Culinary Memoirs of A Biologist Who Loves Food

Posts tagged “jepang

Ramen Gunung Berapi di Kazan Ramen, Jakarta

Siapa sih di antara kita2 semua wahai foodies yang asing sama ramen? Ramen adalah mie khas Jepang yang berukuran mie normal (kalau gede jadi udon) dan dibuat dari tepung terigu (kalau soba dari buckwheat) dan disajikan biasanya sebagai makanan mie berkuah. Di Jepang sendiri, untuk setiap daerah, terdapat berbagai macam ramen yang khas… mulai daerah Hiroshima di selatan, sampai Sapporo di utara. Kuah yang digunakan biasanya adalah kaldu daging, bisa daging babi, daging ayam, atau ikan. Seiring modernisasi dan globalisasi, ramen pun bermacam2 cara penyajiannya dan bisa menjadi makanan yang disajikan dengan kreatif.

Oke… sekarang saya akan membahas sedikit soal rasa makanan dan suhu. Saya sempat melakukan percobaan kecil, bahwa ternyata suhu makanan itu berpengaruh pada bagaimana lidah kita sensitif terhadap pengecapan rasa. Coba ini:

  1. Minum jus pada suhu dingin, suhu ruang, dan suhu hangat. Meski dari satu kemasan yang sama, jus pada suhu ruang lebih terasa manis daripada jus pada suhu dingin dan hangat (kalau beda, bilang di kolom komentar ya).
  2. Makanan hangat memiliki rasa yang lebih enak daripada makanan dingin atau pada suhu ruang. Ini makanan tipe panas ya (bukan makanan dingin). Ntah karena faktor perilaku/kebiasaan, atau ada faktor kimiawi yang berpengaruh secara fisiologis.

Cukup dengan bahasan beratnya!

Hari ini (31 Oktober 2015) saya dan teman saya Andi berkesempatan mencicipi Kazan Ramen. Kazan dalam bahasa Jepang artinya gunung berapi! Lho kenapa disebut gitu? Mari lihat dari wadah penyajiannya dulu:

Kazan Ramen (1)

Oke… wadahnya itu yang merah sebelah kanan. Nope… itu bukan corong kebalik!

Beda dengan ramen pada umumnya, Kazan Ramen memiliki kuah dan isi yang terpisah di saat awal. Mie ramen, bumbu (di sini miso untuk menu yang saya pesan), sayuran, dan ayam ditempatkan dalam nabe (mangkuk gede) yang terbuat dari batu yang dipanaskan pada suhu sangat tinggi.

Oke… pesanan saya adalah Chicken Kazan Karamiso Ramen…

Cara penyajiannya…

KR - Chicken Kazan Karamiso (1)

Sekitar 350 ml kuah kaldu ayam dan miso dituang ke nabe. Kemudian ditutup.

KR - Chicken Kazan Karamiso (2)

Dari sinilah nama “kazan” itu berasal… ramen dibiarkan mendidih selama 1 menit.

KR - Chicken Kazan Karamiso (3)

Setelah mendidih akibat tekanan uap permukaan yang tinggi (oke… bahasa fisika), ramen ini diaduk.

Mie ramen di dalamnya ini lebih besar dan agak kayak udon tapi lebih kecil daripada udon. Mungkin ini bertujuan mencegah mie jadi mengeras dan gosong ketika sebelum dituang kaldu. Terus bagaimana rasanya? Enak banget! Proses pendidihan kaldu ini juga mengeluarkan komponen rasa dari sayuran dan ayam di dalam makanan ini. Seiring kaldu menguap, rasa akan terkonsentrasi di sisa kaldu, membuatnya lebih kaya rasa dan kuat. Kalau ga percaya, coba bandingkan kaldu yang tersisa di teko kaldu dengan kaldu di nabe. Pasti beda jauh! Walau pasti nanti kita akan tuang pelan2 kaldu yang tersisa.

Overall, saya suka sekali dengan menu ini. Unik juga, ayam yang disajikan juga ayam yang sebelumnya sudah dimasak dengan bumbu dan ukurannya gede. Ga kayak di ramen pada umumnya yang berupa ayam potong atau suwir. Mungkin dengan bagian ayam yang lebih utuh, rasa tersisa di ayam akan keluar bersama kaldu dan meresap ke dalamnya. Hmmm…

—-

Harga: Chicken Kazan Karamiso Ramen: IDR 79.000,00 (sebelum pajak)

KAZAN RAMEN

AEON Mall lantai 3, Ramen Village, Jl. BSD Raya Utama, Serpong, Tangerang. Ph: +6221 291 68513 atau +6221 291 68517.

Jam buka: 11:00 AM – 10:00 PM

Foursquare: Klik

Zomato: Klik

-AW-

Advertisements

Ketika Makanan Padang dan Jepang Bergabung – Suntiang, Jakarta

Kita mungkin tahu, makanan paling terkenal di dunia adalah masakan Cina, masakan Western (Amerika-Eropa secara umum), masakan Jepang, dan masakan Padang karena kebanyakan orang2 yang membawa makanan ini adalah pengelana banget (baik literal karena passion mereka, atau figuratif… ide2 mereka). Sekarang, kita persempit jadi makanan Jepang dan Padang. Makanan Jepang, siapa sih yang ga suka sushi? Makanan simpel dari ikan dengan nasi berbumbu dashi dan dimakan pake shoyu atau wasabi ini dari Indonesia sampai Amerika Serikat pun pasti banyak yang suka dan restorannya udah ada dari skala warung, seniman sushi (biasanya di Jepang), sampe skala berbintang Michelin 3. Makanan Padang? Siapapun yang pernah jadi mahasiswa pasti suka, apalagi mereka yang suka makanan berempah dan pedas. Menurut CNN Travel, Rendang dan Sushi termasuk makanan terbaik di dunia. Dulu Rendang masuk peringkat pertama (sekarang 11) dan Sushi sekarang peringkat 4 (Sumber: CNN Travel 21 Juli 2011).

Terus… jika kita menggabungkan masakan Padang dan Jepang gimana jadinya? Hah? Bisa ya??

Tentu bisa…

Suntiang

Suntiang, cabang Grand Indonesia, Jakarta.

Di Jakarta, ada restoran yang saat ini punya 2 cabang, yaitu di Pondok Indah Mall 2 dan Grand Indonesia yang menawarkan konsep masakan Padang yang dikemas sebagai masakan Jepang, Suntiang namanya.

Kemarin (14 Juli 2014), saya dan Dwiki memutuskan buat mampir untuk buka puasa di Suntiang cabang Grand Indonesia West Mall. Mengetahui keunikan konsep mereka, kami memesan beberapa makanan untuk kami coba.

Pesanan makanan berat saya adalah Gulai Ramen.

S - Gulai Ramen

Gulai Ramen… tanpa telur.

Gulai Ramen ini menarik sekali. Pakai mie ramen, kuah gulai tapi punya a bit hint of dashi, rumput laut (wakame), dan beberapa irisan chicken katsu, wortel, dan lobak. Adanya kuah gulai bertemu dengan rumput laut ini memberikan sensasi yang tiada bandingnya. Kuat seperti masakan Padang, tapi ga tabrakan dengan lembut/mild nya makanan Jepang. Rasanya luar biasa!

Kemudian Dwiki memesan seporsi Gyoza.

S - Gyoza Duo Raso

Gyoza Duo Raso.

Gyoza ini punya 2 rasa dan 3 saus dalam 1 porsi. Gyoza pertama rasa ayam balado, dan lainnya rasa rendang. Sausnya, ada kuah gulai, mayonnaise, dan kuah rendang. Gyoza di Suntiang ini dimasak dengan cara deep frying, bukan pemasakan gyoza pada umumnya yang dengan minyak dan air, tapi gak masalah sih. Gyoza rendang rasanya kayak samosa India. Secara personal, saya jatuh cinta sama gyoza yang isinya ayam balado, apalagi setelah dicelup 3 saus itu. Dahsyat!

Untuk sushi Padang, kami memesan 3 macam:

S - Rendang Roll

Rendang Roll.

Rendang Roll ini nampaknya adalah signature dish sushi fusion di restoran ini. Kombinasi alam raya dunia kuliner, hibrida 2 masakan terenak dunia ini, rasanya ENAK BANGET! Rendang yang kering (moist, bukan sekering dendeng, tapi ga sebasah rendang kuah) dengan timun, dan selada. Menariknya, nasi di sini adalah nasi sushi yang pulen dengan infusi dashi kombu seperti sushi pada umumnya. Rasanya? Sangat selaras dan mampu memanjakan lidah!

S - Sambal Chicken Teriyaki Roll

Sambal Chicken Teriyaki Roll.

Sambal Chicken Teriyaki Roll, isinya ada chicken teriyaki, timun, dengan sambal balado merah dan hijau diletakkan di atas roll. Sambalnya asam pedas, tapi aman buat mereka yang ga biasa makan pedes. Mungkin dipake buat menyeimbangkan rasa ayamnya. Tapi, rasanya joss banget! Manisnya ayam teriyaki, renyahnya timun, dan rasa unik sambel bisa bersatu dan berdansa di lidah.

S - Lidah Balado Roll

Lidah Balado Roll.

Lidah Balado Roll. Lidah sapi, sambal balado. Rasanya nendang, tapi sejujurnya perlu membuat rasa lidahnya lebih kena lagi. Tapi dasarnya, makanan satu ini juga enak!

Menu masakan kreatif atas masakan anak bangsa saat ini mungkin menunjukkan betapa kreatifnya bangsa kita, dan jadi cara memperkenalkan dengan pelan2 kepada generasi muda betapa gak kalahnya kita sama masakan2 luar negeri. Tentu, karena makanan kita pun punya predikat terenak di luar sana. Sayang, belum semuanya tau. Mungkin pelan2…

—-

AW’s Overall Food Rating: √√√√√ (5 dari 5)

Harga (belum termasuk pajak 15%):

Gulai Ramen: Rp 58.000,00

Gyoza Duo Raso: Rp 39.000,00

Rendang Roll: Rp 33.000,00

Sambal Chicken Teriyaki Roll: Rp 33.000,00

Lidah Balado Roll: Rp 33.000,00

SUNTIANG

Grand Indonesia West Mall 5th Floor. Foursquare: klik

Pondok Indah Mall 2 3rd Floor Block 36. Foursquare: klik

-AW-


Tora-Tora, Yogyakarta

Restoran Jepang adalah restoran yang bisa dibilang menjadi tempat favorit untuk bersantap santai dengan keluarga, hingga bersantap a la fine dining. Semua tergantung restorannya. Kali ini, saya akan membahas tempat makan murah dengan rasa yang wah.

Saya suka makanan Jepang, ini terima kasih sama mbah putri saya yang memperkenalkannya (karena beliau jago masak) sejak saya kecil, dan kita semua tau ada restoran Jepang yang tergolong fast food yang saat ini ada di mana2 dan cukup populer sejak dulu. Sedihnya, harganya mulai melambung tinggi dan sekarang, tempat itu bukan rekomendasi personal saya untuk mau makan makanan Jepang untuk “iseng2” lagi.

Oke, jadi saya sekarang di Yogya untuk kuliah. Saya punya tendensi untuk mencari makanan yang murah, tapi enak. Semua anak kosan tau ini kan?

Sekarang, langsung ke topik utama. Rabu lalu (30 Oktober 2013), sore itu saya lagi baru menghela napas baru selesai praktikum (dan kalo boleh curcol sedikit, baru putus sama pacar saya… oke, lupakan) dan karena saya lapar, saya pun mengajak salah seorang teman saya, Diky, makan malam. Lupakan diet buat ga makan malem, mari nikmati hidup dulu!

Diky pun mengajak saya ke Tora-Tora. Restoran tenda yang ada di dekat/sebelum perempatan UGM (dari arah selatan, yang kalo ke kiri ada jalan Teknika Utara, kanan ke jalan Agro). Tempatnya sederhana, tapi dengan suasana yang ada… rasanya puas untuk makan. Dapurnya? Epic!

Tora-Tora - Flame

Disambut dengan api!

Tora-Tora - Kitchen

Para juru masak restoran ini.

Saya awalnya bingung pas Diky nanya mau mesan apa. Yang jelas saya nengok kanan, nengok kiri. Liat sebelah pada makan apa. Yang jelas, sebelah saya makan 1 porsi menu daging sapi yang dimasak khas, dan dagingnya itu tebal banget! Setelah saya usut, itu adalah Beef Wafuyaki nya mereka.

Terus saya pesan Beef Teriyaki dan Diky pesan Chicken Teriyaki.

Tora-Tora - Chicken & Beef Teriyaki

Chicken (atas) dan Beef (bawah) Teriyaki, plus nasi. Lumayan kan?

Daging sapinya tipis, tapi enak. Tekstur nya gak kayak daging sukiyaki yang tipis, tapi ini lebih kasar. Setelah diusut mereka emang pakai daging has dalam (tenderloin) yang mereka iris sendiri di dapur. Sausnya agak asin sih, tapi lumayan enak. Tapi saya jujur… Chicken Teriyaki nya enak! Mereka emang pake sedikit tepung untuk dibalur ke ayamnya biar menyerap saus. Rasanya teramplifikasi! Saladnya segar! Nasinya… cuma Rp 2.000,00, jadi kalo mau nambah ga ragu2. Cuma saya kan ga makan terlalu banyak karbohidrat berupa nasi akhir2 ini, jadi ya saya cuma makan 1 mangkuk aja.

Akhirnya kami bayar dan harganya surprisingly di bawah Rp 20.000,00!

Besoknya, hari Kamis saya ke sini lagi sorenya. Penasaran sama wafuyaki mereka yang konon adalah menu andalan. Malas nyoba yang Beef, saya nyoba yang ayam…

Tora-Tora - Chicken Wafuyaki

Ini dia. Chicken Wafuyaki!

Ukuran potongan ayamnya gokil! Cara makannya ada 2: dicelup ke kecap khususnya dan dimakan sama nasi, atau kecapnya dituang ke nasi dan dimakan. Yah… walau kendalanya adalah nasi mereka ga terlalu pulen. Tapi rasanya enak! Saingan sama masakan teppanyaki (menu Jepang: daging yang ditumis di atas wajan datar di atas meja).

Pas pulang, saya pun pesan Yakisoba mereka yang biasa dan ga pake telur.

Tora-Tora - Yakisoba

Yakisoba.

Walaupun rasanya lebih mirip ke mie goreng dengan saus Jepang (soalnya rasa mie soba ga kayak gitu), cuma rasanya nagih! Dagingnya enak, dan kol nya masih kriuk2!

AW’s Rating: √√√√ (4 dari 5, lumayan… harga oke, rasa oke, penampilan oke)

TORA-TORA

Jl. Kaliurang Km 5 sebelum belokan Selokan Mataram (dari arah selatan), Sleman. DI. Yogyakarta.

Jangkauan harga:

Makanan: Rp 2.500,00 – Rp 14.500,00 (Rp 54.000,00 untuk paket)

Minuman: Rp 1.000,00 – Rp 7.000,00

Jam buka: Yang jelas sekitar di atas jam 4 sampe jam 10 an malam apa ya…

*fitur baru* Foursquare: Tora – Tora Japanese Food

Pesan: Makan sebelum jam makan malam, atau bakal susah nyari tempat!

-AW-


Hakone, Yogyakarta

Siang hari (03 Oktober 2013) saya baru selesai memesan tiket pulang ke Jakarta bersama teman kuliah saya, Joko, di terminal Condong Catur, Sleman. Kemudian kami berdua lapar. Berasumsi bahwa di daerah sekitar Jalan Gejayan, Yogyakarta, banyak makanan, kami pun menyusurinya di siang yang terik naik motor.

Saya: Waduh Jok, mana nih… makanannya ga ada yang aneh. Biasa semua!

Joko: Iya juga…

Saya: Jangan yang di Jakarta atau Bandung juga ada tapi…

Joko: *melihat iklan besar di jalan* Wah apa tuh?

Saya: Ramen… dari bentuknya sih kayaknya mahal. Coba lewatin deh!

*400 meter kemudian, kami lewat sebuah restoran*

Saya: Keliatannya mahal sih, gimana?

Joko: Asal di bawah 50rb oke dah… *muterin motor, parkir*

Akhirnya kami masuk restoran. Restoran bernama Hakone yang menyebutkan bahwa mereka ahli ramen di Yogya dengan chef asli Jepang di dapur mereka. Menarik. Di siang hari, suasananya lumayan. Rada gelap, tapi nyaman dan gak panas.

Hakone (2) Hakone (1)

Interior dari Hakone.

Membuka menu, kami mangap.

Saya: Jok, ini sih bukan harga mahasiswa… *nengok ke mas2nya* Mas, bisa pake kartu? Debit Mandiri

Mas2: Bisa kok…

Joko: Yah, oke lah…

Saya: Lo ntar bayar ke gw aja, gw pake kartu deh.

Untuk siang ini, saya memesan Gyoza Ramen, Sake Temaki Sushi, dan air mineral dingin. Joko memesan Chicken Teriyaki Dry Ramen, dan Oolong Tea.

Awalnya, membaca testimoni di Foursquare, beberapa mengatakan pengalaman mereka di sini adalah makanannya lama datang atau pelayanannya kurang memuaskan. Kali ini? Ternyata cepat. Semua datang di bawah 20 menit.

Hakone - Drinks

Minuman kami.

Untuk minuman, kami lagi low budget, jadi pesannya gak neko2. Oolong Tea manis dingin, dan yah… air mineral dingin yang bahkan cuma 300 mL. Mengingat masa2 SMU, saya pun tahu cara mengakalinya! Saya minta ke mas2nya 1 gelas kosong dengan es. Lalu saya tuang airnya ke situ. Voila! Airnya banyakan!

Makanan pertama kami pun datang, Sake Temaki Sushi.

Hakone - Sake Temaki

Sake Temaki Sushi.

Untuk para pembaca awam yang baru baca blog saya, sake di sini bukan yang berarti minuman arak beras khas Jepang, tapi yang artinya ikan salmon. Temaki sushi (手巻き寿司) adalah sushi yang dibentuk dengan tangan dengan digulung berbentuk kerucut. Untuk yang satu ini, komentar saya… sushinya heboh banget. Salmonnya memang ada dan sudah dipanggang, itu pun sedikit. Sisanya ada crab stick, timun, dan wortel. Oke sih, saran saya tapi mending banyakin salmonnya. Soalnya ini tema utamanya adalah salmon, lho. Overall, rasanya lumayan.

Tak lama kemudian, ramen kami datang.

Hakone - Gyoza Ramen (no egg)

Gyoza Ramen (saya pesan tanpa telur).

Saya suka ramen ini. Kuahnya tidak kelewat asin (penyakit umum ramen di Indo pada kebanyakan) dan mie nya tidak kelembekan. Memang tidak konvensional karena ga ada kamaboko nya, tapi dengan ada jagung, wakame, dan nori, rasa kuahnya enak dan gurih (pada dasarnya rumput laut memang menambah rasa umami atau gurih secara alami, tanpa perlu MSG). Gyozanya… sayangnya ini di goreng penuh sih. Gyoza seharusnya digoreng dengan minyak di awal2 dan air pada akhirnya, sehingga konsistensinya renyah di bawah, lunak di atas. Cuma isinya enak!

Hakone - Chicken Teriyaki Dry Ramen

Chicken Teriyaki Dry Ramen.

Mie nya rasanya kayak yamien karena bumbu merica dan minyaknya. Lumayan tapi sih. Ayamnya agak kemanisan walaupun masih dalam range yang bisa ditoleransi sih. Cuma saya suka ayamnya karena renyah dan itu bikin nagih.

Setelah makan, kami pun minta tagihan dan… yah… harga Jakarta. Setelah itu kami pun bergegas balik naik motor…

Saya: Jok, sekarang gw ngerti kenapa fotografi makanan itu dibayar mahal… sekali bikin ngiler, restoran laku! Oke, lain kali gw ke sini kalo ama ortu atau kalo ada duit aja deh…

Joko: Hahaha… yoi!

Gyoza Ramen: Rp 43.500,00

Chicken Teriyaki Dry Ramen: Rp 39.500,00

Oolong Tea: Rp 8.500,00

Air mineral: Rp 5.000,00

Sake Temaki Sushi: Rp 20.000,00

Subtotal: Rp 116.500,00

Total (dengan pajak 10%): Rp 128.150,00

AW’s Rating: √√√√ (4 dari 5, oke lah… ramennya enak, tempat oke, harga standar resto)

HAKONE

Komplek Colombo no. 40, Yogyakarta. Telepon: +62274 556161

Jangkauan harga (belum termasuk pajak):

Makanan: Rp 10.000,00 – Rp 130.000,00

Minuman: Rp 5.000,00 – Rp 25.000,00

(harga keduanya dalam range perkiraan sekilas karena tadi hanya lihat sekilas)

Pesan tambahan: Ramennya enak, buat yang suka masakan Jepang boleh ke sini. Cuma harganya kurang oke buat mahasiswa ngumpul. Saran lain, mending dibuat menu yang ada nasi dan lauk seperti donburi dengan harga yang terjangkau, pasti makin banyak yang datang nanti!

-AW-


Sushi Miya8i, Depok

Saya adalah penggemar sushi. Saya suka sekali mengeksplor makanan Jepang satu ini dari satu tempat ke tempat lain. Mulai dari tipe original hingga sajian fusion hasil kreasi para chef yang ada di restoran.

Siang ini saya berburu bahan review untuk majalah. Iseng, saya pergi ke Depok dengan kereta Commuter Line dan turun di Stasiun Pondok Cina. Melangkah ke luar stasiun dan berjalan sesaat, tibalah saya di jalan raya kota Depok. Ramai, dan banyak makanan di pinggir jalan. Saya yakin (dengan sok taunya, tempat ini adalah area hang out anak2 Universitas Indonesia yang kuliah. Bagaimana tidak berpikir demikian, sebagai anak kosan selama 4 tahun di Bandung dan ke Yogya, saya sudah punya insting untuk mengendus seperti apa daerah kosan dan area tempat nongkrong mahasiswa *tsaah!*.

Gak jauh dari jalan keluar saya tadi, saya menapakkan kaki saya di Sushi Miya8i. Cukup terkenal dari mulut ke mulut, dan… namanya… ajaib. Kenapa namanya Miya8i yah? Otak bengkok saya bilang ini kayaknya ada hubungannya sama Maria Ozawa, wait… no! Jika iya, mungkin harapannya orang yang makan bisa addicted ke tempat ini (para pembaca yang baik, saya sebut aja yah… Maria Ozawa itu bintang film porno Jepang dengan alias Miyabi, oke? Jangan dieksplor!). Tunggu2… ya udah, mungkin ini adalah sebuah nama inovatif buatan sang pembuat restoran. Oke2, stop… saya ga mau membahasnya lebih lanjut dan saya gak mau dituntut gara2 membahas itu!

Masuk ke tempat ini, saya disambut mas2. Dia menawarkan menu makanan dan dengan gaya sok profesional, saya menanyakan menu andalan tempat ini. Pada akhirnya, saya memesan 2 sushi, eh nambah 1 lagi jadi 3, dan 1 minuman. Saya duduk, memperhatikan tempat ini secara seksama, menikmati suasana siang, dan wah… saya suka tempat ini. Saya bisa santai di sini. Di bawah bangku ada colokan, seolah mengundang saya untuk bisa duduk lebih lama dan ber-laptop ria. Cuma saya siang ini cuma mau kunjungan iseng aja, ga lama2. Jadi saya cuma duduk, nyantai, siang ini saya agak cranky gara2 saya lapar (ceritanya lagi ikut diet OCD), dan membalas LINE sang pacar nan jauh di sana. Belum lama, makanannya dateng! Wah, cepet! Paling saya hitung cuma sekitar 10 menit.

Pesanan saya yang pertama, Seulawah Roll. Sushi ini disajikan berbentuk gunung, piramida atau menara… setelah saya cek di internet, ternyata Seulawah adalah nama gunung di Aceh, jadi mungkin itu konsepnya ya. Sushi maki (roll) isi timun, wortel, dan ikan tuna panggang. Disusun, diberi remah tepung, mayo, shoyu manis, dan telur ikan terbang (tobikko). Saya ambil dan saya cicipi, rasanya enak! Ikannya kerasa, digigit kena remah tepungnya jadi kerasa ‘kres’ gitu, mayo-shoyu nya memberi cita rasa asam-manis yang pas.

Sushi Miya8i - Seulawah Roll

Seulawah Roll.

Bersamaan dengan itu keluar ke meja saya, minuman saya datang. Blue Virgin Mojito. Mojito biasanya adalah sirup yang dipakai buat minuman cocktail ataupun mocktail. Istilah virgin di sini… hmmm… bedasarkan apa yang pernah saya ketahui, menunjukkan bahwa ini adalah minuman tanpa alkohol (referensi ke Cuba Libre dan Virgin Cuba Libre, Cuba Libre adalah kola dengan lemon ditambah rum, sementara Virgin Cuba Libre tanpa rum). Mocktail, bisa dibilang begitu. Rasa minuman ini segar, rasa lime nya kerasa, dan menjadi teman makan saya yang pas siang ini. Sluurpp…

Sushi Miya8i - Blue Virgin Mojito

Blue Virgin Mojito.

Makanan kedua, saya pesan karena unik. Sushi pizza. Biasanya restoran2 sushi menyajikannya nyeleneh dengan nasinya dibentuk bulat, diberi ikan, dan mayo atau keju di atasnya lalu di flambe atau di-torch dengan api. Angry Pizza Sushi, bentuknya gak kayak gitu. Kotak2, isi ikan salmon, di atasnya ada keju dengan mayo, dan tobikko. Rasanya enak. Pas gitu rasa salmon dan keju (ya saya tau salmon itu ikan yang termasuk fleksibel dalam penyajian, dan ini rasanya klop). Kejunya gak ganggu, dan bisa nyambung sama ikan dan mayo. Saran saya buat restoran ini cuma satu, nasinya perlu dipertebal karena susah disumpit dan gampang pecah kalau salah jepit. Sisanya udah oke. Menu ini ga terlalu kerasa seperti pizza, mungkin nama ‘pizza’ di sini muncul karena keju di atas daging (ikan di sini).

Sushi Miya8i - Angry Pizza Sushi

Angry Pizza Sushi.

Saya pun tergoda memesan menu ketiga, Ori Baked California Roll. Tertegun melihat deskripsi menu, sushi isi timun dan di atasnya ada mayo dan kerang scallop. Scallop… ya scallop. Kerang ini cukup bisa dibilang makanan berkelas (walau tidak setinggi kerang abalon). Penasaran, saya pun memesannya. Pas tiba di meja, saya kaget. Kok di atas sushi nya yang ada malah crab stick?

Sushi Miya8i - Ori Baked California Roll

Ori Baked California Roll.

Penasaran, saya pun memakannya. Jujur, saya mencari2 di mana scallop nya. Soalnya sejauh saya mengeruk dengan sumput, cuma ada potongan crab stick. Suatu ketika, tiba2 ada perlawanan di gigi saya, sesuatu yang beda tingkat kekenyalannya. Inikah scallopnya? Ini masih jadi misteri sampai saya menulis ini. Kalau iya, baiklah… saran saya, mending scallop nya dibuat lebih appealing ketimbang crab stick nya. Kalau ga ada scallop, kalian telah menipu saya.

Sebelum pulang, saya iseng nanya sama mas2nya soal Seulawah Roll, kenapa namanya gitu? Sedihnya si mas ga bisa jawab. Buat saya, ini esensial lho biar si mas ini bukan chef nya. Seorang waiter/tress yang baik harus tau filosofi menu dan apa kelebihan menu2nya. Walaupun itu adalah restoran berupa warung sekalipun. Si mas ini bilang itu nama buatan chef nya di Kemayoran sana. Oke deh, saya mengangguk aja.

But, so far so good. Mayo untuk sushi di tempat ini rasanya khas. Bisa berpadu dengan sushi nya dang gak terlalu membuat mual. Saya suka tempat ini dan saya tertarik ke sini lagi kapan2 bareng temen2 saya buat hang out.

Oke… jadi…

Harga:

Angry Pizza Sushi – Rp 29.000,00

Blue Virgin Mojito – Rp 25.000,00

Ori Baked California Roll – Rp 31.000,00

Seulawah Roll – Rp 33.000,00

Subtotal: Rp 118.000,00 –> + 15% service tax + PPn

Total: Rp 135.290.00

Beuh… lumayan juga harganya.

AW Rating: √√√√ (4 dari 5, enak, originalitas nya ada, cuma harga beberapa menu masih intimidating buat saya dan saya masih penasaran sama scallop di makanan tadi… plus, maaf… mas tadi ga bisa jawab makna nama di balik Seulawah Roll nya)

SUSHI MIYA8I

Ruko Margonda Raya no. 417. RT 001/RW 008. Blok 5-6. Beji, Pondok Cina – Depok. Ph: +6221 7721 4559.

Jam buka: 11:00 am – 11:00 pm

Jangkauan Harga (belum dengan pajak):

Makanan: Rp 9.000,00 – Rp 115.000,00 (yang 115rb ini adalah paket shabu-shabu, sisanya di bawah 70rb)

Minuman: Rp 10.000,00 – Rp 25.000,00

Tambahan: Perlu dicoba nih kalo malem ke sana! Haha…

-AW-


Belut Untuk Salah Satu Bahan Sushi: Anago & Unagi

Ada 2 jenis belut (secara keseluruhan, saya ga nyebut varietas A-Z dan dengan asal A-Z juga yang mungkin dibiakkan dengan cara yang beda). Anago (穴子) dan unagi (鰻).

Anago (穴子) adalah belut air laut. Tekstur dagingnya seperti ikan (saya bilang begini untuk saya bandingkan dengan unagi yang lebih empuk) dan memang punya rasa yang asin dan masih ada aroma amis ikan (yang segar, bukan amis ikan busuk). Dalam penyajiannya, biasanya setelah dikuliti dan dibuang tulangnya, anago dimasak dengan saus yang bergula. Atau disantap dengan saus kecap Jepang yang manis (bukan shoyu yang asin, rasanya lebih kayak saus teriyaki). Beda dengan unagianago lebih jarang dijumpai dan jarang juga diketahui ada yang melakukan akuakultur dan membiakkan belut ini (ada sih caranya, si belut dibiarin hidup di akuarium dan tinggal di pipa2 kayak di sini), karena rata2 didapat dari tangkapan nelayan. Belut ini dewasa saat 4-5 tahun dari total perkiraan hidupnya (10 tahun) sejak dari tahap telur. Inilah alasan kenapa anago susah dijumpai. Saya terakhir makan 1-2 tahun lalu di Sushi Tei.

Anago - 1 Anago - 2

Unagi (鰻) adalah belut air tawar. Dagingnya empuk dan kenyal, dan berlemak. Dari pengalaman yang saya dengar, butuh kemampuan khusus untuk mengolah unagi mulai dari membuang tulang, memanggangnya dengan saus, hingga menyajikannya. Mungkin inilah yang membuat saat ini unagi harganya tinggi sekali, selain dari seleksi ukurannya (karena untuk unagi dipilih belut yang besar dengan daging yang banyak), dan ketersediaannya di luar sana (belut Jepang, Anguilla japonica (Temm. & Schl., 1846), beda sama spesies di negara kita) yang semakin sedikit. Dalam penyajiannya, unagi bisa disajikan dengan dipanggang tanpa saus, walaupun kebanyakan yang dijual di restoran adalah unagi kabayaki, yaitu unagi dipanggang dengan saus manis khas Jepang.

Unagi

Ah, saya jadi mau makan dua2nya lagi…

-AW-

Sumber info: iOS App Sushipedia


Wafū Pasta Cooking Experiment #1 – Fusilli w/ Leek in White Miso and Cream Reduction

Wafū (和風) adalah istilah yang artinya “gaya Jepang” dan dalam hal ini juga bisa disebut “a la Jepang”. Masakan kali ini terinspirasi oleh masakan2 pasta di restoran Pasta de Waraku (yang ntah kapan bakal saya review). Wafū Pasta sendiri adalah menu fusion Italia-Jepang yang merupakan masakan pasta yang dimasak dengan bumbu dan bahan2 yang membuat masakan ini memiliki sensasi rasa khas Jepang. Masakan Italia biasanya memiliki kekhasan pada bumbu tomat, herba, krim, dan keju, sementara masakan Jepang seperti yang mungkin pernah mencoba memiliki rasa yang khas dengan rasa rumput laut, ikan, wasabi, miso, dan shoyu. Sekarang, keduanya akan digabungkan!

Wafuu Fusilli w: Leek in White Miso and Cream Reduction

Fusilli adalah pasta berbentuk heliks, kemudian dimasak dengan kuah dashi ikan sarden, miso putih, sedikit shoyu, daun bawang dan bawang putih yang diikat rasanya oleh krim. Sejauh ini, rasanya enak juga walaupun menyeimbangkan rasanya butuh konsentrasi penuh, karena kalau tidak rasanya bakal kelewat asin.

BAHAN

50 g fusilli kering, masak selama 6 menit dari saat air mendidih (3 menit sebelum al dente, dengan kata lain sedikit lunak tapi masih kaku)

50 ml krim cair

1.5 sdm miso putih

1 sachet dashi ikan sarden/bonito, larutkan dalam 1 cangkir penuh air panas

2 siung bawang putih, cincang

1 tangkai daun bawang, bagi 2: bagian pangkal, cincang tipis, dan bagian daun, potong sepanjang 1 cm.

1 sdm shoyu (kecap asin Jepang)

1 sdm minyak zaitun untuk menumis

CARA MEMBUAT

  1. Tumis bawang putih dan pangkal daun bawang hingga wangi.
  2. Tuang larutan dashi, aduk. Tuang shoyu dan masukkan miso, aduk hingga miso larut.
  3. Cek rasanya, tuang krim cair perlahan2 hingga rasanya tidak terlalu asin, tapi jangan sampai rasa krim mendominasi.
  4. Aduk perlahan hingga semuanya menyatu dan mendidih.
  5. Masukkan fusilli ke dalam campuran krim.
  6. Pastikan api kompor dalam nyala yang besar, aduk pasta secara menyeluruh hingga campuran krim agak mengering.
  7. Tambahkan daun bawang (bagian daun), aduk hingga agak layu dan krim mengering.
  8. Pindahkan ke piring. Sajikan selagi hangat. Porsi 1 orang.

Catatan: Butuh pengaturan yang pas agar rasa campuran dashi, miso, dan shoyu tidak terlalu asin, dan krim tidak kebanyakan.

Keterangan bahan: Dashi (出汁) adalah kaldu “rasa laut” khas Jepang, yang sederhananya bisa dibuat dengan cara menyeduh serutan ikan bonito (katsuobushi, 鰹節) atau meyeduh ke rumput laut kombu (昆布) untuk mendapatkan kaldunya. Proses dilakukan dengan menyeduh, karena jika dididihkan, maka rasanya akan rusak. Dashi memiliki kemampuan sebagai penguat rasa alami dan memberikan rasa gurih atau umami karena kandungannya (dari katsuobushi terdapat sodium inosinat, dan dari kombu terdapat asam glutamat).

-AW-


Kado, Jakarta Pusat

Sebuah restoran bertema “Authentic Kyoto” yang berlokasi di lantai LG dari Intercontinental Hotel. Waktu kami datang, kami sempat bingung mencarinya. Tapi setelah beberapa saat, kami sadar bahwa ternyata seharusnya dari eskalator turun dari lobby hotel, harusnya kami menengok ke kanan (sori… fail… kami nyari tempat cuma bedasarkan nanya2, kami ga liat adanya tanda).

   Kado (2)

Pintu masuk.

Kado (1)Tempat makan.

Masuk dari depan, restoran ini lokasinya cukup obscured, kontras dengan restoran di sekitarnya yang menjajakan makanannya di depan atau melakukan manuver display makanan dan menu yang interaktif. Pintu depan Kado yang menyambut kami adalah 2 bilah tirai kain khas Jepang yang berwarna hitam. Masuk ke dalam, kami melihat kentalnya implementasi nilai estetika Jepang di tempat ini. Yellow lighting ambience, bar, area tempat makan utama yang tenang dengan furnitur kayu. Aji bilang ke saya, tempat ini bener2 Kyoto (dia pernah ke Jepang). Impresi saya sendiri pun sepakat, suasana kedai Jepang yang minimalis. Cuma kagetnya, ternyata di posisi kami duduk, orang2 bebas merokok. Apakah sebenarnya ada ruang bebas merokoknya? Kami lupa menanyakannya. Tapi begitu masuk, kami langsung diarahkan ke tempat itu.

Dwiki: Kado itu ambiencenya minimalis bgt dan authentic, which is good, cuma ga disarankan buat org claustrophobia karena sangat tertutup.

Aji: Kado ambience ny enak, bener2 rasa Jepang. Cuma sayang aja ga dikasih tau ada daerah smoking ato non-smoking. Yang ngerokok persis di bawah ventilasi AC itu ganggu banget. Lain dari itu ga masalah, cuma mungkin orang yang ga suka tempat tertutup. Soalnya resto terkesan “nyelip”

Soal makanan, kami cukup surprised. Kami berada di hotel, kami sebelumnya mengira harganya bakal cukup untuk menguras uang mingguan kami. Ternyata harganya di luar dugaan kami, CUKUP MURAH! Melihat ke menu, restoran ini memiliki signature Kushiyaki dan Kamameshi. Kushiyaki memiliki arti yang mirip dengan sate, kushi (串) artinya daging tusuk, yaki (焼) artinya panggang. Restoran ini menyediakan berbagai macam kombinasi daging dan sayur tambahan (misal daun bawang, bawang, dll) untuk ditusuk dan dipanggang. Kamameshi (釜飯) artinya adalah nasi tanak/kettle rice. Penyajian masakan ini adalah dengan panci penanaknya; isi nasi dan topped dengan lauk pilihan kita. Yang kami keluhkan di sini cuma 1, tidak terpisahnya makanan halal dan non-halal. Cukup banyak menu makanan dengan daging babi di sini. Pada akhirnya, kami memilih menu yang tidak melibatkan panggangan dan gorengan. Tindakan preventif aja sih.

Pesanan kami hari ini: Dwiki memesan Rice Ball (onigiri) isi daging ikan salmon dengan pickled radish, kemudian Kokumaro Pudding yang merupakan pudding custard caramel, dengan tambahan salad buah dan wafer coklat. Aji memesan Tori Ramen set, yang isinya sendiri adalah ramen, salad isi selada dengan wafuu dressing, Chawan Mushi, custard telur yang ditim, dan penutup berupa pudding kacang merah dengan buah. Saya sendiri memesan Kamameshi dengan isi ikan salmon, dan Macha Ice Cream, es krim teh hijau. Minuman kami sederhana, kami cuma memesan teh hijau (ocha). Kami ingin preserve mood kami dengan meminum minuman autentik Jepang satu itu. Luckily, ocha-nya gratis dan bisa diisi ulang/refillable.

Onigiri Salmon w: Daikon

Rice Ball (Onigiri) & Acar Lobak

Chawan Mushi Tori Ramen (1)Tori Ramen (2)Wafuu Salad

(berurutan) Chawan Mushi (sepaket sama Tori Ramen), Tori Ramen, Tori Ramen (ayamnya disumpit), Wafuu Salad (sepaket sama Tori Ramen).

Soal rasa, saya benar-benar kagum dengan originalitas rasa khas Jepang di restoran ini. Rasa masakan Jepang itu alami. Berbeda dengan masakan negara kita yang kaya dengan rempah dan punya rasa yang beragam. Makanan Jepang itu simpel dan rustic. Bermain rasa langsung dengan bahannya. Rice Ball yang Dwiki makan misalnya, nasi kepal yang simpel, dengan isi ikan salmon dengan rasa yang gurih, agak dry, tapi dengan rasa salmon yang enak. Tori Ramen yang Aji pesan tergolong shio ramen. Shio (塩) dalam bahasa Jepang artinya garam. Dibanding jenis ramen yang lain, jenis ini dimasak dengan jumlah garam yang lebih banyak. Tori Ramen yang kami pesan memiliki aroma minyak wijen dan bawang putih di kaldunya sebagai tambahan. Tori sendiri artinya burung, dalam generalisasi, tori artinya ayam. Percaya dengan saya, saat Anda memesan yakitori (焼き鳥) maka dagingnya pasti daging ayam dan bukan burung dara. Rasanya enak walau mie nya agak lunak, dan jenis mie yang dipake pun berbeda, yaitu jenis mie ramen diameter kecil. Chawan Mushi nya enak, rasanya segar, dengan infusi rasa dari jamur shimeji dan rebung di atasnya.

Aji: Dari tori ramen set, dengan harga 60 ribu-an, udah dapet chawan mushi, salad saus wafuu, dan pudding coklat-kacang merah + buah itu wow. Bener2 ngenyangin, apalagi rasanya cukup otentik. Sedikit ngerasa lucu dengan tekstur ramen yg lebih lunak dari kebanyakan resto, selain kuah yg light, tapi jadi bervolume dengan dikasih minyak wijen + bawang goreng. Salad wafuu*, mungkin agak nanggung. Chawan mushi nya mantap, combo buah dan pudding ny sah buat penutup.

Menunggu paling lama, akhirnya Kamameshi pesanan saya datang. Pertama pesanan itu datang, saya amazed. Nilai seni dari penanaknya, centong nasinya, dan salmonnya. Salmonnya diiris tipis dan dikukus, kemudian ada telor di atas nasinya. Kenapa ada centong nasi? Jelas jawabannya, untuk mengaduk sebelum dimakan. Rasanya? Mild dan original. Tidak ada rasa asin di sini, hanya rasa ikan salmon dengan kaldunya yang merembes ke nasi, rasa gurih, dan sedikit tambahan rasa telor ayam yang diorak-arik.

Sake Kamameshi (1) Sake Kamameshi (2) Sake Kamameshi (3)

(berurutan) Sake Kamameshi (dalam wajan), setelah dibuka, dan setelah diaduk.

Makanan penutup kami bisa dibilang remarkable. Macha Ice Cream nya enak, pudding milik Dwiki dan Aji juga rasanya ngga macem2.

Kokumaro Pudding Macha Ice Cream (Kado)

Kokumaro Pudding & Macha Ice Cream

Untuk saya, saya cukup puas dengan kunjungan kami kali ini. In the end, it’s nice to know this place and to let us feel the ambience of authentic Japanese for our lunch. Despite of the minimality of our food range of order due to ingredients of the food, overall, we enjoyed our meal.

Harga Pesanan Kami:

Sake** Kamameshi ……   Rp 70.000,00

Rice Ball………………   Rp 17.000,00

Tori Ramen set………..   Rp 54.000.00

Kokumaro Pudding……  Rp 30.000,00

Macha Ice Cream ……..  Rp 30.000,00

***

Total (plus pajak ≈ 21%) Rp 243.000,00

*Wafuu: Istilah yang artinya a la jepang. Salad wafuu, salad dengan sentuhan Jepang.

**Sake (サケ) = ikan salmon, bukan sake (酒) = minuman alkohol khas Jepang yang dibuat dari beras yang difermentasikan.

***Ocha gratis dan bisa isi ulang

AW & Food Squad Rating: √√√ (3 dari 5)

KADO

Intercontinental Hotel LG Floor – Jl. Jenderal Sudirman Kav 10-11. Jakarta

(021) 5732030 ext 6703/4735

Jangkauan harga: Rp 15.000,00 – Rp 130.000++ (termasuk paket untuk rame2)

Tips kami: Melihat lokasinya, pas untuk makan siang dan mengobrol untuk urusan kerja.

-AW, feat DMP, GAW-