapi lingkungan (dan) itu yang saya cari!”

Dalam bekerja, beliau menegaskan kita untuk membuang bidaya ga enakan pada orang lain (Jawa: ewuh pekewuh). Mau itu ke bawahan atau atasan. Demi profesionalitas, kita harus tegas demi mutu yang terjaga.

Banyak sekali pelajaran hidup yang diajarkan Chef Purbo, tapi sekarang… saya akan menunjukkan “kekuatan” masak Chef Purbo di dapur. Menariknya, beliau langsung memperlihatkan 2 masakan yang menurut saya sangat kompleks!

Chef… ga takut masakan dengan bumbu kompleks gini “dicuri” resepnya?

“Yang menjadi kunci rasa masakan adalah feeling. (Dengan) bahan yang sama, dengan tangan yang berbeda, maka rasanya akan berbeda”

Intinya, hanya “insting” yang bakal membedakan karya masakan dengan resep yang sama. Bisa aja ketika kita yang masak… lebih mending dari Chef Purbo (yakin?) atau (pada umumnya) lebih biasa aja? Yah… oke deeh… mari disimak!

Sesi masak

Resep – Royal Ambarrukmo Signature Dish – Soto Tangkar

Menu khas Betawi andalan dari Royal Restaurant di Royal Ambarrukmo. Kata “tangkar” di sini merujuk ke daging iga sapi (saya bayangkan itu karena kayak sangkar). Iga dimasak selama 6 jam dan membuatnya begitu empuk dengan rasa rempah2 Indonesia yang fenomenal.

CP - Soto Tangkar (1)

Chef Purbo menyebutkan, rasa dari cengkeh dan pala berperan untuk menyeimbangkan (balancer) dan bunga kecombrang memberikan rasa segar pada bumbu.

CP - Kecombrang

Bunga kecombrang

Bumbu yang dihaluskan (diblender)

200 g bawang putih

200 g bawang merah

200 g cabe merah besar

200 g kapulaga

200 g sereh

200 g cengkeh

200 g kayu manis

200 g jahe

3 lembar daun salam

200 g pala

Sejumput bagian dalam bunga kecombrang

Garam secukupnya

Bahan utama

1 Kg Iga sapi

Santan encer

Air untuk merebus

Cara membuat

Pertama, tumis bumbu halus hingga harum. Tambahkan air (untuk 1 Kg iga, 10 L air dimasukkan). Masukkan iga sapi. Masak pada api sedang dan konstan selama 6 jam hingga iga lunak, rasa kaldu dari iga keluar dan bumbu meresap. Sesaat sebelum disajikan, santan encer dimasukkan dan diaduk. Soto Tangkar disajikan dengan nasi atau lontong.

CP - Soto Tangkar (Served)

Resep kedua ini berasal dari kampung halaman istri Chef Purbo, Manado, Sulawesi Utara. Juga bisa ditemukan di bagian lain Indonesia Timur.

Resep – Ayam Tuturuga

CP - Ayam Tuturuga (1)

Bumbu lunak utama (masing2 200 g): Bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit (bawang dipotong, jahe dan kunyit dipotong dadu kecil2)

Bumbu lain (masing2 200 g): Cabe merah besar, kemangi, sereh, daun jeruk daun bawang (iris tipis; potongan2 gede ini menjadi ciri khas masakan Indonesia Timur)

1 ekor ayam yang sudah dipotong

Garam secukupnya

Kaldu ayam bubuk untuk menguatkan rasa secukupnya

Minyak goreng

Cuka untuk melunakkan ayam dan menghilangkan bau

Cara membuat

Untuk melunakkan ayam dan menghilangkan bau, beri sedikit cuka pada ayam dan aduk merata. Nyalakan api kompor, panaskan minyak pada wajan.

CP - Ayam Tuturuga (4)

CP - Ayam Tuturuga (5)

Tumis bumbu lunak utama hingga harum. Mulai dari bawang, baru jahe dan kunyit.

CP - Ayam Tuturuga (6)

Masukkan ayam. Aduk hingga rata. Beri kaldu bubuk dan garam untuk menambah rasa. Aduk selama 3 menit hingga tercampur.

CP - Ayam Tuturuga (8)

Tambahkan sereh dan daun jeruk. Aduk. Tambahkan cabe merah dan aduk. Jika minyak sudah terlalu kering, tambahkan lagi sedikit.

CP - Ayam Tuturuga (9)

Masukkan kemangi dan daung bawang. Aduk. Kecilkan api.

CP - Ayam Tuturuga (10)

Tutup wajan dengan rapat, masak dengan diamkan selama 15 menit.

CP - Ayam Tuturuga (Served)

Angkat, Ayam Tuturuga siap disantap! Ayam Tuturuga ini dimasak tanpa air. Karena efek panas, air dari ayamlah yang akan keluar dan menambah rasa ketika bersatu dengan bumbu2 lain yang dimasak.

Promo and Food Science – Lamien (Mie Tarik)

Kita semua tau mie berasal dari Tiongkok. Di tempat asalnya, mie dibuat dari adonan dan ditarik dengan keterampilan yang tidak sembarangan orang bisa! Di Royal Ambarrukmo, Lamien ini dikeluarkan oleh Chef Purbo sebagai menu breakfast buffet!

Ada 3 tepung yang dipakai: Tepung khusus dari Hongkong, Tepung Mie (Bogasari), dan Tepung Sidun. Semua dicampur dengan air dan tidak pakai garam. Saya rasa tepung2 ini memiliki tingkat protein yang spesifik sehingga ketika ditarik glutennya mampu membuat mi kenyal dan elastis.

RA - Lamien (1)

Adonan mie…

RA - Lamien (2)

Kasih tepung biar ga lengket…

RA - Lamien (3)

Tarik sekali… lipet…

RA - Lamien (4)

Tarik lagi… dan ulangi lagi…

RA - Lamien (5)

Rebus bentar… abis itu ke air dingin…

RA - Lamien - Ayam

Kasih saus ayam…

RA - Lamien - Tahu

Tahu…

RA - Lamien - Condiment

…dan kondimen lainnya…

RA - Lamien (Served)

Siap disantap!

Terima kasih sebesar2nya untuk pihak manajemen Food and Beverage Royal Ambarrukmo Yogya, khususnya Mas Rudy Adimulyo yang membuat semuanya berjalan dengan baik. Makasih banyak juga buat Chef Purbo sendiri yang memberi cerita baik kuliner maupun kehidupan dengan warna-warni untuk kami. Special thanks ke Eka Putri Amdela (Budidaya Pertanian UGM 2011) dan Jaler Sekar Maji (Elektronika dan Instrumentasi UGM 2013) dari Xenobiota yang udah menemani saya di sesi ini dan membantu semuanya sehingga berjalan dengan lancar!

Untuk poin2 kehidupan dari Chef Purbo, bisa dilihat langsung di blog Putri di sini.

CP + AW + EPA + JSM

ROYAL RESTAURANT – HOTEL ROYAL AMBARRUKMO YOGYAKARTA (Class: 4 Stars)

Jl. Laksda Adi Sucipto No. 81, Yogyakarta. Reservation Phone: +62 274 488 488

Hotel Twitter: @RoyalAmbarrukmo, Hotel Link: click

Foursquare: Ambarrukmo

TripAdvisor: Royal Ambarrukmo Yogyakarta

-AW-


BABO Cafe, Yogya

Beberapa saat lalu, saya di suatu malam abis ngintip Instagram milik Foodgram Yogya tentang tempat ini dan saya pun tertarik buat nyicip karena ada makanan yang ga umum: Waffle Sandwich.

Waffle adalah makanan yang terkenal di kawasan Eropa Barat Laut dan konon berasal dari Belgia tapi kemudian nyebar dan terkenal sampe Amerika Serikat dan otomatis, variasi makanan ini bertambah. Pertama kali saya mencicip waffle yang enak adalah ketika saya menginap di sebuah hotel di Yogya waktu kelas 5 SD. Sesuatu yang identik dengan waffle: Manis, sirup maple, dan mentega. Seiring perjalanan, saya belajar bahwa waffle ideal memiliki konsistensi: Renyah di luar, lembut di dalam.

Yak, balik lagi ke BABO! Tempat ini dari luar nuansanya cozy dan homey dengan penataan artistik yang cukup hijau, alami, dan rada modernistik. Kafe ini punya bagian dalam alias indoor dan outdoor.

BABO (1)

Welcome to BABO!

BABO (4)

Outdoor area…

Bahkan di bagian dalamnya pun nyaman, dan lucunya… banyak pernak pernik tanaman plastik dan ada poster tanaman kebun di dindingnya.

BABO (3)

Indoor, dekat pintu masuk…

BABO (2)

Bagian lain indoor.

Sejujurnya, kalo boleh kasih saran… tempat ini (gambar atas) bisa diakalin lebih lanjut buat jadi bar. Saran saya, bukan sembarang bar, Mocktail Bar atau Milkshake Bar!

Overall, makanan di sini pas dengan tema kafe ini: Comfort food. Makanan nyantai. Walaupun… waffle di sini ga nyantai, alias nendang banget, khususnya sandwich nya.

BABO - Tuna Waffle Sandwich

Tuna Waffle Sandwich.

Saya pun nyoba pesan Tuna Waffle Sandwich. Ternyata… mereka ga main2. Kenapa? Pertama, mereka pake irisan fillet tuna segar yang ditumis, bukan tuna kalengan (umumnya buat sandwich pada pake tuna kalengan, fatalnya pengolahan kurang dan rasanya agak… logam). Kedua, awalnya penasaran dengan tekstur krim mayo nya yang saya jarang temui. Ternyata mereka buat mayo sendiri. Yep, mayo adalah emulsi (Kimia 101: Koloid cairan dalam cairan) antara kuning telur, minyak zaitun, dan air perasan lemon. Hasilnya, creamy, lembut, dan rasanya beda… segar… ga asem sembarangan. Tuna, tomat segar, bawang bombay, dan mayo. Nyaaammy!

Menu andalan di sini adalah Chicken Waffle Sandwich… varian Waffle Sandwich lainnya.

BABO - Chicken Waffle Sandwich

Chicken Waffle Sandwich.

Menariknya lagi, daging ayamnya juga ga maen2. Potongan daging ayam kualitas steak (yang ada di tempat ini juga) sebagai bahan utamanya! Kalo ga puas, cicipi Chicken Steak nya sekalian! Saus bisa milih (jamur, BBQ, dan lada hitam) sama kentangnya bisa milih (French Fries atau Mashed Potato). Rasanya? Just perfect!

BABO - Chicken Steak

Chicken Steak.

Mau nyoba pasta? Silahkan! Saya kemaren makan Fetucinne Aglio Olio… and it’s perfectly fine! FYI, mereka pake taburan keju Parmesan yang ga pelit! Minyaknya pas dan gak lebay, pastanya kenyal, cabenya renyah dan ga pedes (opsional tapi ini saya suka), bahannya segar! It’s a perfect Aglio Olio!

BABO - Fettucine Aglio Olio

Fetucinne Aglio Olio.

Sekarang butuh pencuci mulut? Ngobrol2, ternyata mereka ga main2 dalam milih bahannya: Menteganya, tepungnya, pastanya… semua pilihan. Terus untuk waffle manis dan asin dibedakan. Penasaran, saya pun nyicip.

BABO - Vanilla Ice Cream Waffle

Sweet Waffle Vanilla Ice Cream.

Sweet waffle sat ini… mereka nyajikannya make saus karamel yang dibuat sendiri! Enak, lembut dan renyah… cuma saran, kalo adonannya dikasih esens karamel atau biji vanilla segar, pasti bakal nampol! Biar gitu, yang ini adalah finishing meal yang dahsyat!

Untuk minuman… mereka ada minuman Ovomaltine Milkshake, cuma saya belum nyoba. Kemarin saya nyoba Strawberry Virgin Mojito. Segar banget walau susah disedotnya.

BABO - Strawberry Virgin Mojito

Strawberry Virgin Mojito.

Kafe ini punya wifi dan bisa bayar debit atau kredit (Visa). Kafe ini berdiri Desember 2014 dan di bawah pengawasan Chef Sergio yang berasal dari Spanyol. Beliau juga menjadi chef di restoran Six Senses Yogya (akan di-review lain kali). Staf di sini ga main2. Walau agak makan waktu, mereka punya kendali kualitas di mana makanannya seragam dan konsistensinya… just right! Pesan saya, tolong dipertahankan ya.

Tempat nongkrong asik buat siang yang panas ataupun malam hari di mana pas kunjungan terakhir ada mbak baju merah yang cantik banget dan mbak kerudung ungu yang imut banget yang jelas saya akan ke sana lagi buat pasta dan waffle sandwich nya!

AW’s Rating: √√√√√ (full score for a nice standard of quality control!)

—-

BABO JOGJA

Jl. Johar Nurhadi no. 5, Kotabaru, Yogyakarta. Ph: +62 274 877 3874 0941

Jangkauan Harga:

Makanan: Rp 15.000,00 – Rp 75.000,00

Minuman: Rp 12.000,00 – Rp 35.000,00

Jam Buka:

Senin-Jumat dan Minggu: 11:00 AM – 11:00 PM

Sabtu: 02:00 PM – 10:00 PM

Foursquare: Klik

-AW-


(Closed) Steak Fusion Indo – Sepiring Bistro, Yogyakarta

Makan daging panggang berupa steak, hmmm… itu mungkin pilihan super wah yang banyak orang pun suka! Daging sapi, daging kambing… dimasak rare, medium rare, medium, medium well, atau well done? Apapun jadi! Yang jelas daging ayam harus well done atau Salmonella typhorum bakal mengocok perut kalian! Sausnya? BBQ? Lada hitam?

Gimana kalo pake saus lokal?

Hah?

Iya! Bayangin kita makan steak sausnya pakai saus kuah opor, atau saus padang!

“Apa ga bakal aneh rasanya, Dit?”

Ya asal masaknya bener dan bumbunya pas, aman lah!

Di kawasan Jalan Kaliurang Km 5, Yogyakarta, ada sebuah bistro yang menyajikan menu campuran alias fusion seperti itu! Saya bisa bilang perlu memberi tepuk tangan buat pendiri resto ini yang bilang,

“Saya suka steak, saya orang Indonesia, saya makan steak a la Indonesia”

Asik juga ya konsepnya! Yak, Sepiring Bistro namanya! Bistro dengan 2 lantai indoor ini menyajikan banyak variasi santapan daging dengan saus fusion Indo!

“Di mana2 steak itu dari barat atuh om!”

Berisik ah! Saya mau bawa nasi goreng pake saus barbecue itu namanya makanan mana, hah!?

“Errrr…”

Ya, apa deh! Mari kita simak menu di sini!

Sp - Chicken Steak Saus Opor

Chicken Steak… saus opor!

Pasti tau dong yang namanya opor? Ayam kuah campuran santan yang marak pas lebaran satu ini jadi favorit banyak orang! Di Sepiring Bistro, daging ayam yang dimasak sempurna ini diberi saus opor yang kental. Gurihnya ayam yang kaldunya merembes ke saus menjadi sempurna ketika dimakan dengan kentang dan sayuran rebusnya. Nyaaammm!

Sp - Tenderloin Saus Padang

Tenderloin Steak… Saus Padang!

Daging sapi has dalam lokal atau tenderloin lokal yang rendah lemak ini merupakan makanan elegan yang wow! Apalagi jika dijadikan seperti yang satu ini: dengan saus Padang yang berempah, dengan terong panggang, dan kentang tumis bawang (lyonaise)! Mantap!

Masih kurang? Kali ini tenderloin dengan tumis kangkung dan kentang, dan saus balacan yang merupakan campuran terasi.

SB - Beef Balacan

Beef Balacan.

Makan di Sepiring itu overall enak. Masih banyak lagi menu fusion di sini termasuk risotto beras merah yang dibuat dari campuran rempah santan. Seiring waktu berjalan dari pas saya sampe di Yogya taun 2013 sampe sekarang, restoran ini udah cukup berkembang, baik pelayanannya sampe menunya! Sisanya… monggo coba aja sendiri!

AW’s Rating: √√√√½ (4.5 dari 5, harganya makin lama makin naik)

———

Harga (di luar pajak):

Chicken Saus Opor: Rp 45.000,00

Beef Saus Padang: Rp 67.000,00

Beef Saus Blacan: Rp 67.000,00

SEPIRING BISTRO

Jl. Kaliurang Km 4.5 no. 24. Ph: +62 274 514692. Twitter: @sepiringbistro

Jam Buka:

Hari biasa: 11:00 AM – 11:00 PM

Hari Jumat: 01:00 PM – 11:00 PM

Foursquare: Klik

Note: Jangan ragu buat negur waiter/waitress nya kalo ada yang kurang.

-AW-


Promo: Black Hot Dog – Saffron Restaurant Grand Aston, Yogya

Perkembangan makanan itu unik. Kreativitas memang diperlukan untuk menjaga kestabilan dan kelancaran usaha kuliner, apalagi jika kalangan muda adalah target utamanya. Meracik rasa, menemukan saus yang khas, hingga bermain dengan bahan adalah opsi yang menarik. Mungkin kalian sudah pernah mendengar soal black hot dog? Yak, saat ini terkenal sekali diproduksi oleh sebuah gerai di kawasan Blok M, Jakarta. Black food akan saya bahas di momen artikel selanjutnya. Adalah Chef Herman Jojo, seorang chef eksekutif Hotel Grand Aston Yogyakarta, yang dengan proses yang ditekuninya selama 2 bulan, ia berhasil meracik sebuah menu gelap dengan memanfaatkan karbon aktif! Ia memproduksi makanan dengan panjang 40 cm, dengan daging campuran ayam dan sapi dengan komposisi yang pas, serta 3 macam saus spesial yang ia racik sendiri, dengan berat total sekitar 150 g yang di dalamnya terdapat 50 g bubuk karbon aktif… maka, lahirlah Black Hot Dog!

Ast - Black Hotdog (2)

Chef Jojo dan 3 Black Hot Dog!

Dibuat dengan sosis ayam-sapi dengan campuran karbon aktif… yang memiliki panjang 40 cm dan diameter 2 cm.

Ast - Black Sausages

Black Dogs.

Diberi 3 saus: Saus krim keju, saus pedas, dan saus salsa tomat… sebagai kondimen umum hot dog!

Ast - Black Hotdog (3)

Saus krim keju (putih), salsa (merah), pedas (hijau) di atas hot dog, dengan taburan smoked beef dan daun ketumbar.

Di bawah sosis, terdapat lapisan bawang yang dikaramelkan (caramelized onion, bawang bombay yang ditumis dengan sedikit air dan gula) dan irisan cabe jalapeño…

Ast - Black Hotdog (4)

Potongan hot dog hitamnya.

Rasanya… hmmmmm… sangat uenak dan heavenly delicious! Lalu, dengan segala rasa penasaran saya, saya pun bertanya ke Chef Jojo…

Saya: Chef, dari semua bahan penghitam alami makanan: wijen hitam, kluwek (buat rawon), tinta cumi, dan merang bakar, kenapa yang dipilih adalah karbon aktif?

Chef Jojo: Saya memilih ini karena sifatnya yang punya nilai lebih untuk kesehatan, dan selain ketika selama 2 bulan saya bereksperimen itu… wijen hitam, kluwek, dan tinta cumi khususnya memberi rasa yang beda dan ga netral ketika dicampur, apalagi beberapa juga jadi pudar ketika dicampur.

AW: Kalo buat pasta pake tinta cumi ya?

CJ: Kalo untuk pasta, tinta cumi baru pas karena dia larut dengan gampang… dan teksturnya ga kaku…

Yep! Apa kalian tau dengan komponen satu ini? Karbon aktif adalah arang aktif yang diproses dari kayu keras atau bambu atau cangkang kelapa yang dibakar dengan proses aktivasi pada suhu di atas 1000ºC dengan pembakaran sempurna untuk mencegah terbentuknya radikal bebas yang bersifat karsinogenik. Karbon aktif memiliki sifat adsorpsi yang menarik komponen kimia di sekitarnya. Saya pernah menggunakannya untuk menyerap gas etilen dan uap air yang membuat buah cepat matang. Oleh karena itu karbon aktif dikenal sebagai senyawa yang bisa mendetoksifikasi racun dalam tubuh, dan biasa dipakai dalam obat seperti Norit dan New Diatabs yang kita tahu warnanya hitam.

“Dit, tapi karbon aktif bukannya menghambat penyerapan nutrisi ya?”

Dalam skala tertentu iya, tapi oleh beberapa media (baca Yakitate! Japan) sifat ini dimanfaatkan mereka yang juga mau diet. Sehingga asupan nutrisi ke tubuh bisa lebih sedikit dari biasanya. Yak, detoksifikasi dan penakar nutrisi. Menarik bukan?

Soal rasa? Nope… gak pahit! Rasanya… ya kayak roti. Cuma dia memberi tekstur rada rapuh (brittle) dan crunchy di roti dan sosisnya. Ini yang membuatnya unik!

Ast - Black Hotdog (1)

Black Hot Dog.

Soal harga? Untuk 1 hot dog ini, kita hanya perlu Rp 55.000,00 nett! Jadi, ga usah banyak cingcong! Ayo ke sana!

AW’s Rating: √√√√√ (full score!)

—-

SAFFRON RESTAURANT – HOTEL GRAND ASTON YOGYAKARTA (Class: 5 Stars)

Jl. Urip Sumoharjo no. 37, Yogyakarta. Reservation Phone: +62 274 566 999.

Hotel Twitter: @grandastonjogja. Hotel Link: click

Hot Dog Price: Rp 55.000,00 nett (kayaknya udah sama tax)

Foursquare: Saffron/Aston Yogya

Notes: Cek via telepon kalo mau ke sini… takutnya sold out!

-AW-


Gudeg Ceker Sedep Raos, Yogyakarta

Yogya adalah kota atau bahkan propinsi yang terkenal dengan salah satu makanan terenak di dunia, gudeg. Cukup sama dengan rendang dari Padang, gudeg melibatkan pembuatan yang berproses, butuh ketelatenan dan kesabaran dalam pembuatannya karena bisa semalam suntuk atau seharian (sampai 8 jam) prosesnya. Setelah setahun kuliah di kota gudeg ini, saya baru tahu kalau gudeg itu ada 2 jenis: gudeg kering dan gudeg basah. Apa bedanya? Gudeg kering… lebih kering. Nangkanya lebih kering, dan paling disiram kuah santan atau areh yang itu juga lebih pekat. Biasanya gudeg ini lebih manis, rasanya lebih tajam karena semakin keringnya makanan ini saat diproses, rasanya semakin terkonsentrasi seiring penguapan air dan aspek portabilitasnya bagus (satu bungkus di kendil tanah liat bisa bertahan 24-48 jam). Kebanyakan resto gudeg ternama jualnya yang jenis kering. Gudeg basah? Dia jelas lebih basah atau rada berkuah, dan lebih ke arah gurih. Banyak kita temui di kawasan Malioboro, Gejayan, dan Kaliurang pas pagi2 karena ini biasanya jadi menu sarapan yang asik.

Kemarin, saya main ke sebuah restoran di Gejayan, dekat pertigaan Jembatan Merah, yang bernama Gudeg Ceker Sedep Raos. Restoran ini menjual gudeg jenis basah.

Gudeg Ceker Sedep Raos (1) Gudeg Ceker Sedep Raos (2)

Pemandangan ruang makannya.

Gudeg Ceker Sedep Raos (3)

Meja gudeg.

Gudeg di sini, terkenal dengan cekernya (sesuai namanya… buat yang ga tau, ceker itu kaki ayam). Sementara selain gudeg juga ada ayam goreng kremes. Jadi kemudian kemaren saya memesan 1 porsi gudeg, pake paha atas, dan sambel krecek.

GC - Nasi Gudeg Basah

Nasi Gudeg…

GC - Gudeg Basah

…porsi ekstra. Hehehe…

Saya udah lama makan gudeg (di nangkanya) dan buat saya parameter rasa itu ada di tekstur nangka, rasa nangka keseluruhan, kemanisan nangka, kemanisan areh, dan keseimbangan di antara keduanya. Poin ekstra, rasa daging (daging ayam, ceker, dll) sama rasa sambel kreceknya.

Di sini… rasa manis gula di nangka ga kerasa, di lidah normal mungkin rasanya agak datar dan diimbangi oleh areh, tapi sukanya, saya tuh ngerasa rasa manis alami si nangka kalo kita kunyah pelan2. Ini surga banget. Tempe di sambel kreceknya, santannya kerasa banget dan pas kreceknya digigit, kuahnya merembes dan “say hello” ke mulut! Rasa ayamnya juga joss banget lah! Manis dan gurihnya pas ketika dimakan bareng sama gudeg nangkanya.

Terus saya pesan ini:

GC - Ayam Kremes

Ayam Kremes.

Di kunjungan terakhir, ayam yang saya makan enak, luarnya kering, dalamnya empuk, dan kremesnya gurih walau rada keasinan. Mungkin makan ini emang harus digigit bersama2 sama ayamnya atau pake nasi (iya, kremesnya ada banyak yang saya makan terakhir2). Ayam kremes ini dsajikan juga sama sambal bawang dan terasi. Saya secara personal lebih suka yang bawang karena rasanya yang khas dan nano2 pedasnya karena yang terasi lebih ke pedas cabe aja.

GC - Sambel Bawang & Terasi

Kiri sambal bawang, kanan sambal terasi.

Untuk minum, saya pesan Wedang Secang (kayu secang adalah kayu berwarna oranye yang memberi rasa manis yang khas dan banyak di minuman di area Yogya) buat yang hangat dan Blue Lemon Squash buat yang dingin.

GC - Wedang Uwuh

Wedang Uwuh.

GC - Blue Lemon Squash

Blue Lemon Squash (itu bawah gulanya belum diaduk).

Jadi, kepikiran makan siang sambil neduh hujan2 atau laper mau makan malem? Monggo mas, mbak, silahkan melipir ke sini! Aksesnya enak karena dekat ke arah perempatan Ring Road Utara arah Terminal Condong Catur. Buat yang bingung, tempat ini dulu di Seturan dan sekarang pindah ke sini.

AW’s Rating: √√√√½ (4.5 dari 5, udah oke, tapi ayo lebih totalitas lagi)

——

GUDEG CEKER SEDEP RAOS

Jl. Afandi (Gejayan) no. 30, Yogyakarta. Ph: +6274 745 6715 (bisa delivery). Twitter: @GudegCeker_SR

Jam Buka:

Tiap Hari: 07:00 AM – 23:30 PM

Jangkauan Harga:

Makanan: Rp 2.000,00 – Rp 28.000,00 (kalau sama paket up to Rp 110.000,00)

Minuman: Rp 2.500,00 – Rp 10.000,00

Foursquare: Klik

Tips: Enak buat sarapan!

-AW-


Buffet: Saffron Restaurant – Grand Aston Yogyakarta

Saya ke sini dengan reservasi bersama teman2 dari Couchsurfing Yogya dengan yang ikut sekitar 20-25an orang untuk berbuka puasa bersama. Grand Aston membuka buffet untuk waktu buka puasa sampai makan malam di bulan suci ini (Ramadhan 1434 H/Juli 2014 M). Yang saya suka dari restoran Saffron ini adalah suasananya romantis, atmosfer elegan-semi modernistik (marmer, kaca) dan semacamnya. Ditambah, scent aromaterapi yang saya sangat suka ketika masuk dari lobby.

Aston (1)

Menu yang ditawarkan gak main2 dengan membayar Rp 99 ribu. Ternyata dengan biaya tersebut, saya searasa dibawa tur makanan keliling dunia!

Dari kursi outdoor, saya sudah bisa melihat deretan Mongolian BBQ, Shawarma, dan Grilled Chicken. Masuk pintu kaca, menoleh ke kiri ada snack ringan

Aston - Shawarma

(Gyro) Shawarma.

Aston - Mongolian BBQ

Mongolian BBQ.

Sudah lama banget saya gak makan Shawarma dengan ayam yang benar2 segar (ga cincang kayak yang di piggir jalan). Roti pita, bawang, selada, dan ayam yang dimasak khusus dengan yoghurt bawang dan herba sehingga rasanya enteng tapi khas (gak tajam kayak ayam kari India). Ayam ini diiris dan dimakan seperti sandwich di roti pita. Nyamm~

Mongolian BBQ di sini porsinya gak main2 dengan rasanya yang nendang plus sayuran dengan konsistensi yang pas! Enak banget kalau dimakan pake nasi.

Masuk pintu, sebelah kiri ada makanan Asia Selatan. Ada Nasi Biryani, Kari Ayam, Roti Pita, Roti Pratta, dan Mandi yang digulung dengan pastry.

Aston - Mid East

Sayuran dan Roti Pita.

Aston - My Meal

Maaf saya keburu lapar… searah jarum jam dari atas: Mandi Ayam, Roti Pratta, Kari Ayam, Roti Pita, Middle Eastern Vegetables.

Mandi berisi daging ayam yang dimasak dengan daun ketumbar dan bahan2 lainnya ini adalah favorit saya sejauh ini! Sensasi Timur Tengah dengan rasa yang mild tapi gak hambar… apa ya… rasa herba yang mantab. Kari ayam nya juga enak! Ayamnya sudah disuwir2, jadi dimakan sama roti2 itu bakal pas! Saya emang suka banget makan makanan berempah khas Asia Selatan ini!

Aston - Roasted Chicken

Grilled Chicken.

Di area lain ke arah lobby ada makanan Indonesia… perkedel kentang, ayam goreng, dan yang lainnya. Di sisi lain (terjauh) ada Grilled Chicken dengan pilihan saus tomat, saus BBQ, dan sambal. Ayamnya sendiri rasanya agak tawar, jadi saya pikir saus ini ada untuk menyeimbanginya. Kemudian ada satu makanan yang cukup catchy di sini…

Aston - Spaghetti Kuah

Spaghetti Kuah.

Spaghetti dengan kuah tomat, brokoli, kol, dan… taburan kacang. Disebutkan di sini, ini adalah racikan terbaru chef di Saffron ini. Rasanya cukup ajaib… bayangin makan sup tomat, ada spaghetti nya (mungkin biasanya kita kalo gini pakai mie) yang al dente (dalamnya masih agak keras), dan taburan kacang tanah. Taburan kacangnya yang unik sih… ini serasa makan spaghetti versi Indo.

Mari kita ke sini lainnya. Arah lain dari pintu ada makanan ringan area Mediterrania dengan saus khas Levantine (selatan Turki, Palestina, Israel, Yordania, hingga utara dari Arab Saudi).

Aston - Mushroom, Pizza, Kebab

Kebab, Jamur Tiram Goreng, dan Pizza (atas).

Aston - Babaganush, Apricot, Tahini

Saus khas daerah Levantine: Babaganush (Baba Ghanush) dan Black Sesame Tahini, dan Aprikot-Kismis.

Yang seru adalah saya mencoba saus2 ini dengan roti pita. Babaganush adalah saus dari minyak zaitun, bawang putih, dan bahan utamanya… terong/aubergine. Gurih! Kemudian Tahini rasanya agak hambar… cuma kalau dimakan, lama kelamaan akan terasa manis.

Aston - Salads

Area segar: Potato Salad, Asinan Bogor, Fruit Salad.

Di meja sebelahnya ada salad seperti yang disebut di atas dan sushi. Di seberangnya…

Aston - Zupa Kolak

Zupa Kolak.

Mungkin ga kebayang oleh kita kalo kita makan kolak isi pisang dan lain2 dengan pastry di atasnya seperti zupa soup. Yak! Di sinilah kita bisa nyoba yang satu ini!

Menu andalan di buffet ini (yang saya lupa ambil gambarnya) adalah: IGA! Ada Iga bakar, Iga Lada Hitam, dan Iga Goreng! Wah ini pas banget buat para karnivora!

Beuh… gila lah… saya kenyang dan puas. Makanan sangat bervariasi, ada wifi, terlepas dari ramainya tempat ini (apalagi ada tim sukses salah satu calon presiden yang buat heboh pihak manager dari Aston gara2 masalah reservasi… oi, jadi artis, reserve tempat aja napa, ga usah nunggu dipesenin!) saya suka nyantai di sini!

AW’s Place Rating: √√√√ (4 dari 5… agak sempit, tapi oke lah)

AW’s Service Rating: √√√√ (4 dari 5… para waiter ngambil piringnya kecepetan)

AW’s Food Rating: √√√√√ (penuh… perut saya bahagia di sini!)

—-

SAFFRON RESTAURANT – HOTEL GRAND ASTON YOGYAKARTA (Class: 5 Stars)

Jl. Urip Sumoharjo no. 37, Yogyakarta. Reservation Phone: +62 274 566 999.

Hotel Twitter: @grandastonjogja. Hotel Link: click

Buffet Price: Rp 99.000,00/pax

Foursquare: Saffron/Aston Yogya

Notes: Datang jam 5 biar ga keramaian!

-AW-


K99 Curry House, Bandung

Kali ini saya mau sedikit mengulas kunjungan iseng saya ke Bandung.

Hari Kamis (06 Februari 2014) pagi, saya baru tiba di Bandung setelah perjalanan naik kereta api. Pagi itu, saya langsung ke kosannya Radian. Tidur…

Sesadarnya (baca: Sebangunnya) saya baru ingat bahwa semua orang nampaknya hari ini sedang sibuk. Radian… kuliah sampai sore, Yunda juga… TERUS SAYA MAU APA SEHARIAN?? Hiks… Oke, tenang… tenang Dit… Maka muncul sebuah ide gila yang saya sendiri sebut Adit’s Day Out pada hari itu. Jalan sendiri ke tempat yang nampaknya hanya harus saya sendiri untuk kunjungi, ntah karena momen nostalgia, atau faktor mobilisasi yang lebih efisien… atau karena uang yang dikeluarkan. Maka, saya pun pergi ke restoran India, K99 Curry House.

Sebenarnya tempat ini bukanlah tempat baru untuk saya. Mengapa? 3 tahun lalu, ketika tempat ini baru buka dan masih bernuansa “warung” ketimbang restoran India seperti sekarang, plus masih ada di Pasteur, saya sering berkunjung… begitu juga teman2 saya. Yang sangat… sangat… sangat… legendaris dari tempat ini adalah kemampuan pesan antar/delivery nya yang… SANGAT BAIK. Mbak Kartika, sang manajer (iya kan ya) tempat ini, bilang bahwa area pesan bahkan sampai daerah Jatinangor yang ada di sisi lain Bandung. Oke, ini baiknya keterlaluan. Mengetahui ini, saya pun cerita ke teman2 saya dan mereka pun senang juga dengan tempat ini. Makanan2 di sini secara pribadi merupakan comfort food buat saya, seiring saya tugas akhir, sibuk, bosan di kosan pada tahun terakhir kuliah, bahkan ketika saya patah hati pun, saya ga ragu memesan kari dhal, naan, dan ayam tandoori dari sini… oke, maaf curcol. Selulusnya saya dari ITB, saya pergi dari Bandung… dan saya sejujurnya kangen dengan tempat ini. Kangen dengan makanan2, dan cerita dengan sang “uncle” di sini yang merupakan chef tapi beliau adalah konsultan di sini tentang bagaimana dulu ia mulai masak di Inggris dan Perancis, namun banting setir dengan pengetahuan Ayurveda mengenai makanan2 sehat dari India. Cerita2 dan pengetahuan beliaulah yang juga membuat saya bisa menilai makanan2 India seperti yang mungkin Anda pernah baca di artikel2 sebelumnya. Yah, sebuah perjalanan panjang. Satu hal, saya bahkan belum tahu nama “sang uncle konsultan” itu hingga kunjungan ini terjadi.

Tiga tahun…

Pagi itu, tibalah saya di restoran K99 ini yang berlokasi di Jalan Dr. Rajiman, Bandung. Pas saya melangkah, saya cuma bisa senyum, melihat perubahan tempat ini dari dulu yang kecil, dan sekarang jadi besar.

K99

Namaste!

Sekarang tempat ini bukan tempat kecil di pinggir jalan lagi seperti dulu, K99 Curry House merupakan restoran yang berfungsi penuh, dengan konsep kebudayaan India Selatan. Restoran ini sekarang memiliki beberapa segmen2 area yang terdiri atas: outdoor garden, outdoor, cafe, dan indoor.

K99- Garden 2  K99- Garden 1

Outdoor Garden.

K99 - Outdoor  K99 - Indoor 2

Outdoor

K99 - Indoor

Indoor

K99 - Cafe

Cafe

Outdoor area di sini terbagi atas yang biasa dan yang bernuansa taman. Yang biasa… yah… dengan atap dengan bangku biasa, dan yang taman, maka Anda akan makan dikelilingi tanaman termasuk tanaman pisang2an (Heliconia sp). Indoor… yah… dalam ruangan. Cafe, tempat ini agak berkesan bistro, namun dengan sentuhan India.

Walaupun kemampuan saya buat mengenal wajah itu suka berantakan, saya masih ingat wajah “Sang Uncle Konsultan” itu dan Mbak Kartika… dan hari itu… mereka ada semua… dan ingat saya! Kami pun langsung banyak cerita setelah saya membagikan kartu nama saya kepada mereka (dan menunjukkan bahwa saya sekarang jadi food blogger), dan saya juga memesan beberapa makanan. Untuk minuman pembuka, saya memesan Rosemilk atau yang di Singapura disebut Bandung.

K99 - Rosemilk

Rosemilk.

Sambil menyeruput manisnya Rosemilk, saya pun ngobrol2 lagi dengan sang uncle. Beliau membahas soal perbedaan kultur India Utara dan Selatan, termasuk dalam sisi kulinernya. Beliau juga membahas perubahan konsep restoran dari awal terbentuk hingga sekarang. Dulu K99 lahir dan masih semacam dalam trial run dengan beberapa makanan yang masih melewati “pengujian” dan sortir. Maksudnya? Disediakan makanan banyak, konsumen yang memesan, nanti akan terlihat mana yang menjadi selera lokal dan kemudian dipilih untuk dijadikan makanan di menu permanen.

Pesanan pertama saya? Ayam tandoori, satu set dengan naan, plus nasi biryani.

K99 - Tandoori Naan Set

Chicken Tandoori Set.

K99 - TN Mint Chutney   K99 - TN Northern Dhal Curry  K99 - TN Chicken Curry Broth

Kuah/Saus tambahannya: Mint chutney (hijau), Northern Indian Dhal Curry (kuning), Chicken Curry Broth (oranye).

K99 - Biryani

Plain Biryani Rice (w/ Papadam Crackers)

Ayam tandoori dimasak dalam periode 24 jam dan melewati perendaman semalam penuh dengan minimal 8-14 macam rempah2 khas India. Pemasakannya dilakukan di oven tanah liat yang juga buat memasak naan yang disebut tandoor. Rasa ayam tandoori di sini luar biasa. Rasanya meresap total, asinnya pas, dan ga berminyak karena memasaknya dengan dipanggang. Dengan kata lain, sehat. Kerennya lagi, pas bagian sendi dibuka, tidak ada noda darah… As the uncle said,

“This is what you called a cooking precision!”

Satu kata, sempurna.

Saya personal suka makan tandoori dengan biryani. Kuah favorit saya itu kuah kari. Pembelajaran unik buat saya adalah soal Dhal Curry. Di platter ini saya duberuikan versi India Utara yang rasanya lebih datar dan lebih hambar. Kemudian saya diberikan versi India Selatan yang lebih berempah. Luar biasa.

Mint chutney… saya sudah membahasnya cukup sering di blog ini karena ini nampaknya merupakan kuah celupan yang sangat umum di makanan India. Yoghurt dan daun mint dihaluskan… dan jadilah ini…

Pesanan kedua dan merupakan rekomendasi… Masala Butter Chicken.

K99 - Butter Chicken Masala 2  K99 - Butter Chicken Masala 1

Masala Butter Chicken

Masala atau Garam Masala merupakan istilah India buat kombinasi rempah2 yang digunakan untuk masak. Bumbu2 ini terkenal dengan nilai plus untuk kesehatannya, dan dalam penggunaannya biasa menggunakan adas, kapulaga, biji anise, dan lain2… jumlahnya cukup bervariasi. Masala Butter Chicken ini sejujurnya sangat addicting buat saya. Buat orang yang ga terlalu kuat sama pedas, rasanya cenderung mild… tapi nuansa rempah2nya dapat sekali! Potongan ayamnya yang lunak berpadu bumbu… Nyammm… oke… aduh saya haus… 1 teh tarik!

K99 - Ice Teh Tarik

Ini tentu bukan yang bakal Anda dapatkan, ini tinggal setengah karena saya terlalu menikmati sebelum saya sempat potret…

Teh tarik merupakan minuman yang digemari di kawasan Sumatera-Malaysia-Singapura. Teh, susu, rempah seperti biji anise dan kayu manis, lalu disajikan dengan “ditarik” di dapur hingga berbuih. Favorit saya ketika saya makan di restoran Aceh atau India-Malaysia.

Satu rekomendasi lagi dari K99… Paneer Pakkora…

K99 - Paneer Pakhora  K99 - Paneer Pakhora - Bit

Paneer Pakkora (kiri: utuh, dengan mint chutney, kanan: baru saya gigit).

Paneer merupakan keju khas India yang biasa dibuat secara sederhana oleh penduduk lokal dari susu sapi atau kerbau. Rasanya hambar dan cita rasanya agak kenyal seperti perpaduan kue spons dan tahu. Bisa dimasak menjadi kari, atau seperti yang satu ini… digoreng dengan tepung kacang lentil dan rempah menjadi Pakkora. Rasanya enteng, pas buat snack kalau nunggu teman atau buat makanan pembuka. Rasa kuat nya muncul dari chutney yang asam.

Saya kenyang… banget… Tapi kunjungan hari ini sangat bernilai buat saya. Melihat dengan mata kepala saya sendiri perkembangan tempat ini itu merupakan nilai tersendiri buat saya, heartwarming thing is… the uncle finally revealed his name and his identity as food critique as well! Tapi saya menghormati beliau karena nampaknya beliau tidak mau namanya di-publish.

Sebenarnya, kalau saya boleh kritik… cuma satu yang sampai sekarang masih kurang: Mesin debit/kredit bank! Karena kalau kemaren saya gak diijinkan buat bayar via transfer (maaf, ini kasus spesial… Anda ga boleh niru!), saya bakal jalan cukup jauh ke ATM terdekat!

Saya… gak bisa… ga ngasih nilai penuh buat restoran ini sekarang. Saya belajar tentang makanan India di sini, dan mendengar cerita bahwa seorang mahasiswi ITB, Arini Annisa membuat gambar tentang kultur India di sini yang membawanya untuk lulus, saya cuma sekali lagi bisa angkat topi buat tempat ini… buat Rini… dan buat mereka yang memajangnya di dinding dengan lampu sorot khusus demi mahakarya lukisan tadi!

Thanks uncle and Kartika for the recommended meals and the special story for every time of my visit! I can’t wait for the next visit, but I’m sorry last Saturday I couldn’t make it for visit because I had another plan…

AW’s Rating: √√√√√ (5 of 5, full score)

K99 CURRY HOUSE

Jl. Dr. Rajiman no. 29, Bandung. Ph: +62 22 91260321, Twitter: @K99CurryHouse

Price Range:

Food: Rp 6.000,00 – Rp 55.000,00 (6k for rice, 55 for set)

Beverage: Rp 4.000,00 – Rp 18.000,00

Opening Hours: 11 AM – 10 PM

Foursquare: (click)

Tips: Nikmati waktu malam minggu Anda untuk berkumpul di sini dengan keluarga, teman2, atau… yah… dengan pacar/gebetan ke sini buat makan!

Tambahan: Tempat ini pas buat makan kilat, atau makan lama…

-AW-


Wisata Kuliner: Mencari Cemilan di Solo

Hari Sabtu (19 Oktober 2013), saya dan teman saya Joko pergi ke Solo untuk menyusuri kota di mana makanan2nya punya keunikan tersendiri (dari yang saya ketahui ya). Bagaimana tidak? Cek ini:

  1. Sosis Solo. Bentuknya gak kayak sosis, tapi kayak risoles.
  2. Serabi Solo. Bentuknya gak kayak serabi, tapi kayak kue ape.
  3. Selat Solo (Selat awal katanya dari ‘Salad’). Bentuknya gak kayak salad, tapi kayak bistik kuah.

Ya itu deh. Alhasil, kami pun melesat dari Yogyakarta jam 8 pagi dengan persiapan seadanya. Joko bahkan ga bawa tas, cuma bawa jaket. Saya? Tas isi charger, jaket, tas kamera, dan botol minum.

Pagi ini teriknya minta ampun. Melihat sebuah aplikasi cuaca di HP saya, saya cukup kaget. Cuaca kering, tingkat indeks radiasi ultra violet hari ini sangat tinggi (skala 9-12, 9 itu sangat tinggi, dan di atas 10 itu ekstrim).

Joko: Lo ga pake jaket? Kulit lo kebakar ntar.

Saya: Udah… cuek aja kalo kulit sih…

Cekaman pagi ini akibat cuaca cukup ekstrim. Panas, ditambah perjalanan 2 jam di jalan naik motor. Pantat rasanya super pegal. Di tengah jalan, kami stop sesaat di sebuah toko untuk beli minum untuk 15 menit dan jalan lagi. Tibalah kami di pinggiran Surakarta atau Solo jam 11 siang lewat.

Konyolnya setelah kami tiba di jalanan utama Solo, Jalan Slamet Riyadi, baru kepikiran sesuatu:

“Kita mau ke mana sih sebenernya?”

Untungnya, ada teknologi yang namanya Facebook dan Foursquare. Facebook, di saat yang pas ini, teman saya dan adek kelas saya Gagas bilang:

“Kakak harus pergi ke restoran Kusuma Sari.. Most recomended.”

Saya pun ga ada ide itu restoran apa awalnya, ngecek di Foursquare, ternyata tempatnya gak jauh. Udah, yang penting ngadem dulu. PANAS!

Jalan di sepanjang Jalan Slamet Riyadi bagian kota, kita bisa ngeliat ada trem di sebelah kanan (ga usah jauh2 ke Eropa bro kalo mau liat trem), pepohonan di kanan-kiri, dan begitu ke arah kota, kita bakal mulai ngeliat penjual serabi gerobak berjualan di sisi kanan-kiri (kemaren liatnya di kiri aja sih). Kami awalnya pengen berhenti, cuma kayaknya mending nyobain langsung di lokasi utamanya deh, biar seru!

Oke, tibalah kami di Kusuma Sari.

Kusuma Sari - Sign

Pelang tempat nya cukup kecil, dari Jalan Slamet Riyadi masuk Jalan Yos Sudarso belok kanan langsung nengok kanan.

Kusuma Sari - Exterior

Pintu masuknya.

Tempatnya nyaman, apalagi buat kita yang pengen santai abis perjalanan jauh atau mau ngobrol2 sejenak. Harga makanannya? Bisa dibilang murah! Kita bisa killing time di sini dengan makan kroket. Andalan mereka, ada kroket mayonaise. Kroket kentang tumbuk yang lembut dengan ayam, pakai tepung panir, digoreng, dan disajikan dengan mayo manis yang nampaknya buatan asli dari sini.

Kusuma Sari - Mini Kroket & Kroket Mayonaise

(Belakang) Kroket Mayonaise, (Depan) Kroket Mini.

Andalan lain tempat ini? Es krimnya! Dari yang saya cicipi, nampaknya mereka membuat sendiri es krim di tempat ini karena rasanya beda dan saya belum pernah mencicipi rasa ini dari brand lain.

Kusuma Sari - Vanilla Ice Cream Kusuma Sari - Kopyor Ice Cream

Es Krim Vanilla, dan Kopyor Sundae.

Di sini juga tersedia menu makan yang agak berat seperti salad, sup dan steak. Lalu, saya memesan Selat Solo.

Kusuma Sari - Selat Solo

Oh ini yang namanya ‘Selat Solo’

Selat Solo, konon awalnya dari kata “Salad” dan masakan ini berawal dari jaman di mana ada pengaruh Eropa di sini. Dari steak (atau sebut aja bistik), jadilah Selat Solo ini. Kita lihat aja, ada kentang goreng, wortel, buncis, tomat, telur, mustard/mayo, keripik kentang, dan irisan daging sapi tipis, semua di dalam kuah. Secara konsep, mirip steak kan?

Akhirnya kami beranjak ke Jalan Mohammad Yamin gak terlalu jauh dari situ. Ada cemilan lagi yang SANGAT terkenal di Solo: Serabi Notosuman! Lebih epic lagi, di sekitar tempat ini banyak cemilan lainnya. Ada Leker Notosuman dan Ayam Goreng Ragi di seberang tempat serabi.

Serabi Notosuman - Stoves Serabi Notosuman - Products Serabi Notosuman

Inilah Serabi Notosuman yang terkenal itu!

Ummm… soal hubungan serabi ini dengan surabi di kawasan Jawa Barat dan kenapa beda, ntah… saya belum menemukan jawabannya. Yang mana yang duluan dan mana yang merupakan produk adaptasi. Satu hal yang saya tau: Enak!

Serabi Notosuman menyediakan 2 rasa: Rasa polos (putih) dan coklat. Berupa serabi segar (bentuk seperti kue ape disajikan di atas wadah anyaman bambu) dan serabi gulung (siap dibawa ke-mana2, tapi umur cuma 24 jam; menyimpan lebih dari itu? percaya sama saya… Anda gak mau ngelakuin itu, karena punya saya langsung berubah rasanya). Di tempat ini dijual minuman botolan dingin, dan jajanan pasar lainnya seperti Sosis Solo.

Sosis Solo - Whole Sosis Solo - Bitten

Kayak risoles kan?

Sambil makan, saya mikir. Mungkin asal-usul nama sosis ini karena daging cincang, dibungkus sesuatu. Mungkin ketimbang menggunakan usus atau apa yang lebih ribet, digunain adonan tepung kulit risoles, dan jadilah Sosis Solo. Ya gak sih?

Di tahap setelah ini, Joko sudah tidak ikut makan karena kekenyangan.

Di depan tempat ini, ada Leker Notosuman. Saya pun menyapa sang bapak penjual kue ini yang sangat bersahabat. Kue leker di Solo ini berbeda dengan kue leker di Jakarta yang dibuat dengan loyang berputar, mereka menggunakan loyang yang mirip dengan serabi, cuma adonan hanya dituang sedikit dan hasilnya pun adalah adonan kulit yang renyah dengan isian yang nikmat!

Leker Notosuman - Stoves Leker Notosuman - Cooking Leker Notosuman

Kue Leker Notosuman.

Kue leker di sini ada berbagai macam pilihan rasa: Pisang coklat yang paling laris, coklat, pisang coklat keju, dan coklat keju. Saya yang juga mulai kekenyangan pun memesan yang pisang coklat saja. Rasanya renyah, manis, dan pisangnya masih harum. Mmmm… *kraus*

Saya sudah kenyang, tapi demi mencoba makanan baru, saya pun pergi ke sebelah kios kue leker. Ada kios ayam goreng ragi. Digoreng dengan minyak, di atas kompor anglo dengan bahan bakar kayu. Saya sebetulnya kurang tau ini makanan dari Solo juga kah? Saya pun beli satu dan bertanya…

Saya: Bu, kenapa namanya ayam ragi ya? Pakai ragi?

Ibu penjual: Karena pakai kelapa…

Saya: *terdiam* Oke bu…

Mungkin karena kelapa parut goreng bentuknya kayak ragi bubuk.

Ayam Goreng Ragi Notosuman - Stove Ayam Goreng Ragi Notosuman - Cooked Chicken Ayam Goreng Ragi Notosuman - Stand

Ini dia kios ayam goreng ragi.

Ayam Goreng Ragi Notosuman

Ini ayam gorengnya.

Ayam gorengnya saya beli bagian paha atas, karena ntah bagaimana bagian dada nampaknya sudah dipesan orang. Satu porsi ayam goreng bagian paha plus taburan kelapa Rp 6rb. Ayamnya enak, rasanya ga terlalu ada, rasa kuat dan asin justru muncul di kelapanya. Walaupun asin banget sih. Kayaknya emang dinetralisir dengan makan pakai nasi.

Beres makan ayam, saya mencari tahu soal tempat pembuatan Sosis Solo dan pusat Selat Solo. Selat Solo… kami skip karena udah kelewat kenyang. Mencoba mencari2 tempat pembuatan Sosis Solo, tapi sayangnya kami tidak menemukannya sama sekali.  Ah sudahlah, akhirnya kami bersiap kembali ke Yogya setelah melewati Jalan Ahmad Yani dan tidak menemukan apa2, kecuali kepanasan.

Pulang, kami checkpoint stop sebentar di masjid buat sholat, dan lanjut ke Yogya. Yang aneh adalah, kali ini pas pulang yang ada kami kehujanan. Untung kami bawa jaket. Lebih aneh lagi? Masuk area Prambanan, hujannya berhenti. Yogya kering. Aneh.

Sebelum menutup sesi jalan2 kali ini, kami beli es dawet di Es Dawet Pandawa di Prambanan. 1 gelas Rp 3rb. Segar, dan manisnya tidak lebay karena hanya sedikit gula yang ditambahkan. Dawet di sini adalah dawet putih. Beda sama kebanyakan dawet yang pernah saya coba, teksturnya kenyal dan tidak gampang patah.

Dawet Pandawa

Ini dawetnya.

Sampai Yogya… mata sudah 5 watt karena udah ngelewatin panas-hujan dan debu2 di jalan. Saya turun di kosan, dan Joko langsung balik juga ke kosannya. Saya langsung merebah… bzzzzz…

Malamnya, ada tetangga kosan saya, Mas Aqli.

Mas Aqli: Eh, kamu dari Solo juga ya tadi? Saya liat di Foursquare.

Saya: Lah, Mas Aqli juga?

MA: Iya, tadi ada seminar. Oh iya, ini ada serabi…

Saya: *gak bisa nolak serabi* Makasih ya mas!

Alhasil, berat saya naik ke 87 Kg. Untung paginya balik lagi ke 85.5 Kg. Hehehe…

Soal detail tempat:

RESTORAN KUSUMA SARI

Jl. Yos Sudarso no. 81 (baru: no. 12), Solo. Telp: +62271 656406

Jangkauan harga:

Makanan: Rp 3.000,00 – Rp 14.000,00 (tidak ada pajak)

Minuman: Rp 3.500,00 – Rp 6.000,00 (tidak ada pajak)

Es krim: Rp 6.000,00 – Rp 11.000,00, untuk ukuran besar (0.5-1 L): Rp 21.000,00 – Rp 46.000,00 (lagi… tidak ada pajak)

Pesanan hari ini:

Mini kroket: Rp 9.000,00

Kroket mayonaise: Rp 5.000,00

Selat segar: Rp 10.000,00

Kopyor sundae: Rp 7.000,00

Ice cream vanilla: Rp 6.000,00

Total:  Rp 37.000,00

SERABI NOTOSUMAN (Pusat: Solo, Cabang: Yogya, Kudus, Boyolali)

Jl. Mohammad Yamin no. 28. Solo. Telp: +62271 651852

Harga:

10 serabi putih: Rp 20.000,00

5 putih, 5 coklat: Rp 21.000,00

10 putih: Rp 22.000,00

Putih (satuan): Rp 2.000,00

Coklat (satuan): Rp 2.500,00

Sosis solo: Rp 2.500,00

Air mineral botolan: Rp 2.500,00 (pesan Joko: rasa kayak air suling/akuades di laboratorium)

LEKER NOTOSUMAN

Jl. Mohammad Yamin (seberang Serabi Notosuman). Solo. Telp: +62271 2102118

Harga:

Pisang Coklat: Rp 2.000,00

Coklat: Rp 1.700,00

Pisang Coklat Keju: Rp 3.000,00

Coklat Keju: Rp 2.500,00

AYAM GORENG RAGI NOTOSUMAN

Jl. Mohammad Yamin (seberang Serabi Notosuman). Solo.

Harga: Rp 6.000,00/porsi dengan sambal tanpa nasi.

ES DAWET PANDAWA

Di area Bogem, dekat Prambanan. Jalan ke arah Yogyakarta.

Harga: Rp 3.000.00/gelas

Pesan tambahan: Semoga lain kali ada persiapan lebih matang buat jalan2nya dan bisa lebih rame2 jadi ga ada yang namanya kekenyangan di jalan!

PS: Kalau ada referensi di mana tempat pembuatan sosis Solo, atau ada info soal tempat lagi, tulis aja di komen bawah! 🙂

-AW-