Culinary Memoirs of A Biologist Who Loves Food

Posts tagged “bandung

Midnight Snack – Perkedel Bondon, Bandung

Bandung is a artsy and full of youth spirits heaven in the West Java. Creativity and diversity of the citizens and the students of many universities in Bandung, including some of the national tops are becoming the source of the radiant light of Bandung life. And we all know, no life would be sustained without a food, a good food to be exact! Bandung is a city filled with tons of delicacies that would attract all culinary tourist to come. It’s all from the traditional ones like nasi tutug oncom, gepuk, lalab, and surabi, to uncountable modern ones.

From the late 2-3 years behind, I heard a news about a perkedel stand in Bandung that opens at 11 pm, and right before it opened, it already packed with lining up costumers!

For those who doesn’t know what perkedel is, it is a fried mashed potato, which sometimes also made of maize, mixed with leek or meat, and usually coated with egg white prior to frying it. The name might similar to frikadeller, a Danish flat meatball which might introduced during Dutch colonial period.

And about the name “Bondon”, maybe it would be inappropriate to say it out loud, but it means “prostitute”. Maybe it compared to the food because it opens at night and only localized in one place. Well, no comment about it!

Okay, back to topic! So, how the famous Perkedel Bondon looks like??

Here’s the story:

Since the place is quite far away, I decided to buy it using Go Food service and I ordered it about 11:06 pm (6 minutes late, I was overslept). Moments after the order received, this conversation happened:

Go Food: Evening, sir. I’d like to confirm, did you ordered Perkedel Bondon?

Me: Yes, I did

Go Food: Umm sir, before I proceed, I’d like to ask if you had ever buy it before?

Me: Nope, what about it?

Go Food: The line is already long and it would probably took 1 hour to the kitchen! I’d suggest if we bypass the line by bribing the parking officer so I could go straightly to the kitchen and have your order. What do you say? Let’s say we give ’em about 10000 rupiahs (a bit more than USD 1.1)

Me: Errrr, okay. But don’t take it from my Go Pay point, I’ll pay the 10000 later when you’re here

Go Food: Right away, sir

I know, bribery is bad. But I feel bad if the Go Food driver have to wait for an hour and in one hour probably I would be fell asleep since the next day I will have an important presentation.

Curious and curiouser, how good it would be since they have a queue that long??

Then, surprisingly, 20 mins later, the driver arrived. He said that he was number 16 on the line and that was even minutes after the store opened!

Now, unboxing time!

img_5762

Appearance-wise, it looks quite normal

Unlike normal perkedel, its outer surface is crunchy and sometimes there are some chopped leek. Along with the perkedels, they also provide a sauce, from its appearance, it looks like a sambal.

img_5763

Inside, it seems so fluffy and good

Okay, here goes nothing!

img_5764

With the sambal

Plainly, it tastes just flat. Very mild. I doubt that I taste any hint of pepper and salt. The flavor is straightly the potato taste and with a hint of leek. Once I dink it to the sambal, a strong shrimp flavor arise. It appears that the sambal is mixed with fermented shrimp paste (terasi or ebi, not sure), which enhances the flavor.

In the end, I’d say it is not bad. It is crunchy, hearty, and makes you full easily, but flavorwise, it just plain without the sambal and nothing else. Funny thing is, after I let it down in my room until the next morning, the flavor enhances, it becomes richer, especially in leek flavor. I don’t know if I say this: Safe it for your breakfast!

PERKEDEL BONDON

Jalan Suniaraja No.134, Bandung (near Bandung Station)

Open Hour: Everyday 11:00 pm – 03:00 am or until it all sold out

Price: IDR 2000 each piece

Note: Buy it by Go Food IN TIME, or wait in line for hours

-AW-


Volcano Pizza – Verde, Bandung

Pizza merupakan makanan Italia yang sudah sangat mendunia dan menjadi makanan favorit banyak orang, teman saya, sampai bahkan saya sendiri. Dari waktu ke waktu, variasi dari pizza sudah sangat baaaaaaaanyak sekali dari satu tempat ke tempat lain di penjuru dunia. Bahkan yang paling aneh adalah yang saya pernah baca di manga mengenai roti buatan Takashi Hashiguchi, Yakitate! Ja-Pan. (Spoiler Alert!) Di sini, tim dari sang protagonis, Azuma Kazuma, mendapatkan tantangan dalam lomba untuk membuat pizza yang bisa bertahan lama di toko roti (karena pada umumnya pizza hanya bisa didapatkan di toko pizza dan seiring waktu dan ketika pizza dibiarkan rasa pizza akan berubah menjadi lebih kering atau lembek hingga merubah tekstur topping sendiri atau rotinya, tantangan di sini adalah pizza yang bisa bertahan lama di etalase toko dan tidak berubah rasanya ketika disajikan). Ketika tim lawan membuat pizza lipat-roll untuk menyimpan kelembaban saus pizza, Kazuma menciptakan strategi lain: Membuat pizza seperti balon yang dimodifikasi! Menurut sang bos, Ken Matsushiro, ada 2 jenis pizza balon:

japan22_009

Bomber Pizza (panel bawah bagian atas), Takoyaki Pizza (panel bawah bagian bawah) (Klik untuk memperbesar) (Sumber: Yakitate! Ja-Pan ch. 193)

Seperti yang dijelaskan, pizza jenis ini memanfaatkan uap air dalam adonan yang menekan ke segala arah dari dalam saat pizza dipanggang. Pizza jenis bomber, memiliki topping yang diletakkan di sebelah atas dari roti, pizza ini untuk dimakan otomatis harus “meledakkan” si roti karena topping ada di bagian atas. Pizza jenis “takoyaki” buatan Kazuma memiliki topping di dalam pizza yang ketika dimakan nantinya akan membuat pizza seperti pizza lipat atau Calzone.

Awalnya, saya mengira ini hanya ada di luar negeri atau cuma di manga saja. Sampai kemudian saya ke Bandung, tepatnya ke Verde di kawasan Dago Atas. Menurut sang waiter di sini, Verde merupakan tempat pertama di Bandung yang memperkenalkan pizza yang disebut Volcano Pizza. Mengapa disebut “volcano” atau gunung berapi? Karena pizza ini terlihat seperti gunung yang memuntahkan api ketika disajikan. Tentunya, (ini peringatan buat yang anti-alkohol) ini disebabkan karena dituang minuman beralkohol yang disulut api (flambé). Di tempat ini, terdapat 2 jenis Volcano Pizza: Volcano Pizza (biasa), dan Rainbow Volcano Pizza.

Verde - Volcano Pizza (1)

Volcano Pizza.

Verde - Rainbow Volcano Pizza (1)

Rainbow Volcano Pizza, sebelum disulut…

Verde - Rainbow Volcano Pizza (2)

…ketika disulut…

Verde - Rainbow Volcano Pizza (3)

…ketika on fire

Verde - Rainbow Volcano Pizza (4)

…dan setelah disulut.

Ketika kita memesan, kita bebas memilih topping (sebenarnya filling karena ada di dalam), mulai dari pizza margherita (isi mozzarella dan saus tomat), dengan pepperoni, hingga dengan salmon. Setelah proses flambé, pizza ini akan dibawa lagi ke dapur dan dibelah hingga nanti akan seperti ini ketika disajikan:

Verde - Volcano Pizza (2)

Volcano Pizza…

Verde - Volcano Pizza (3)

…satu slice

Verde - Volcano Pizza (4)

…dengan isi jagung, sosis, dan paprika.

Verde - Rainbow Volcano Pizza (5)

Rainbow Volcano Pizza…

Verde - Rainbow Volcano Pizza (6)

…lebih dekat…

Verde - Rainbow Volcano Pizza (7)

…satu slice

Verde - Rainbow Volcano Pizza (8)

…isi pepperoni dan keju.

Ketika dimakan, sensasinya mirip dengan memakan Calzone, bedanya adalah “cangkang” atas pizzanya cenderung lebih renyah. Ketika dimakan, pizza bisa disajikan dengan saus tomat berempah khas Verde.

Verde - Sauce

Saus Tomat Pedas.

Terus gimana rasanya? Kombinasi isian dengan roti sudah pas, enak! Untuk isian yang saya udah coba, Pepperoni atau Salmon merupakan pilihan yang paling saya suka untuk pizza ini! Saya suka pilihan filling plus rasanya di pizza ini! Dari sisi kerenyahan roti atas, kerenyahannya bertahan  20-30 menit setelah dipotong. Saus tomat pedas dari tempat ini juga bisa memberi ambiance rasa kepada roti ketika kita sudah menggigit sampai ujung. Saus tomat ini rasanya pedas dengan sentuhan bawang dan rempah Italia yang pas dengan pizza. Hal lain adalah rasa manis dari minuman yang tersisa setelah dibakar masih terasa di roti bagian atas, menambah rasa pizza ini. Hmmm… *kraus!*

Dari kategori atraksi kuliner, pizza ini cukup bisa dikatakan menarik… sangat unik dengan “pertunjukan api” yang diberikan. Walau begitu, ada yang perlu diperhatikan yaitu 2 hal: Proporsi filling dan roti gak imbang, dan juga adalah antiklimaks. Walupun ada hal minor dalam ini juga khususnya buat Rainbow Volcano Pizza, yaitu warna-warni pizza nya membuat bingung yang makan (dari sisi penampilan). Hmmm… mungkin saran saya adalah bagaimana untuk pizza asin di Volcano Pizza biasa dan yang manis di yang Rainbow?

Maksud dari proporsi gak imbang adalah begini, ketika sebuah pizza disajikan, mau pizza sebagai menu Italia (dengan roti tipis dan topping sederhana khas Italia, contoh: Pizza Marzano) ataupun Amerika (roti tebal dengan topping berisi padat atau keju banyak, contoh: Pizza Hut atau Domino’s Pizza) ada yang disebut perbandingan atau ratio roti:topping yang saya percaya memastikan roti yang enak, dan topping yang menjadi kreasi sang juru masak di dapur tidak berlebih dan menyulitkan makanan atau merubah rasa satu sama lain. Volcano Pizza di sini isiannya bisa saya bilang agak pelit. Ketika kita menggigit roti, rasa isian kurang terasa dibanding rotinya, apalagi roti atas yang keras dan susah bersatu sama rasa isiannya. Ketika isian bersatu dengan roti, maka rasa akan tersebar dan jadi seimbang. Untuk itu mungkin sebaiknya isiannya perlu ditambah proporsinya.

Poin kedua adalah antiklimaks, dan ini tidak ada pada sajiannya, tapi pada faktor restoran dan pelayanan. Setelah pizza dibakar, sang waiter membawa pizza kembali ke dapur buat dipotong sebelum dikembalikan ke meja. Kita yang makan jadi kayak, heh? Kenapa? Karena kita mengharapkan pizza itu dengan epic-nya dipotong di atas meja dengan pisau. Ketika saya tanya kenapa ke pihak restoran, mereka bilang alasannya adalah pisaunya khusus dan ada di dapur. Kenapa ada di dapur? Kenapa ga dibawa ke meja? Alasan takut berantakan? Ya jangan sampai berantakan dong. Ini adalah makanan atraksi yang menjadi signature dari restoran, jadikan retak-hancur nya pizza ketika dipotong menjadi bagian dari atraksi. Ketika dibawa ke dapur, ini antiklimaks! Sebaiknya pemotongan dilakukan di meja, waiter belajar buat memotong dengan rapi, atau adonan atas diatur sehingga memudahkan pemotongan.

BTW, karena ini attraction meal, saya member 2 penilaian:

AW’s Rating on Flavor: √√√√ (4 dari 5, udah enak… variasinya bagus, cuma kurang BANYAKIN dikit aja karena proporsi rotinya kebanyakan, ga masalah kalo harga naik SEDIKIT)

AW’s Rating on Serving: √√ (2 dari 5, perlu perbaikan cukup banyak dalam penyajian agar bisa optimal dan membuat pelanggan bisa tertarik hingga penyantapan)

Harga: Volcano Pizza atau Rainbow Volcano Pizza – Any toppings (belum dengan pajak 10%): Rp 55.000,00

Keterangan pemesanan: BISA dipesan ditempat (tidak harus reservasi)

VERDER RESTO AND LOUNGE

Jl. Ir. H. Juanda (Dago) no. 177, Bandung. Ph: +62 22 2503005. Twitter: @verde_lounge

Foursquare: Klik

-AW-


Meat Tower – Karnivor, Bandung

Beberapa hari ini, saya lagi pengen makan daging. Apalagi sejujurnya kalau boleh curcol, setelah kamera saya Canon EOS 40D plus lensa2nya dicuri di bus Kramat Jati jurusan Yogya-Bandung. Saya jadi semacam butuh pelampiasan atas rasa sedih dan kekesalan saya.

Di malam setelah saya di Bandung, bersama teman dekat saya, Teguh, saya pergi ke restoran di daerah Jalan Riau/RE. Martadinata, Bandung yang sangat terkenal dengan menu2 berporsi raksasanya, Karnivor… dengan slogan “Let’s Meet Our Meat!”. Restoran ini terkenal dengan menu Monster Steak… tenderloin sebesar 1 Kg, Monster Sausage… sosis porsi besar, Monster Pizza… pizza raksasa (yang kapan2 mau saya coba), Jambo Wing… chicken wing porsi gila, dan Meat Tower yang saya makan ini… burger raksasa dengan total 5 patties masing2 200 g, jadi total… 1 Kg (belum termasuk berat sayur, berat basah roti plus mayo).

KA - Meat Tower (1)

Ini dia…

KA - Meat Tower (3)

Dari samping…

KA - Meat Tower (2)

Dari atas…

Roti, selada, tomat, dan mayo spesial adalah figur tambahan di menu ini (biar keliatan jadi burger). Mayo nya rasanya manis dan agak kayak tomat. Rotinya… agak gepeng. Rasa daging? Agak keras di luar, cuma empuk dan juicy di dalem. Bumbu yang kerasa adalah merica sama adas. Ini kita bisa lihat…

KA - Meat Tower (4)

Setelah dipotong…

Saya secara personal suka rasanya!

Cara makan? Bisa diiris vertikal kayak makan kebab (ini susah), bisa dimakan dengan brutal, atau kayak saya… kalo makan sama temen, diambil satu2. Saya yang jelas makan ini selama 20 menit dan habis (makan berdua). Sekali makan ini, saya kenyang sampai besok pagi…

Jadi… cukup gila kah Anda buat makan ini?

AW’s Rating: √√√√ (4 of 5, masalahnya luar dagingnya agak keras)

Harga: Rp 179.000,00 (belum termasuk pajak 15%)

Jalan Riau/RE. Martadinata no. 127, Bandung. Ph: +62 22 71031111. Twitter: @karnivoresto

Foursquare: klik

Tips: Minimal makan berdua!

Anything else: Coba makan sendiri… KALO BERANI!

-AW-

 


K99 Curry House, Bandung

Kali ini saya mau sedikit mengulas kunjungan iseng saya ke Bandung.

Hari Kamis (06 Februari 2014) pagi, saya baru tiba di Bandung setelah perjalanan naik kereta api. Pagi itu, saya langsung ke kosannya Radian. Tidur…

Sesadarnya (baca: Sebangunnya) saya baru ingat bahwa semua orang nampaknya hari ini sedang sibuk. Radian… kuliah sampai sore, Yunda juga… TERUS SAYA MAU APA SEHARIAN?? Hiks… Oke, tenang… tenang Dit… Maka muncul sebuah ide gila yang saya sendiri sebut Adit’s Day Out pada hari itu. Jalan sendiri ke tempat yang nampaknya hanya harus saya sendiri untuk kunjungi, ntah karena momen nostalgia, atau faktor mobilisasi yang lebih efisien… atau karena uang yang dikeluarkan. Maka, saya pun pergi ke restoran India, K99 Curry House.

Sebenarnya tempat ini bukanlah tempat baru untuk saya. Mengapa? 3 tahun lalu, ketika tempat ini baru buka dan masih bernuansa “warung” ketimbang restoran India seperti sekarang, plus masih ada di Pasteur, saya sering berkunjung… begitu juga teman2 saya. Yang sangat… sangat… sangat… legendaris dari tempat ini adalah kemampuan pesan antar/delivery nya yang… SANGAT BAIK. Mbak Kartika, sang manajer (iya kan ya) tempat ini, bilang bahwa area pesan bahkan sampai daerah Jatinangor yang ada di sisi lain Bandung. Oke, ini baiknya keterlaluan. Mengetahui ini, saya pun cerita ke teman2 saya dan mereka pun senang juga dengan tempat ini. Makanan2 di sini secara pribadi merupakan comfort food buat saya, seiring saya tugas akhir, sibuk, bosan di kosan pada tahun terakhir kuliah, bahkan ketika saya patah hati pun, saya ga ragu memesan kari dhal, naan, dan ayam tandoori dari sini… oke, maaf curcol. Selulusnya saya dari ITB, saya pergi dari Bandung… dan saya sejujurnya kangen dengan tempat ini. Kangen dengan makanan2, dan cerita dengan sang “uncle” di sini yang merupakan chef tapi beliau adalah konsultan di sini tentang bagaimana dulu ia mulai masak di Inggris dan Perancis, namun banting setir dengan pengetahuan Ayurveda mengenai makanan2 sehat dari India. Cerita2 dan pengetahuan beliaulah yang juga membuat saya bisa menilai makanan2 India seperti yang mungkin Anda pernah baca di artikel2 sebelumnya. Yah, sebuah perjalanan panjang. Satu hal, saya bahkan belum tahu nama “sang uncle konsultan” itu hingga kunjungan ini terjadi.

Tiga tahun…

Pagi itu, tibalah saya di restoran K99 ini yang berlokasi di Jalan Dr. Rajiman, Bandung. Pas saya melangkah, saya cuma bisa senyum, melihat perubahan tempat ini dari dulu yang kecil, dan sekarang jadi besar.

K99

Namaste!

Sekarang tempat ini bukan tempat kecil di pinggir jalan lagi seperti dulu, K99 Curry House merupakan restoran yang berfungsi penuh, dengan konsep kebudayaan India Selatan. Restoran ini sekarang memiliki beberapa segmen2 area yang terdiri atas: outdoor garden, outdoor, cafe, dan indoor.

K99- Garden 2  K99- Garden 1

Outdoor Garden.

K99 - Outdoor  K99 - Indoor 2

Outdoor

K99 - Indoor

Indoor

K99 - Cafe

Cafe

Outdoor area di sini terbagi atas yang biasa dan yang bernuansa taman. Yang biasa… yah… dengan atap dengan bangku biasa, dan yang taman, maka Anda akan makan dikelilingi tanaman termasuk tanaman pisang2an (Heliconia sp). Indoor… yah… dalam ruangan. Cafe, tempat ini agak berkesan bistro, namun dengan sentuhan India.

Walaupun kemampuan saya buat mengenal wajah itu suka berantakan, saya masih ingat wajah “Sang Uncle Konsultan” itu dan Mbak Kartika… dan hari itu… mereka ada semua… dan ingat saya! Kami pun langsung banyak cerita setelah saya membagikan kartu nama saya kepada mereka (dan menunjukkan bahwa saya sekarang jadi food blogger), dan saya juga memesan beberapa makanan. Untuk minuman pembuka, saya memesan Rosemilk atau yang di Singapura disebut Bandung.

K99 - Rosemilk

Rosemilk.

Sambil menyeruput manisnya Rosemilk, saya pun ngobrol2 lagi dengan sang uncle. Beliau membahas soal perbedaan kultur India Utara dan Selatan, termasuk dalam sisi kulinernya. Beliau juga membahas perubahan konsep restoran dari awal terbentuk hingga sekarang. Dulu K99 lahir dan masih semacam dalam trial run dengan beberapa makanan yang masih melewati “pengujian” dan sortir. Maksudnya? Disediakan makanan banyak, konsumen yang memesan, nanti akan terlihat mana yang menjadi selera lokal dan kemudian dipilih untuk dijadikan makanan di menu permanen.

Pesanan pertama saya? Ayam tandoori, satu set dengan naan, plus nasi biryani.

K99 - Tandoori Naan Set

Chicken Tandoori Set.

K99 - TN Mint Chutney   K99 - TN Northern Dhal Curry  K99 - TN Chicken Curry Broth

Kuah/Saus tambahannya: Mint chutney (hijau), Northern Indian Dhal Curry (kuning), Chicken Curry Broth (oranye).

K99 - Biryani

Plain Biryani Rice (w/ Papadam Crackers)

Ayam tandoori dimasak dalam periode 24 jam dan melewati perendaman semalam penuh dengan minimal 8-14 macam rempah2 khas India. Pemasakannya dilakukan di oven tanah liat yang juga buat memasak naan yang disebut tandoor. Rasa ayam tandoori di sini luar biasa. Rasanya meresap total, asinnya pas, dan ga berminyak karena memasaknya dengan dipanggang. Dengan kata lain, sehat. Kerennya lagi, pas bagian sendi dibuka, tidak ada noda darah… As the uncle said,

“This is what you called a cooking precision!”

Satu kata, sempurna.

Saya personal suka makan tandoori dengan biryani. Kuah favorit saya itu kuah kari. Pembelajaran unik buat saya adalah soal Dhal Curry. Di platter ini saya duberuikan versi India Utara yang rasanya lebih datar dan lebih hambar. Kemudian saya diberikan versi India Selatan yang lebih berempah. Luar biasa.

Mint chutney… saya sudah membahasnya cukup sering di blog ini karena ini nampaknya merupakan kuah celupan yang sangat umum di makanan India. Yoghurt dan daun mint dihaluskan… dan jadilah ini…

Pesanan kedua dan merupakan rekomendasi… Masala Butter Chicken.

K99 - Butter Chicken Masala 2  K99 - Butter Chicken Masala 1

Masala Butter Chicken

Masala atau Garam Masala merupakan istilah India buat kombinasi rempah2 yang digunakan untuk masak. Bumbu2 ini terkenal dengan nilai plus untuk kesehatannya, dan dalam penggunaannya biasa menggunakan adas, kapulaga, biji anise, dan lain2… jumlahnya cukup bervariasi. Masala Butter Chicken ini sejujurnya sangat addicting buat saya. Buat orang yang ga terlalu kuat sama pedas, rasanya cenderung mild… tapi nuansa rempah2nya dapat sekali! Potongan ayamnya yang lunak berpadu bumbu… Nyammm… oke… aduh saya haus… 1 teh tarik!

K99 - Ice Teh Tarik

Ini tentu bukan yang bakal Anda dapatkan, ini tinggal setengah karena saya terlalu menikmati sebelum saya sempat potret…

Teh tarik merupakan minuman yang digemari di kawasan Sumatera-Malaysia-Singapura. Teh, susu, rempah seperti biji anise dan kayu manis, lalu disajikan dengan “ditarik” di dapur hingga berbuih. Favorit saya ketika saya makan di restoran Aceh atau India-Malaysia.

Satu rekomendasi lagi dari K99… Paneer Pakkora…

K99 - Paneer Pakhora  K99 - Paneer Pakhora - Bit

Paneer Pakkora (kiri: utuh, dengan mint chutney, kanan: baru saya gigit).

Paneer merupakan keju khas India yang biasa dibuat secara sederhana oleh penduduk lokal dari susu sapi atau kerbau. Rasanya hambar dan cita rasanya agak kenyal seperti perpaduan kue spons dan tahu. Bisa dimasak menjadi kari, atau seperti yang satu ini… digoreng dengan tepung kacang lentil dan rempah menjadi Pakkora. Rasanya enteng, pas buat snack kalau nunggu teman atau buat makanan pembuka. Rasa kuat nya muncul dari chutney yang asam.

Saya kenyang… banget… Tapi kunjungan hari ini sangat bernilai buat saya. Melihat dengan mata kepala saya sendiri perkembangan tempat ini itu merupakan nilai tersendiri buat saya, heartwarming thing is… the uncle finally revealed his name and his identity as food critique as well! Tapi saya menghormati beliau karena nampaknya beliau tidak mau namanya di-publish.

Sebenarnya, kalau saya boleh kritik… cuma satu yang sampai sekarang masih kurang: Mesin debit/kredit bank! Karena kalau kemaren saya gak diijinkan buat bayar via transfer (maaf, ini kasus spesial… Anda ga boleh niru!), saya bakal jalan cukup jauh ke ATM terdekat!

Saya… gak bisa… ga ngasih nilai penuh buat restoran ini sekarang. Saya belajar tentang makanan India di sini, dan mendengar cerita bahwa seorang mahasiswi ITB, Arini Annisa membuat gambar tentang kultur India di sini yang membawanya untuk lulus, saya cuma sekali lagi bisa angkat topi buat tempat ini… buat Rini… dan buat mereka yang memajangnya di dinding dengan lampu sorot khusus demi mahakarya lukisan tadi!

Thanks uncle and Kartika for the recommended meals and the special story for every time of my visit! I can’t wait for the next visit, but I’m sorry last Saturday I couldn’t make it for visit because I had another plan…

AW’s Rating: √√√√√ (5 of 5, full score)

K99 CURRY HOUSE

Jl. Dr. Rajiman no. 29, Bandung. Ph: +62 22 91260321, Twitter: @K99CurryHouse

Price Range:

Food: Rp 6.000,00 – Rp 55.000,00 (6k for rice, 55 for set)

Beverage: Rp 4.000,00 – Rp 18.000,00

Opening Hours: 11 AM – 10 PM

Foursquare: (click)

Tips: Nikmati waktu malam minggu Anda untuk berkumpul di sini dengan keluarga, teman2, atau… yah… dengan pacar/gebetan ke sini buat makan!

Tambahan: Tempat ini pas buat makan kilat, atau makan lama…

-AW-


(Closed) Risol-Risol, Bandung

Bandung adalah kota pertama buat saya untuk pertama kali melihat dan mencicipi menu varian dari risoles yang begitu banyak. Mulai dari risoles dengan isi standar (wortel dan kentang, atau ragout), sampai yang punya rasa super megah seperti rasa pizza.

Masalahnya, kadang kalao ada toko yang jual risoles dengan rasa yang elit (pizza atau semacamnya), kadang rasanya nanggung karena hanya memanfaatkan saus tomat dan daging. Jarang yang bahkan sausnya diracik.

Risol-Risol merupakan salah satu penjual risoles dengan varian rasa yang super menurut saya. Udah ada dari lama, sejak jaman saya masih stress kuliah (tahun ke-2 kuliah, tahun 2008), jaman akhirnya saya punya pacar (2010), dan sampai sekarang (2013). Satu hal sedihnya, dulu Risol-Risol punya restoran besar di daerah Ledeng, Bandung. Tempatnya enak, dan makanannya bisa saya bilang mantab untuk risolesnya, sisanya lumayan enak kok. Selain risoles, saya dulu suka beli taco nya mereka. Akhirnya resto di Ledeng tutup, sempat buka stand di sebelahnya, dan di jalan Sumatera. Terakhir yang di jalan Sumatera tutup dan saya pun akhirnya pergi ke stand mereka di Pasteur.

Risol

Ini dia.

Karena ingat dengan risoles rasa pizza dan rasa lasagna mereka, saya pun beli. Mereka menyediakan versi risoles siap goreng isi 5 dan risoles satuan yang sudah digoreng.

Risoles Rasa (isi 5, harga satuan tinggal dibagi 5).

Chicken Cordon Bleu: Rp 55.000,00

Egg mayo: Rp 35.000,00

Pizza: Rp 35.000,00

Tuna Mayo: RP 35.000,00

Lasagna: RP 35.000,00

Bechamel Beef: Rp 35.000,00

Bechamel Chicken: Rp 35.000,00

Risoles Stud: Rp 35.000,00

One Bite Hot: Rp 20.000,00

Risol Cheese Mozzarella: Rp 25.000,00

Ayam Jamur: Rp 50.000,00

Ayam Rica-Rica: Rp 50.000,00

Kemudian saya pesan risoles lasagna dan risoles pizza, sudah digoreng dan dibungkus.

Risol - Lasagna 1

Risoles Pizza

Risol - Pizza 1

Risolers Lasagna

Yang luar biasa dari risoles ini adalah mereka benar2 menggunakan saus tomat segar dengan herba2 seperti oregano dan basil yang bener2 kerasa dan mozzarella untuk yang pizza, dan saus Bolognese dan Bechamel untuk yang lasagna. Gak percaya? Liat gambar (dan beli sendiri!).

Risol - Pizza 2

Risoles Pizza, dengan mozzarella yang melting.

Risol - Lasagna 2

Risoles Lasagna (isinya).

Enak banget. Ga ada rasa yang artifisial. Pas abis, saya mau lagi…

AW’s Rating: 5 (5 dari 5, risolesnya enak… titik)

RISOL-RISOL

Jl. Setiabudi no. 316

Jl. Dr. Djunjunan no. 135

Ph: +6222-91561335/+628122006733

Pesan tambahan: Mending beli yang udah digoreng, biar langsung tancap!

PS: Di kedai yang baru katanya ada risoles bakar & risoles es krim lho. Boleh deh nyoba kapan2!

-AW-


Wisata Kuliner: Kentang Arab (Bandung)

Yak! Kali ini saya mau cerita sedikit soal pengalaman saya jalan2 kemarin di Bandung!

Saya kemarin jalan2 bareng temen saya dan adek kelas saya Novel, dan saya teringat sama sebuah cemilan yang saya makan pas jaman2 saya kuliah. Apakah itu? Kentang Arab!!

Kentang Arab adalah kentang yang dipotong kecil seperti lidi, terus digoreng renyah dengan tepung. Ketika jadi, bentuknya panjang seperti kentang goreng bertepung. Lalu diberi bumbu rasa seperti rasa keju, BBQ, atau semacamnya. Harganya beragam, dari Rp 3.000,00 hingga Rp 5.000,00. Awalnya saya mikir, kenapa namanya “kentang Arab”? Saya sempat mencari di internet, salah satu jawaban konyolnya… karena besar, jadi disamakan dengan Arab. Oke, karena besar. Itu… abstrak. Saya sempat berpikir apakah para pedagang Arab yang memperkenalkan kentang ini ke sini ya? Sampai kemudian ada kakak kelas saya yang bertanya kepada salah satu pedagang kentang ini soal alasan penamaannya. Jawaban yang didapat? Arab adalah singkatan dari “Aneka RAsa Baru” karena kentang ini dikasih bumbu rasa macam2 yang bisa dicampur sebelum dimakan. Oh, begitu… (PS: Trims buat Kak Ratna soal infonya!)

Kentang Arab 5 Kentang Arab 6

Inilah kentang Arab itu!

Sore itu (26 Oktober 2013), saya pergi ke kawasan Dipatiukur kota Bandung, deket UNPAD. Ngeliat gerobak yang jual kentang ini, saya pun mampir. Kita bisa lihat gambar di bawah, di gerobak terdiri dari 3 bagian: Bagian pemasakkan di mana terjadi proses pemotongan kentang dan pencelupan ke tepung cair, bagian penggorengan dan penirisan, sama bagian pembumbuan dan display kentang yang sudah dimasak (lengkap dengan segala bumbu aneka rasa).

Kentang Arab 4

Suasana di gerobak.

Saya pun beli satu. Rp 3.000,00 untuk 1 kantong. Oke lah, saya pun minta rasa keju dan saya bawa ke kosan temen saya, Radian, tempat saya menginap di Bandung.

Kentang Arab 2

Ini lebih dekatnya.

Gak sabar, saya pun segera menggigitnya. Rasanya renyah, tepungnya hambar, tapi rasa itu di-cover oleh bumbu kentangnya. Kentangnya sedikit kerasa di dalamnya.

Kentang Arab 3

Ini wujudnya setelah digigit. Kita bisa lihat bubuk bumbunya, dan itu… kentang di tengahnya.

Yah, begitulah. Biar begitu, yang namanya jajanan satu ini tetap jadi salah satu daya tarik kalau saya ke Bandung. Sebagai orang yang suka masak, kayaknya seru kalau tepungnya dibumbui pas masih cair jadi kayak ayam goreng gitu. Pasti lebih asik.

Atau mungkin… hmmm… lain kali saya nyumbang resep Kentang Arab racikan saya sendiri ah! Ditunggu ya pembaca sekalian!

-AW-


Kafe Kebon, Bandung

Suatu hari, yeah… sebenarnya seminggu lalu, saya sedang menonton televisi dan saya cukup terkesima dengan makanan pizza dengan topping ikan tongkol dan daun pepaya. Dasar namanya saya yang penasaran dan memang kebetulan sedang mau ke Bandung saat itu, saya pun akhirnya pergi untuk mencicipinya.

Di Bandung, saya melangkah ke area dekat Monumen UNPAD, Jalan Bagusrangin no. 7. Begitu masuk, perasaan saya cuma satu: rada bingung. Mana kebunnya? Oke, setelah memakan waktu sedikit lama, saya mendapati bahwa ini adalah restoran yang dikelilingi hijau tanaman yang dengan kata lain, restoran itu adalah bagian dari sebuah gazebo besar yang ada di kebun itu. Fine, so let’s have a seat.

KK2

Dapur pizza dengan tungku.

KK1

Bar dan kafe bagian dalam.

KK3

Kafe di area kebun.

KK5

Sisi lain kafe luar.

KK4

Kolam mini dan tanaman.

Awalnya saya kaget bahwa saya ga bisa memesan pizza tongkol itu karena katanya sedang diperbarui dan cuma ada pas malamnya. Untungnya, ternyata masih ada dan saya pun memesan menu yang satu itu.

Sebenarnya pizza itu untuk saya sebagai anak biologi cukup mengundang tanya. Di TV mereka menggembor2kan adanya papain pada pizza, sebuah enzim yang ada pada semangka yang punya peran membantu dalam pencernaan. Tapi bagaimana bisa? Saya aja melihat daun pepaya di pizza itu sudah dimasak hingga layu dan berwarna agak hitam. Enzim merupakan protein fungsional dalam tubuh yang berperan membantu proses kimiawi di dalam tubuh dan memiliki suhu optimal dalam kerjanya. Jika suhu di bawah suhu optimal, maka enzim akan non aktif. Sementara di atas suhu optimal, enzim akan denaturasi (rusak). Membaca sumber di sini, saya pun mendapati bahwa suhu di mana enzim ini denaturasi adalah 60-70˚C.  Jika dimasak layu seperti itu, mana ada enzim yang tersisa? Yah, sudahlah daripada protes terus, nampaknya saya perlu mencicipinya terlebih dahulu.

Pembuatan pizza pagi itu cukup lama. Hampir 1 jam lamanya. Alasannya sih memang tungkunya belum panas. Seharusnya yang namanya jam buka, tungku itu harus sudah siap dipakai memasak. Merasa agak bosan, saya pun mengambil kamera dan memotret area dapur pizza. Adonan pizza segar diambil dan di-roll pakai pin. Diberi topping, dan dipanggang. Bukan kayu yang dipakai untuk memanggang, tetapi batok kelapa. Menarik, yang saya dengar batok kelapa punya aroma khas saat membakar.

KK6

Beberapa saat kemudian, pizza di atas piring pun tiba di meja.

Pizza Tongkol

Pizza ikan tongkol dengan daun dan bunga pepaya. *krauk* Rasanya renyah, dan bagian toppingnya… pahit. Pahit di awal2, hingga saya memakannya lagi. Agak pedas. Sayangnya, saya ga merasakan rasanya ikan di dalamnya. Kurang kerasa ikannya. Tapi yang buat saya pizza ini khas, adalah rasa pedas-pahit di dalamnya dan rasa saus tomat (ya kan ya) dan rasa keju mozzarella. Rasanya baru keluar kalau kita kunyah pelan2. Oke lah ga ada papainnya, lumayan punya cita rasa yang beda aja rasanya. A brand new touch for a pizza!

Pizza Tongkol Zoom

Ini isinya…

Kemudian teman saya, Eki, datang dan kami memesan pizza lagi.

Pizza Four Season

Pizza Four Season

Pizza Four Season. Buat saya pizza ini pas buat yang suka icip2. Ada 4 kombinasi di dalamnya: keju cheddar parut, ikan tuna (kalengan), bawang bombai-smoked beef, dan jamur. Pas buat rame2. Saya cuma kurang pas sama keju cheddar parutnya yang ga nyambung sama mozzarella-nya.

Pizza Margheritta

Pizza Margherita.

Hmmm… sebenernya ini Pizza Margherita yang dimodifikasi. Pizza Margherita asli ga ribet: cuma roti, saus tomat, keju mozzarella, sama kadang ada daun basil. Kali ini, ada irisan tomat segar dan parutan keju cheddar. Lagi2 buat saya, keju cheddar nya sih yang kurang pas.

Tempat ini dilengkapi wi-fi. Wajar sih jadinya banyak mahasiswa yang datang buat nugas. Yeah, jujur waktu saya ke sini ada beberapa mahasiswi yang bening di meja sebelah. Hehe.

AW’s Rating: √√√ (3 out of 5)

KAFE KEBON, BANDUNG

Jalan Bagusrangin no. 7.

Open Hours: Weekdays 09:00 am – 10:00 pm, Weekend 09:00 am – 11:00 pm

Range prices: Minuman Rp 4.000,00 – Rp 20.000,00, Makanan Rp 10.000,00 – Rp 45.000,00

Tips: Tempat nugas atau ngobrol sama temen sampai lama yang pas, sayang aja sih ga bisa pake kartu bayarnya (ngarep)

-AW-