Culinary Memoirs of A Biologist Who Loves Food

Posts tagged “italia

Makan Mentah: Daging Sapi

Halo pembaca! Sudah lama saya tidak menulis artikel ya, dan kali ini… saya mau cerita soal makan daging mentah, tapi bukan daging ikan… melainkan DAGING SAPI. Mungkin hal ini bukan hal lumrah untuk pembaca atau pecinta kuliner Indonesia pada umumnya karena di negara kita kebanyakan kuliner yang dijual adalah kuliner yang dimasak atau matang, saking matangnya… karena masaknya lama (kayak rendang sama gudeg). Jadi… ayo tarik napas… *apa coba*

Steak Blue Rare

Steak. Tingkat kematangan blue rare (cuma luarnya doang yang coklat).

Pertama kali saya makan steak, saya SELALU pesan daging yang sepenuhnya masak atau well done. Awalnya saya takut karena merah2 di dalamnya mengindikasikan adanya darah, padahal ngga. Warna merah di daging itu berasal dari warna myoglobin. Mirip dengan hemoglobin (warna merah di darah), kedua protein ini memiliki gugus heme dari molekul besi yang mengikat oksigen dan molekul ini ada pada daging merah (sapi, kambing, kuda, dll) tapi ga ada di ayam dan ikan. Jadi warna daging sapi mentah ya memang merah ketika darahnya pun ga ada. Akhirnya saya pun mulai bergeser ke tingkat kematangan medium wellmedium, lalu akhirnya “menetap” di medium rare dan rare karena kepiawaian seorang chef steak dan kesegaran daging bisa diuji pada kematangan tersebut. Penasaran? Baca deh di sini.

Tingkat di atas medium rare itu rasa dan tekstur dagingnya mulai ilang, di bawah itu… rasanya mulai rubbery atau alot. Penasaran dengan level blue rare yang konon buat menguji kualitas daging, akhirnya saya mencobanya. It’s not that bad, cuma rasanya susah digigit.

Soal makan daging sapi mentah, sebenarnya di dunia ini ada kultur yang menganggapnya lumrah kok. Mari kita mulai dari Steak Tartare. Saya yakin sebenarnya kalian pernah tahu kok! Khususnya yang dari kecil suka nonton Mr. Bean. Suatu ketika Mr. Bean sedang ke sebuah restoran fine dining, tapi dia lagi rada bokek. Sampai akhirnya dia memesan makanan termurah dan menu itu tak lain adalah Steak Tartare itu. Karena dia ga suka, akhirnya dia berusaha ngebuang steak mentah itu ke mana2.

hqdefault

Episode ini lho.

Klik di sini jika ingin menontonnya di tag atau window terpisah.

Ternyata… menu ini ga se-menjijikkan itu lho. Memang pada kenyataannya, ga semua chef mampu memuat makanan satu ini dengan benar. Steak Tartare namanya berasal dari steak a la tartare karena awalnya disajikan dengan saus tartar (saus mayo dan timun acar yang biasanya hadir kalau kita makan Fish n Chips). Hal yang keliru walau dianggap biasa adalah, steak ini disajikan menggunakan daging cincang. Salah. Yang benar, steak ini dibuat dari daging sapi mentah yang tanpa lemak (lean beef), diiris kecil2 memanjang, sebelum dicampur dengan bahan utama lainnya. Sehingga kita dapat tekstur dagingnya sekaligus rasanya. Daging cincang kadang memberi rasa kayak kornet. Oh iya, walau kadang disebut steak… menu ini adalah hidangan pembuka, bukan menu utama.

KOI - Beef Tartare

Steak Tartare and Salad. Dibeli di KOI Kemang, Jakarta.

Steak Tartare biasanya disantap dengan bawang bombay cincang, acar timun, bunga capers, dan kadang dengan telur mentah. Saya waktu itu mencicipi di KOI Kemang, Jakarta Selatan. Awalnya ragu, tapi ternyata enak! Rasanya kayak makan tuna salad karena ada rasa bawang bombay nya, rasa mentah yang menjijikkan itu malah hilang. Oh ya, membuat makanan ini ga bisa sembarangan! Hal yang harus diperhatikan: Cara memotong, cara mencampur, dan yang paling penting KUALITAS DAGING. Soal cara memotong dan mencampur, kita bisa melihatnya di video sehabis ini. Tapi kualitas daging itu mutlak! Kita harus memilih daging yang sumbernya jelas dan kalau bisa beli di toko yang bersih, atau beli di supermarket sekalian. Kalian ga mau kan kena risiko patogen Toxoplasma gondii yang membuat risiko keguguran janin dan Taenia saginata, cacing pita yang hidup di sapi? Jangan takut! Kalian pikir makan sushi bebas dari cacing pita? Semua itu adalah bagaimana pemilihan bahan!

Disclaimer: Kalian boleh buat Steak Tartare pakai ikan seperti salmon atau tuna, atau daging merah seperti sapi, rusa, dan kuda. JANGAN PERNAH sekali2 membuat dengan ayam karena risiko infeksi Salmonella typhorum alias patogen tipus.

So… kalian penasaran? Silahkan diklik video berikut ini:

Video oleh Munchies tentang Chef Julien Ponthieu yang tinggal di Berlin yang mau memasak Beef Tartare. Klik di sini jika ingin menontonnya di tag atau window terpisah.

atau versi santainya… oleh rekan dari Chef Jamie Oliver, Chef Alexis Gabriel (AKA French Guy) dengan varian sayur:

Klik di sini jika ingin menontonnya di tag atau window terpisah.

Ah, selain Beef Tartare, ada juga Beef Carpaccio. Walau ada yang menggunakan daging sapi asap, tapi carpaccio asli menggunakan daging mentah. Menu ini berasal dari Italia, dan sama dengan Beef Tartare, menu ini termasuk hidangan pembuka. Keahlian yang diperlukan dalam membuat Carpaccio lebih ke bagaimana mengiris dengan SANGAT tipis daging yang kita sajikan dengan homogen. Setelah diiris tipis, daging ditaburi lada hitam giling kasar, garam laut kasar, minyak zaitun, keju Parmesan iris tipis, dan kadang bawang bombay, seperti yang saya pesan di PePeNERO ini…

PP - Carpaccio

Beef Carpaccio. Diapason di PePeNERO Kuningan, Jakarta.

Makan Carpaccio kadang lebih menunjukkan rasa dan tekstur dagingnya karena potongannya lebar, bukan kecil seperti Tartare. Cuma sensasi yang dirasakan adalah lumernya daging di lidah karena tipisnya daging itu. Ini juga yang membuat pemilihan daging segar juga kritikal!

Mau coba buat? Ini ada petunjuk dari Chef Jamie Oliver!

Klik di sini jika ingin menontonnya di tag atau window terpisah.

Cuma saran atau tips dari saya… kalian jangan coba buat sebelum kalian mencobanya langsung!

Sebenarnya, selain dua sajian yang saya tampilkan, masih ada lagi lho yang belum saya sebutkan. Khususnya ada makanan Korea yang menggunakan daging sapi mentah yang persis Beef Tartare bernama Yukhoe. Di Jepang ada juga varian dari daging kuda atau disebut sashimi kuda atau Basashi (馬刺し), sama di Jepang… kita tau ada sapi Jepang alias wagyu (和牛), kadang disajikan mentah untuk semacam menghormati keaslian dagingnya yang begitu empuk. Misal kayak gini… sebagai sushi yang saya makan di Itacho, Jakarta.

Itacho - Kagoshima Wagyu Sushi

Sushi Wagyu.

Kagoshima Wagyu Sushi ini teksturnya begitu lunak, kontras sama daging blue rare yang saya makan dan saya ceritakan di atas, ini selunak tuna ketika digigit. Jadi bayangin makan tuna tapi rasa dan aromanya daging sapi segar. Lumer di lidah. Alasannya karena sapinya dipijat dan diminumi sake dengan rutin sehingga lemak dagingnya membentuk marmer dan teksturnya sangat lunak. Kandungan lemak tak jenuh di daging wagyu, yaitu omega-6 dan omega-3 nya lebih tinggi! Marmerisasi (apa sih bahasanya) lemak di daging sapi ini juga meningkatkan perbandingan jumlah lemak tak jenuh rantai unggal terhadap lemak jenuhnya yang berbahaya untuk kita lho!

Jadi, mau dari mana kalian mau mencoba? Hehehe…

Beef Tartare

Harga: Rp 135.000,00 (belum dengan pajak 20%)

KOI Restaurant & Gallery Kemang. Jl. Kemang Raya no. 72, Jakarta Selatan. Ph: +6221 719 5668. Link: Zomato, Foursquare.

Carpaccio Filetto

Harga: Rp 71.000,00 (belum dengan pajak 15%)

PePeNERO. Menara Karya Lantai Dasar (Ground Floor) – Jl. H.R. Rasuna Said Kuningan, Jakarta. Ph: +6221 579 44727. Link: Zomato, Foursquare.

Kagoshima Wagyu Sushi

Harga: Rp 70.000,00 per buah (belum dengan pajak 15%)

Itacho Sushi. Grand Indonesia Mall Lantai 3A, Sky Bridge, Jl. M.H. Thamrin, Jakarta Pusat. Ph: +6221 2358 1228. Link: Zomato, Foursquare.

-AW-


Mediterranea Restaurant, Yogyakarta

Makanan khas negara2 pesisir Laut Mediterania adalah negara2 yang terkenal dengan aroma dan rasanya yang khas dengan perpaduan tanaman herba yang dicampurkan ke dalam masakannya seperti basil (selasih), oregano, rosemary, thyme, sage, ketumbar, dan lain semacamnya. Kemudian paduannya mulai dengan yoghurt dan susu untuk area Turki dan Yunani, penggunaan pasta dan saus krim atau tomat untuk Italia, dan keju serta ikan untuk Perancis dan Spanyol. Yak, kemarin saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi restoran Mediterranea di area dekat Alun-Alun Kidul (Selatan) Keraton Yogyakarta, tepatnya di kawasan Jalan Tirtodipuran.

The Mediterranea (5)

Ini papannya.

Ketika masuk, di malam hari suasananya cukup cozy dan romantis!

The Mediterranea (4)

Ini di pintu masuk.

Ruangan makan di sini ada yang indoor dan semi outdoor.

The Mediterranea (3)

Area indoor

The Mediterranea (2)   The Mediterranea (1)

…masih yang indoor (kemarin lupa motret yang outdoor, maap)

Restoran ini cukup banyak dihadiri pengunjung internasional dan turis2 non lokal karena tempat ini bisa berada di kawasan hotel dan hiburan malam turis Tirtodipuran-Prawirotaman (Kayak Menteng di Jakarta mungkin, dan kayak Legian di Denpasar). Suasana malam kadang diperindah dengan live music.

Lalu bagaimana dengan makanannya? Variasinya banyak, dan nama makanannya sudah menjelaskan apa isi makanannya (konsep nama deskriptif yang biasa dipakai chef). Sejujurnya yang jelas, Chef Kamil yang jadi chef utama di sini patut diacungi jempol untuk racikan masakan yang ada di sini!

M - Shish Kebab de Poulet

Shish Kebab de Poulet, Aubergine Confite et Tsatsiki.

Kebab ayam dengan aubergine (terong hitam) yang dihaluskan, nasi yang agak renyah, dan saus yoghurt. Rasa ayamnya luar biasa kerasa dan campuran dengan rempahnya! Terongnya halus dan creamy banget! Nasinya emang unik karena agak keras, tapi renyah ga terlalu, pulen juga ngga… ini adalah sensasi baru makan nasi buat saya. Setiap makanan di atas piring punya “nada” nya sendiri. Baik ayamnya, nasi, tomat bakarnya, terongnya, saus yoghurt dan saus kebabnya. Saya ga bisa kasih deskripsi lebih kena lagi!

M - Le Duck Burger

Le Duck Burger, Aubergine, Tomate et Courgette Roties, Burger de Canard, Tranche de Fromage de Montagne, Oignon et Cornichon, Feuilles de Salade, Accampagne de Legumes a Croquer, Sauce Yaourt et Menthe.

Restoran ini punya penyajian daging bebek yang sangat unik dan gak biasa, misalnya burger bebek satu ini. Dari judul menunya yang super panjang, saya bisa ringkas jadi burger bebek, tomat bakar, irisan keju gunung, bawang, asinan timun, dimakan sama sayuran batangan dan saus yoghurt mint. Rasanya sangat super, Anda dijamin ga pernah makan bebek seperti ini di manapun! Sensasi unik makan sayurnya juga… ajaib!

M - Magret de Canard aux Epices

Magret de Canard aux Epices, Aubergine Confite, Risotto aux Champignon.

Masih belum puas makan bebek? Steak bebek berempah ini adalah pilihan super! Disajikan dengan confite terong yang dengan rasa yang lembut, dan risotto jamur yang lumer di lidah!

M - Poulet Braise Au Feu de Bois

Poulet Braise Au Feu de Bois, Polenta & Ratatouille.

Daging ayam panggang yang dimasak dan disajikan di atas ratatouille dan disajikan dengan polenta. Ayamnya sangat tebal dan juicy, dengan ratatouille yang enak. Polenta? Ini adalah masakan khas Eropa yang dibuat dari tepung jagung dan dimasak dengan konsistensi seperti kentang panggang atau bubur. Nyam sekali!

M - Al Formaggi Pizza

Pizza: Al’ Formaggi

Pizza di sini dimasak di tungku api. Yang kemarin saya cicipi adalah Al’ Formaggi. Sangat direkomendasikan kepada pecinta keju. Keju yang dipakai adalah Blue Cheese, Mozzarella, Emmenthal dari Swiss, dan Parmesan dari Italia. Gimana? Puas?

M - Creme Brulee a la Vanille de Java

Creme Brûlée

M - Creme Brulee (Spoon)

Sesendok…

Sekarang saatnya membahas menu penutup. Creme Brûlée akan pas buat para sweet tooth dan pecinta custard. Gula yang renyah di sendok, dan lumer di lidah dengan rasa manis yang wow!

M - Gelato & Brownies

Gelato & Brownies

Gelato segar (home made) aneka rasa (saya untuk ini memesan yang rasa Creme Brûlée dan Vanilla) dengan brownies. Rasanya sulit digambarkan oleh kata2.

M - Crumble Minute aux Fruits de Saisons et Creme Glacee

Crumble Minute aux Fruits de Saisons et Creme Glacee

Es krim vanilla dengan crumble pie berasa kayu manis dengan saus stroberi dan buah2an (apel, pisang, manga, dan stroberi). Ini adalah pencuci mulut yang pas buat pecinta es parfait.

Untuk minuman ada bermacam2, tapi saya memesan ini dan rasanya nampol…

M - Almond Banana

Almond Banana.

Smoothies pisang (dengan susu)  yang dicampur dengan irisan almond renyah, madu, dan potongan kurma. Rasanya halus… crunchychewy, wow…

Tempat ini di malam hari memang bernuansa romantis, didukung dengan makanan yang super enak, pokoknya pas buat dining! Bravo buat Chef Kamil atas kreasi menunya!

AW’s Rating: √√√√√ (5 dari 5, full!)

—-

MEDITERRANEA RESTAURANT

Jl. Tirtodipuran no. 42A, Yogyakarta. Ph: +6274 371 052 (buat pesan delivery juga bisa). Twitter: @mediterranea_r

Jam Buka:

11:00 AM – 11:00 PM, tutup hari Senin.

Jangkauan Harga:

Makanan: Rp 29.000,00 – Rp 188.000,00

Minuman: Rp 8.000,00 – Rp 35.000,00

Foursquare: Klik

Tips: Makan di sekitar jam setengah 7 malam adalah momen paling pas, belum rame dan waiting list

-AW-


Volcano Pizza – Verde, Bandung

Pizza merupakan makanan Italia yang sudah sangat mendunia dan menjadi makanan favorit banyak orang, teman saya, sampai bahkan saya sendiri. Dari waktu ke waktu, variasi dari pizza sudah sangat baaaaaaaanyak sekali dari satu tempat ke tempat lain di penjuru dunia. Bahkan yang paling aneh adalah yang saya pernah baca di manga mengenai roti buatan Takashi Hashiguchi, Yakitate! Ja-Pan. (Spoiler Alert!) Di sini, tim dari sang protagonis, Azuma Kazuma, mendapatkan tantangan dalam lomba untuk membuat pizza yang bisa bertahan lama di toko roti (karena pada umumnya pizza hanya bisa didapatkan di toko pizza dan seiring waktu dan ketika pizza dibiarkan rasa pizza akan berubah menjadi lebih kering atau lembek hingga merubah tekstur topping sendiri atau rotinya, tantangan di sini adalah pizza yang bisa bertahan lama di etalase toko dan tidak berubah rasanya ketika disajikan). Ketika tim lawan membuat pizza lipat-roll untuk menyimpan kelembaban saus pizza, Kazuma menciptakan strategi lain: Membuat pizza seperti balon yang dimodifikasi! Menurut sang bos, Ken Matsushiro, ada 2 jenis pizza balon:

japan22_009

Bomber Pizza (panel bawah bagian atas), Takoyaki Pizza (panel bawah bagian bawah) (Klik untuk memperbesar) (Sumber: Yakitate! Ja-Pan ch. 193)

Seperti yang dijelaskan, pizza jenis ini memanfaatkan uap air dalam adonan yang menekan ke segala arah dari dalam saat pizza dipanggang. Pizza jenis bomber, memiliki topping yang diletakkan di sebelah atas dari roti, pizza ini untuk dimakan otomatis harus “meledakkan” si roti karena topping ada di bagian atas. Pizza jenis “takoyaki” buatan Kazuma memiliki topping di dalam pizza yang ketika dimakan nantinya akan membuat pizza seperti pizza lipat atau Calzone.

Awalnya, saya mengira ini hanya ada di luar negeri atau cuma di manga saja. Sampai kemudian saya ke Bandung, tepatnya ke Verde di kawasan Dago Atas. Menurut sang waiter di sini, Verde merupakan tempat pertama di Bandung yang memperkenalkan pizza yang disebut Volcano Pizza. Mengapa disebut “volcano” atau gunung berapi? Karena pizza ini terlihat seperti gunung yang memuntahkan api ketika disajikan. Tentunya, (ini peringatan buat yang anti-alkohol) ini disebabkan karena dituang minuman beralkohol yang disulut api (flambé). Di tempat ini, terdapat 2 jenis Volcano Pizza: Volcano Pizza (biasa), dan Rainbow Volcano Pizza.

Verde - Volcano Pizza (1)

Volcano Pizza.

Verde - Rainbow Volcano Pizza (1)

Rainbow Volcano Pizza, sebelum disulut…

Verde - Rainbow Volcano Pizza (2)

…ketika disulut…

Verde - Rainbow Volcano Pizza (3)

…ketika on fire

Verde - Rainbow Volcano Pizza (4)

…dan setelah disulut.

Ketika kita memesan, kita bebas memilih topping (sebenarnya filling karena ada di dalam), mulai dari pizza margherita (isi mozzarella dan saus tomat), dengan pepperoni, hingga dengan salmon. Setelah proses flambé, pizza ini akan dibawa lagi ke dapur dan dibelah hingga nanti akan seperti ini ketika disajikan:

Verde - Volcano Pizza (2)

Volcano Pizza…

Verde - Volcano Pizza (3)

…satu slice

Verde - Volcano Pizza (4)

…dengan isi jagung, sosis, dan paprika.

Verde - Rainbow Volcano Pizza (5)

Rainbow Volcano Pizza…

Verde - Rainbow Volcano Pizza (6)

…lebih dekat…

Verde - Rainbow Volcano Pizza (7)

…satu slice

Verde - Rainbow Volcano Pizza (8)

…isi pepperoni dan keju.

Ketika dimakan, sensasinya mirip dengan memakan Calzone, bedanya adalah “cangkang” atas pizzanya cenderung lebih renyah. Ketika dimakan, pizza bisa disajikan dengan saus tomat berempah khas Verde.

Verde - Sauce

Saus Tomat Pedas.

Terus gimana rasanya? Kombinasi isian dengan roti sudah pas, enak! Untuk isian yang saya udah coba, Pepperoni atau Salmon merupakan pilihan yang paling saya suka untuk pizza ini! Saya suka pilihan filling plus rasanya di pizza ini! Dari sisi kerenyahan roti atas, kerenyahannya bertahan  20-30 menit setelah dipotong. Saus tomat pedas dari tempat ini juga bisa memberi ambiance rasa kepada roti ketika kita sudah menggigit sampai ujung. Saus tomat ini rasanya pedas dengan sentuhan bawang dan rempah Italia yang pas dengan pizza. Hal lain adalah rasa manis dari minuman yang tersisa setelah dibakar masih terasa di roti bagian atas, menambah rasa pizza ini. Hmmm… *kraus!*

Dari kategori atraksi kuliner, pizza ini cukup bisa dikatakan menarik… sangat unik dengan “pertunjukan api” yang diberikan. Walau begitu, ada yang perlu diperhatikan yaitu 2 hal: Proporsi filling dan roti gak imbang, dan juga adalah antiklimaks. Walupun ada hal minor dalam ini juga khususnya buat Rainbow Volcano Pizza, yaitu warna-warni pizza nya membuat bingung yang makan (dari sisi penampilan). Hmmm… mungkin saran saya adalah bagaimana untuk pizza asin di Volcano Pizza biasa dan yang manis di yang Rainbow?

Maksud dari proporsi gak imbang adalah begini, ketika sebuah pizza disajikan, mau pizza sebagai menu Italia (dengan roti tipis dan topping sederhana khas Italia, contoh: Pizza Marzano) ataupun Amerika (roti tebal dengan topping berisi padat atau keju banyak, contoh: Pizza Hut atau Domino’s Pizza) ada yang disebut perbandingan atau ratio roti:topping yang saya percaya memastikan roti yang enak, dan topping yang menjadi kreasi sang juru masak di dapur tidak berlebih dan menyulitkan makanan atau merubah rasa satu sama lain. Volcano Pizza di sini isiannya bisa saya bilang agak pelit. Ketika kita menggigit roti, rasa isian kurang terasa dibanding rotinya, apalagi roti atas yang keras dan susah bersatu sama rasa isiannya. Ketika isian bersatu dengan roti, maka rasa akan tersebar dan jadi seimbang. Untuk itu mungkin sebaiknya isiannya perlu ditambah proporsinya.

Poin kedua adalah antiklimaks, dan ini tidak ada pada sajiannya, tapi pada faktor restoran dan pelayanan. Setelah pizza dibakar, sang waiter membawa pizza kembali ke dapur buat dipotong sebelum dikembalikan ke meja. Kita yang makan jadi kayak, heh? Kenapa? Karena kita mengharapkan pizza itu dengan epic-nya dipotong di atas meja dengan pisau. Ketika saya tanya kenapa ke pihak restoran, mereka bilang alasannya adalah pisaunya khusus dan ada di dapur. Kenapa ada di dapur? Kenapa ga dibawa ke meja? Alasan takut berantakan? Ya jangan sampai berantakan dong. Ini adalah makanan atraksi yang menjadi signature dari restoran, jadikan retak-hancur nya pizza ketika dipotong menjadi bagian dari atraksi. Ketika dibawa ke dapur, ini antiklimaks! Sebaiknya pemotongan dilakukan di meja, waiter belajar buat memotong dengan rapi, atau adonan atas diatur sehingga memudahkan pemotongan.

BTW, karena ini attraction meal, saya member 2 penilaian:

AW’s Rating on Flavor: √√√√ (4 dari 5, udah enak… variasinya bagus, cuma kurang BANYAKIN dikit aja karena proporsi rotinya kebanyakan, ga masalah kalo harga naik SEDIKIT)

AW’s Rating on Serving: √√ (2 dari 5, perlu perbaikan cukup banyak dalam penyajian agar bisa optimal dan membuat pelanggan bisa tertarik hingga penyantapan)

Harga: Volcano Pizza atau Rainbow Volcano Pizza – Any toppings (belum dengan pajak 10%): Rp 55.000,00

Keterangan pemesanan: BISA dipesan ditempat (tidak harus reservasi)

VERDER RESTO AND LOUNGE

Jl. Ir. H. Juanda (Dago) no. 177, Bandung. Ph: +62 22 2503005. Twitter: @verde_lounge

Foursquare: Klik

-AW-


Calzone Express, Yogyakarta

Akhir2 ini saya cukup sibuk. Kombinasi antara tesis, tugas presentasi, dan ujian di saat teman2 di universitas lain udah libur adalah kombinasi buruk dan menyebalkan. Untungnya, ada 1 cara untuk membuat semuanya terlewati dengan santai. Apa itu? Nyantai di kosan dan ngemil makanan yang enak. Beda sama pas saya di Bandung dulu pas S1, kehidupan saya cukup berantakan. Kenapa ngga? Saya dimanjakan dengan makanan di segala penjuru, dan jujur saya belum lepas dari kebiasaan SMU: makanan fastfood. Sekarang? Semenjak saya menyentuh dunia food reviewer dan kenal beberapa chef, saya lebih memilih makanan beneran yang cepat, ketimbang olahan model fastfood-junkfood. Perlu diingat, fastfood memang makanan cepat saji yang pada umumnya akrab dengan junkfood, tapi kenyataannya kita harus ingat lagi bahwa definisi makanan di sini adalah makanan cepat.

Oke, berawal dari rekomendasi seorang teman saya di kosan, Tama, saya pun menemukan tempat “ngemil” yang wah kali ini: Calzone Express.

QE

Tempatnya mungkin antara 1-2 Km atau mungkin kurang dari itu jaraknya dari kosan saya. Tempatnya memang ga terlalu besar, tapi juga ga terlalu kecil. Untuk urusan makanan, mereka memang cepat (15 menit) tapi mereka menggunakan bahan yang segar. Pilihan yang pas buat makan atau ngemil, ketimbang makan fastfood-junkfood.

QE - Restaurant 2  QE - Restaurant

Inilah tempatnya.

Menu yang ditawarkan? Jelas sesuai namanya: Calzone. Apa tuh? Buat saya secara personal, calzone adalah pizza lipat yang bentuknya seperti pastel berukuran besar. Isinya identik dengan saus tomat, daging, dan keju; seperti pizza.

Calzone Express menjual makanan ini yang awalnya saya kira mahal, tapi ternyata dengan harga Rp 15rb flat untuk semua isian (kecuali yang tomat doang, 13rb malah)! Kerennya lagi, variasinya lumayan untuk isiannya, dikombinasikan dengan pilihan calzone nya mau dipanggang atau digoreng.

QE - Menu  QE - Menu 2

Harganya tidak merobek kantong!

Saya udah 2 kali ke sini. Pertama saya mengikuti rekomendasi Tama, dengan pesan calzone isi chicken teriyaki, plus pilihan sendiri: isi meat ball. Keduanya dipanggang.

QE - Teriyaki Calzone  QE - Teriyaki Calzone 2

Calzone Chicken Teriyaki Panggang

Rasa dari calzone isi teriyaki ini memang nyentrik, atau eksotis mungkin. Pada umumnya calzone selalu identik dengan rasa topping pizza, tapi kali ini dengan sentuhan Jepang. Rasanya enak! Cuma waktu itu pas saya nyoba agak asin. Tapi itu ga jadi masalah banget buat saya. Porsi oke, ayamnya ga pelit.

QE - Meatball  QE - Meatball 2

Calzone Meat Ball Panggang

Nah, kalo yang ini emang pizza banget. Cuma saya ga tau kalo di sini meat ball = sosis. Tapi ya sudahlah, rasanya enak karena tomat dan kejunya oke banget.

Selanjutnya di lain waktu saya mencicipi menu lainnya.

QE - Smoked Beef  QE - Smoked Beef 2

Calzone Smoke Beef Panggang

Wah yang ini oke juga selain yang meat ball. Lebih nendang karena ada bawang bombai nya dan ini sangat direkomendasikan buat yang suka smoked beef!

QE - Fried Calzone

Fried Calzone: Cheesy Tomato

Kali ini saya nyoba2 rasa calzone yang digoreng. Rasa isiannya enak sih, nyantai karena cuma tomat rempah dan keju. Cuma rasa rotinya yang ga nyantai. Saya seolah makan donat isi tomat. Beda sama calzone panggang yang rasanya memunculkan rasa dari si tepung dan memaksimalkan rasa isinya, calzone goreng punya rasa kuat minyaknya di roti yang bahkan agak menutupi atau dalam bahasa sains nya superposisi terhadap rasa isinya. Kalau mau nyoba jenis yang ini, saya lebih milih yang dengan isian yang kuat rasanya, misal teriyaki.

Overall, saya suka tempat ini, cuma personal karena saya dikejar tugas, saya lebih milih mesan buat dibawa pulang. Kerennya mereka juga bisa delivery dengan minimal Rp 50rb kalau ga salah. Yah, bagi yang ada motor, tempat ini juga asik buat ngobrol selepas kuliah di weekdays. Kenapa ga weekend? Tempat parkirnya susah.

But still, I’ll be back here for more! (because usually I go there for take away order with my friend, not to eat on the spot)

AW’s Rating: √√√√½ (4.5 of 5, entah kenapa ada yang kurang dan membuat saya ga bisa ngasih skor penuh)

CALZONE EXPRESS

Jalan Cendrawasih no. 3 Yogyakarta. Ph: +6274 8538815 (for delivery). Twitter: @CalzonExpress

Jangkauan harga:

Makanan: Rp 13.000,00 – Rp 15.000,00

Minuman: Rp 5.000,00 – Rp 9.000,00

Jam buka: Senin-Kamis, Sabtu-Minggu: 11:00 AM – 10:00 PM, Jumat: 01:00 PM – 10:00 PM

Foursquare: Calzone Express (diskon Rp 1.000,00 buat yang check in, dan diskon 25% untuk calzone bagi Mayor)

Pesan tambahan: Bermainlah dengan kombinasi isian calzone dan pilihan panggang/goreng nya and you tell me how is it!

-AW-


Mamma Rosy, Kemang

Hello all! As I already said before, this is a special article that I wrote in English. I intended to allow more people in the world to read and see this article. Well, for other articles, as I haven’t yet go further from my home range to hunt, I say… I will keep writing the rest in Bahasa Indonesia.

This Saturday afternoon (Sept 28th, 2013) I went to an Italian restaurant on Kemang. This is one of my routine review for ShoppingMagz actually, and the first review after I went to Yogyakarta for my master degree. So, after some hours freezing in the bus and took a power nap, this visit is really refreshing for me. In addition, I love Italian food since I was in 2nd grade. Thanks to my mom and grandma.

Meanwhile… I went to Mamma Rosy with Rino, my friend, who also my partner-in-crime for eating in a restaurant, and he also has a sharp tongue for food.

From my first impression, the restaurant is more… Balinese from the outside, as I walked further inside… I looked to my left and it become Javanese. Stare forward… okay, it’s Italian. Cool! Later it confirmed by one of the owner, Daniel Vigone. He told me that it’s indeed that the restaurant art concept adapted Balinese-Javanese culture and then added with a touch of Italian on the inside. The restaurant is managed by Vigone family, and the entire meals are cooked under supervision of Mrs. Rosy Vigone, Daniel’s mother. “Basically, my family and I love to eat and cook. My grandma opened a restaurant on my home, then my mom, I learned cooking from my mom.”  said Daniel. On the outdoor and garden segment of the restaurant (called Portico), I can see the family photos on the pillars. It’s lovely to see when your passion runs deeply into your veins from generation to generation. I can feel that.

The restaurant so far is consists several segment: The Portico (outdoor, near garden, smoking area), Saleta (indoor, next to kitchen, with air conditioning, non-smoking area), VIP-gallery plus indoor bar, and one outdoor bar on the upstairs which currently under construction. All I see, these places are really comfortable to stay.

Then Daniel told me about the meals for review, I nodded and waited in excitement! Ah right, for the drink… I only took an iced tea for quenching my thirst.

First, there was Tris. The plated meal consists of 3 dishes: a salad with mayo, a nice pie with green fillings and egg yolk, and a thin meat with creamy sauce with capers and olive on it. I like the taste of the meat. It’s tender, and it matches with the creamy sauce. The ‘pie”, well… I haven’t ask them what it called in Italian. It tasted like pesto verde inside, with a layer of thin crust-bread encasing it. It’s yummy and I ended this meal by salad, it’s a perfect creamy freshness!

Mamma Rosy - Tris

Tris.

Next, two sets of carpaccio arrived to my table. To let you know, carpaccio is Italian meat-based meal. A thin slice meat, added with olive oil and shaved/shredded cheese on the top. For now, I have Carpaccio Salmon and Carpaccio Manzo. Carpaccio Manzo is a set of thinly sliced roasted beef, added with olive oil, black peppers , chopped basil, tomato, and grated Parmesan. I took a bite, and the combination danced in my mouth. It matched perfectly. Then Carpaccio Salmon, slices of smoked salmon, olive oil, black peppers, chopped basil, tomato, and orange. One that make it unique, it served with diced goat cheese. In my tongue, it’s so Mediterranean and fantastically fresh. I love it, especially I am a salmon lover.

Mamma Rosy - Carpaccio Salmon (2) Mamma Rosy - Carpaccio Salmon (1)

Carpaccio Salmon.

Mamma Rosy - Carpaccio Manzo (2) Mamma Rosy - Carpaccio Manzo (1)

Carpaccio Manzo.

Then, there’s Fritto Misto. A platter of mixed small seafood (anchovies, shrimps, cuttlefish rings, etc) served with mayo. It’s actually made a nice hors d’ouvre for your meal and a nice side dish for extending your time while having a nice chats. Crispy seafood goodness and good time, perfect combination isn’t it?

Mamma Rosy - Fritto Misto

Fritto Misto.

Now we enter the main course. There’s Brasato. A thinly sliced beef, it’s already coated with special Italian gravy, topped with grated carrot, and served with fried potato wedges. Lovely taste!

Mamma Rosy - Brasato

Brasato.

Pizza. Everybody loves pizza, right? When your heart is down, pizza will always there to cheer you up! Aside to the main course, pizza also a nice conversation fuel when you are with your friends. Mamma Rosy gave us Pizza Dolce Vita and Pizza Sandi Sandoro. Pizza Dolce Vita is mild and simple, pizza, tomato sauce, and cheese. Pizza Sandi Sandoro… well, it named after a singer, consists of smoked salmon, aragula, sun dried tomato, capers and black olives. As I tasted from time to time, a pizza with combination of salmon, capers, and olive is a perfect match. Overall, I love their pizza. It’s crispy but not crumbly and tough, nice topping proportion, and perfect combination. Bravo!

Mamma Rosy - Pizza Dolce Vita Mamma Rosy - Pizza Sandi Sandoro

Pizza Dolce Vita and Pizza Sandi Sandoro.

For pasta, they have Tagliatelle Vongole. I love seafood, add it to pasta with superb cooking skills? Magnificent. Mamma Rosy  gave me a nice pasta for my lunch. I love the vongole (clam)! It’s light, and presents the core flavour of the vongole, and allow you to sense the pasta.

Mamma Rosy - Tagliatelle Vongole

Tagliatelle Vongole.

My last and the highest rated main course of Mamma Rosy, here it is: Risotto Gorgonzola! When this menu was served, everyone dazed. Even Rino who already tasted the real risotto on Italy. It’s creamy but not gooey (of course, it’s a mark of nice risotto), perfect rice consistency, it’s nice on common Indonesian tongue (many people dislike strong taste of Gorgonzola cheese, but this risotto allowed the taste to blend perfectly with the cream). When I go to Mamma Rosy again, I’d like to order this as my meal for sure!

Mamma Rosy - Risotto Gorgonzola

Risotto Gorgonzola.

Man… I was full and had my tummy indulged with these meals. But who will deny a nice dessert?

Tiramisu. So common in Indonesia. But I challenge you to find, how many are there who make it so original, it uses savoiardi (lady fingers) biscuit, soaked with coffee, and topped in layers with cream? Here, they have it on Mamma Rosy.

Mamma Rosy - Tiramisu

Tiramisu.

Next… Crostata di Mele. For me, it’s like Italian pie with crumble (well as I know, there is no crumble, but for me this addition enhanced the flavour). Yummy! Especially when I ate it with the vanilla ice cream. Mmmm…

Mamma Rosy - Crostata di Mele

Crostata di Mele.

Later… a creamy sweet goodness of Zuppa Inglese. Yum!

Mamma Rosy - Zuppa Inglese

Zuppa Inglese.

A Panna Cotta… perfect size, creamy, lovely vanilla, good enough to die for! Everyone attended here rushed to take a sip of this. Me? Don’t you dare to cross my line! *nyaamm*

Mamma Rosy - Panna Cotta

Panna Cotta.

Finally… Budino Della Nonna. I swear, this one is nice! Topped to eleven as I’m a sweet tooth and I love caramel! It’s wonderful!

Mamma Rosy - Budino Della Nonna

Budino Della Nonna.

Good food made by passionate family, perfect and comfortable ambience, good talk, and some warm and nice sharing with Vigone family. It’s a total hits for me! In ShoppingMagz’s Food Squad lexicon: Happy tummy! I’ll go there sometime for meals, and I wish to have a good talk with them again.

With Vigone Family

Me (left), Rino (right), and Vigone Family.

PS: For Daniel, please invite me for the truffle season, because I’ll do anything to see it, touch it, and taste it by myself! (of course if I allowed :p )

AW’s Personal Rating: √√√√√ (Perfect score, who object my decision? Everything is nice here!)

MAMMA ROSY

Jalan Kemang Raya no. 58. South Jakarta – Jakarta Capital Region, Indonesia.

Phone: +62 21 71791592

Twitter: @mammarosy_jkt

Click for web.

Operation Hour:

Weekdays: 11 am – 10 pm

Weekend: 11 am – 12 am

Budget range (tax not included):

Foods & desserts: Rp 39.000,00 – Rp 149.000,00

Beverages: Rp 22.000,00 – Rp 1.600.000,00

Additional notes: Just come and enjoy! Daniel told me that in circa October 2013, the upstairs bar will be opened!

-AW-


Black Rice And Portabello Mushroom Risotto

Black Rice Mushroom Risotto (2)

Risotto, merupakan makanan khas Italia yang dibuat dari nasi dengan kaldu, krim, atau bahan2 lainnya. Beras yang biasanya digunakan adalah beras berukuran hampir bulat yang disebut beras arborio. Jenis beras ini bisa menyerap kandungan air dalam jumlah besar dan menambah tekstur creamy ketika risotto dimasak. Tapi kali ini saya mencoba berkreasi dengan menggunakan beras hitam. Beras hitam, bukan beras merah. Beras kultivar ini memang jarang digunakan sebagai bahan masakan utama. Beras hitam memang tidak memiliki serat seperti beras merah, tapi kandungan vitamin E dan peran sebagai antikolesterolnya sangat baik untuk kesehatan. Untuk itulah, kali ini saya menyulapnya jadi sesuatu yang beda. Dimasak dengan bahan sederhana, metode yang sederhana juga, belum tentu sesempurna metode asli pembuatan risotto, tapi rasanya saya akui berani diadu!

BAHAN

3/4 cangkir teh beras hitam

500 mL air untuk merebus beras

220 mL air hangat

100 mL krim masak

1 buah jamur Portabello ukuran besar, buang tangkainya dan iris tipis dengan ketebalan 0.5 cm

1/2 siung bawang bombai, cincang

2 siung bawang putih, cincang

1/2 sdm cabe bubuk kasar

2/3 sdt lada hitam

1 sdt daun oregano kering

Garam secukupnya

Minyak zaitun (light) untuk menumis

Sejumput keju mozzarella, parut (untuk mengatur kekentalan)

Keju parmesan untuk taburan (optional)

CARA MEMBUAT

  1. Masukkan beras hitam ke panci, masukkan air, masak 1/2 matang (masih kaku, tapi sudah bisa digigit; tekstur seperti kacang rebus, agak lunak tapi masih “melawan”). Pastikan air habis atau tiriskan jika masih ada. (Note: Di saat saya masak, tekstur ini saya dapat bersamaan dengan air menguap seluruhnya setelah api dimatikan)
  2. Panaskan wajan, tuang minyak zaitun, tumis bawang putih dan bawang bombai yang sudah dicincang hingga wangi. Jangan sampe menguning.
  3. Masukkan jamur Portabello. Tambah sedikit garam dan lada hitam. Masukkan cabe bubuk dan oregano. Aduk hingga jamur layu.
  4. Tuang krim masak ke campuran jamur, tambahkan air hangat. Aduk merata.
  5. Tambahkan beras hitam yang sudah dimasak setengah matang ke dalam campuran. Aduk hingga merata. Cek rasa, tambahkan lada hitam dan garam lagi jika masih dirasa kurang.
  6. Ambil sejumput keju mozarella, tambahkan dan aduk.
  7. Setelah air berkurang dengan tekstur agak kayak bubur dan creamy, dan nasi sudah matang, matikan api. Pindahkan ke mangkuk.
  8. Sajikan selagi panas dan cocok disantap dengan taburan keju parmesan. Porsi 1 orang.

Black Rice Mushroom Risotto (1)

Tambahan dari saya, memasak yang satu ini memang menantang. Karena jujur saya khawatir nasinya undercooked. Alhamdulillah ngga. 🙂

-AW-