Culinary Memoirs of A Biologist Who Loves Food

Posts tagged “naan

K99 Curry House, Bandung

Kali ini saya mau sedikit mengulas kunjungan iseng saya ke Bandung.

Hari Kamis (06 Februari 2014) pagi, saya baru tiba di Bandung setelah perjalanan naik kereta api. Pagi itu, saya langsung ke kosannya Radian. Tidur…

Sesadarnya (baca: Sebangunnya) saya baru ingat bahwa semua orang nampaknya hari ini sedang sibuk. Radian… kuliah sampai sore, Yunda juga… TERUS SAYA MAU APA SEHARIAN?? Hiks… Oke, tenang… tenang Dit… Maka muncul sebuah ide gila yang saya sendiri sebut Adit’s Day Out pada hari itu. Jalan sendiri ke tempat yang nampaknya hanya harus saya sendiri untuk kunjungi, ntah karena momen nostalgia, atau faktor mobilisasi yang lebih efisien… atau karena uang yang dikeluarkan. Maka, saya pun pergi ke restoran India, K99 Curry House.

Sebenarnya tempat ini bukanlah tempat baru untuk saya. Mengapa? 3 tahun lalu, ketika tempat ini baru buka dan masih bernuansa “warung” ketimbang restoran India seperti sekarang, plus masih ada di Pasteur, saya sering berkunjung… begitu juga teman2 saya. Yang sangat… sangat… sangat… legendaris dari tempat ini adalah kemampuan pesan antar/delivery nya yang… SANGAT BAIK. Mbak Kartika, sang manajer (iya kan ya) tempat ini, bilang bahwa area pesan bahkan sampai daerah Jatinangor yang ada di sisi lain Bandung. Oke, ini baiknya keterlaluan. Mengetahui ini, saya pun cerita ke teman2 saya dan mereka pun senang juga dengan tempat ini. Makanan2 di sini secara pribadi merupakan comfort food buat saya, seiring saya tugas akhir, sibuk, bosan di kosan pada tahun terakhir kuliah, bahkan ketika saya patah hati pun, saya ga ragu memesan kari dhal, naan, dan ayam tandoori dari sini… oke, maaf curcol. Selulusnya saya dari ITB, saya pergi dari Bandung… dan saya sejujurnya kangen dengan tempat ini. Kangen dengan makanan2, dan cerita dengan sang “uncle” di sini yang merupakan chef tapi beliau adalah konsultan di sini tentang bagaimana dulu ia mulai masak di Inggris dan Perancis, namun banting setir dengan pengetahuan Ayurveda mengenai makanan2 sehat dari India. Cerita2 dan pengetahuan beliaulah yang juga membuat saya bisa menilai makanan2 India seperti yang mungkin Anda pernah baca di artikel2 sebelumnya. Yah, sebuah perjalanan panjang. Satu hal, saya bahkan belum tahu nama “sang uncle konsultan” itu hingga kunjungan ini terjadi.

Tiga tahun…

Pagi itu, tibalah saya di restoran K99 ini yang berlokasi di Jalan Dr. Rajiman, Bandung. Pas saya melangkah, saya cuma bisa senyum, melihat perubahan tempat ini dari dulu yang kecil, dan sekarang jadi besar.

K99

Namaste!

Sekarang tempat ini bukan tempat kecil di pinggir jalan lagi seperti dulu, K99 Curry House merupakan restoran yang berfungsi penuh, dengan konsep kebudayaan India Selatan. Restoran ini sekarang memiliki beberapa segmen2 area yang terdiri atas: outdoor garden, outdoor, cafe, dan indoor.

K99- Garden 2  K99- Garden 1

Outdoor Garden.

K99 - Outdoor  K99 - Indoor 2

Outdoor

K99 - Indoor

Indoor

K99 - Cafe

Cafe

Outdoor area di sini terbagi atas yang biasa dan yang bernuansa taman. Yang biasa… yah… dengan atap dengan bangku biasa, dan yang taman, maka Anda akan makan dikelilingi tanaman termasuk tanaman pisang2an (Heliconia sp). Indoor… yah… dalam ruangan. Cafe, tempat ini agak berkesan bistro, namun dengan sentuhan India.

Walaupun kemampuan saya buat mengenal wajah itu suka berantakan, saya masih ingat wajah “Sang Uncle Konsultan” itu dan Mbak Kartika… dan hari itu… mereka ada semua… dan ingat saya! Kami pun langsung banyak cerita setelah saya membagikan kartu nama saya kepada mereka (dan menunjukkan bahwa saya sekarang jadi food blogger), dan saya juga memesan beberapa makanan. Untuk minuman pembuka, saya memesan Rosemilk atau yang di Singapura disebut Bandung.

K99 - Rosemilk

Rosemilk.

Sambil menyeruput manisnya Rosemilk, saya pun ngobrol2 lagi dengan sang uncle. Beliau membahas soal perbedaan kultur India Utara dan Selatan, termasuk dalam sisi kulinernya. Beliau juga membahas perubahan konsep restoran dari awal terbentuk hingga sekarang. Dulu K99 lahir dan masih semacam dalam trial run dengan beberapa makanan yang masih melewati “pengujian” dan sortir. Maksudnya? Disediakan makanan banyak, konsumen yang memesan, nanti akan terlihat mana yang menjadi selera lokal dan kemudian dipilih untuk dijadikan makanan di menu permanen.

Pesanan pertama saya? Ayam tandoori, satu set dengan naan, plus nasi biryani.

K99 - Tandoori Naan Set

Chicken Tandoori Set.

K99 - TN Mint Chutney   K99 - TN Northern Dhal Curry  K99 - TN Chicken Curry Broth

Kuah/Saus tambahannya: Mint chutney (hijau), Northern Indian Dhal Curry (kuning), Chicken Curry Broth (oranye).

K99 - Biryani

Plain Biryani Rice (w/ Papadam Crackers)

Ayam tandoori dimasak dalam periode 24 jam dan melewati perendaman semalam penuh dengan minimal 8-14 macam rempah2 khas India. Pemasakannya dilakukan di oven tanah liat yang juga buat memasak naan yang disebut tandoor. Rasa ayam tandoori di sini luar biasa. Rasanya meresap total, asinnya pas, dan ga berminyak karena memasaknya dengan dipanggang. Dengan kata lain, sehat. Kerennya lagi, pas bagian sendi dibuka, tidak ada noda darah… As the uncle said,

“This is what you called a cooking precision!”

Satu kata, sempurna.

Saya personal suka makan tandoori dengan biryani. Kuah favorit saya itu kuah kari. Pembelajaran unik buat saya adalah soal Dhal Curry. Di platter ini saya duberuikan versi India Utara yang rasanya lebih datar dan lebih hambar. Kemudian saya diberikan versi India Selatan yang lebih berempah. Luar biasa.

Mint chutney… saya sudah membahasnya cukup sering di blog ini karena ini nampaknya merupakan kuah celupan yang sangat umum di makanan India. Yoghurt dan daun mint dihaluskan… dan jadilah ini…

Pesanan kedua dan merupakan rekomendasi… Masala Butter Chicken.

K99 - Butter Chicken Masala 2  K99 - Butter Chicken Masala 1

Masala Butter Chicken

Masala atau Garam Masala merupakan istilah India buat kombinasi rempah2 yang digunakan untuk masak. Bumbu2 ini terkenal dengan nilai plus untuk kesehatannya, dan dalam penggunaannya biasa menggunakan adas, kapulaga, biji anise, dan lain2… jumlahnya cukup bervariasi. Masala Butter Chicken ini sejujurnya sangat addicting buat saya. Buat orang yang ga terlalu kuat sama pedas, rasanya cenderung mild… tapi nuansa rempah2nya dapat sekali! Potongan ayamnya yang lunak berpadu bumbu… Nyammm… oke… aduh saya haus… 1 teh tarik!

K99 - Ice Teh Tarik

Ini tentu bukan yang bakal Anda dapatkan, ini tinggal setengah karena saya terlalu menikmati sebelum saya sempat potret…

Teh tarik merupakan minuman yang digemari di kawasan Sumatera-Malaysia-Singapura. Teh, susu, rempah seperti biji anise dan kayu manis, lalu disajikan dengan “ditarik” di dapur hingga berbuih. Favorit saya ketika saya makan di restoran Aceh atau India-Malaysia.

Satu rekomendasi lagi dari K99… Paneer Pakkora…

K99 - Paneer Pakhora  K99 - Paneer Pakhora - Bit

Paneer Pakkora (kiri: utuh, dengan mint chutney, kanan: baru saya gigit).

Paneer merupakan keju khas India yang biasa dibuat secara sederhana oleh penduduk lokal dari susu sapi atau kerbau. Rasanya hambar dan cita rasanya agak kenyal seperti perpaduan kue spons dan tahu. Bisa dimasak menjadi kari, atau seperti yang satu ini… digoreng dengan tepung kacang lentil dan rempah menjadi Pakkora. Rasanya enteng, pas buat snack kalau nunggu teman atau buat makanan pembuka. Rasa kuat nya muncul dari chutney yang asam.

Saya kenyang… banget… Tapi kunjungan hari ini sangat bernilai buat saya. Melihat dengan mata kepala saya sendiri perkembangan tempat ini itu merupakan nilai tersendiri buat saya, heartwarming thing is… the uncle finally revealed his name and his identity as food critique as well! Tapi saya menghormati beliau karena nampaknya beliau tidak mau namanya di-publish.

Sebenarnya, kalau saya boleh kritik… cuma satu yang sampai sekarang masih kurang: Mesin debit/kredit bank! Karena kalau kemaren saya gak diijinkan buat bayar via transfer (maaf, ini kasus spesial… Anda ga boleh niru!), saya bakal jalan cukup jauh ke ATM terdekat!

Saya… gak bisa… ga ngasih nilai penuh buat restoran ini sekarang. Saya belajar tentang makanan India di sini, dan mendengar cerita bahwa seorang mahasiswi ITB, Arini Annisa membuat gambar tentang kultur India di sini yang membawanya untuk lulus, saya cuma sekali lagi bisa angkat topi buat tempat ini… buat Rini… dan buat mereka yang memajangnya di dinding dengan lampu sorot khusus demi mahakarya lukisan tadi!

Thanks uncle and Kartika for the recommended meals and the special story for every time of my visit! I can’t wait for the next visit, but I’m sorry last Saturday I couldn’t make it for visit because I had another plan…

AW’s Rating: √√√√√ (5 of 5, full score)

K99 CURRY HOUSE

Jl. Dr. Rajiman no. 29, Bandung. Ph: +62 22 91260321, Twitter: @K99CurryHouse

Price Range:

Food: Rp 6.000,00 – Rp 55.000,00 (6k for rice, 55 for set)

Beverage: Rp 4.000,00 – Rp 18.000,00

Opening Hours: 11 AM – 10 PM

Foursquare: (click)

Tips: Nikmati waktu malam minggu Anda untuk berkumpul di sini dengan keluarga, teman2, atau… yah… dengan pacar/gebetan ke sini buat makan!

Tambahan: Tempat ini pas buat makan kilat, atau makan lama…

-AW-


A Visit to Tekka Centre Food Court and Big Bites in Little India, Singapore

Okay, still… on this time I will continue to share my experience on my last visit on Singapore (November 21st-24th, 2013). Honestly, I don’t know how many of my friends in Indonesia (I’m not talking on my Food Squad whose stomach really adaptive from mild food of Japanese to spicy food of India and Middle East, to the heterogeneity of composition in African food) are suitable with Indian food. Even my juniors in my campus said that their olfactory sensors (nose… inside… thingy) and stomach are incapable to withstand. Their loss, I said.

Okay, now let’s get back to business, shall we? So I stayed in my friend’s place in Little India. Not really in Little India actually, but near to MacKenzie Road, so it’s only few long steps ahead to there. All I know since I was younger when I visited Little India, the area is vast. Of course the point of interests are the Indian market, their incenses are everywhere, Mustafa shop where you can buy souvenirs before you go back (both edible and inedible), and Indian food. As I love to eat, in the last 2 years, I’ve tagged several places to visit for food and one of those is Tekka Centre. It’s a big food court. You can find cuisines of multiple countries whose people usually come to Singapore, such as Malaysia, China, Sri Lanka, India, and of course my country of Indonesia.

I love Indian food. The cuisines of India never ceased to excite me (here I’m talking about Indian food because it’s the highlight about this topic). Once, I have some dialogue with a chef who at first cook French cuisine but he has a heel-face turn on Indian food because he interested on their concept of healthy food. He learned that in Indian cuisine, food that made to be offered has to possess a benevolence impact on human who ate it. So there’s thing from Hindi culture called Ayurveda which describes some methods and combinations to make foods are good to human body. For anything else, that made Indian food uses tons of spices for their preparations. For example, the chef said that in order to prepare a Tandoori chicken, at least of 8 to 14 spices are used to marinate the chicken meat for 12 hours before finishing process (Tandoori chicken is known to be roasted or fried).

Back on Tekka, I got there with Lanang and Rino and on that time I was so amazed when my friend, Lanang show me that Indian food there is divided into 2 regions: Northern Indian cuisine, and Souther Indian cuisine. Correct me if I wrong, Northern Indian foods are known to be spicier and hotter, while the Southern Indian’s are relatively mild and usually served with banana leaf for plating.

So, for lunch, I had SGD 25 for the budget. Then I looked around the food court and find something that tempted my eyes (eyes come first, then aroma, then taste, followed by responds from digestive system, this is my survival guide on culinary travel so far).

Tekka Centre 1

Looks crowded, isn’t it?

For main course, I ordered my favourite meal: Fish biryani and it costed SGD 4.5 at that time with portion almost twice amount in the same price I bought on my own country.

Tekka - Fish Biryani

The Fish Biryani with Vegetable Curry.

Funny thing was, mentioning my last visit on the same restaurant, “Hanifa, The Biryani Specialist”. They used banana leaf for plating and on my latest visit they used paper. But okay, never mind. Thing that I like here is the flavour is milder, and the usage of saffron on rice is prominent. See the picture? See the coloration of the rice. Due known as the most pricey spice on the planet, utilisation on saffron us only in limited amount. Fortunately, in only addition of few amount, you can make more intense colour coverage on rice rather than when you use turmeric. I also like the additional veggie curry they gave in extra. It consists of lentils, or dhal in Hindi name. Recalling again, the fish biryani is SGD 4.5, you can add few cents to add extra Papadam cracker on it. Scoring for the fish biryani here is √√√√½ (4.5 out of 5).

Only for that day, I stretched my stomach capacity to try more. Following Lanang’s recommendation, I visited the Northern Indian food stand and ordered a Garlic Naan. As I always do, it’s fun to see the making of Naan. Unique it is, to see a man making a bread, patting it, and stick it on the wall of a giant clay pot with burning charcoal in the bottom, and once the Naan is ready, he uses a pick to get the Naan, brushes it with butter, added some add ons (in this matter, chopped garlic and cilantro leaf), slices the Naan, and bam! There you have it!

Tekka - Making Naan

This is the “oven” for making Naan.

Tekka - Garlic Naan

My Garlic Naan.

In the other hand, Lanang also bought the same menu, with roasted Chicken Tikka Masala.

Tekka - Garlic Naan & Chicken Tikka

Lanang’s Garlic Naan, Chicken Tikka Masala (the red one), and Curry Broth.

Personally, I prefer Naan than Prata. It’s easier to eat too. When you eat Prata, when you rip the bread, it’ll messed up if you don’t get use to it. In Naan, it won’t mess you up, only leave you some oil in your hand if they used liquified butter. Scoring for the Naan: √√√√√ (full score!).

The Chicken Tikka Masala is really spicy. I learned that similar process of marinating is used like when you making Chicken Tandoori (please correct me if I wrong, okay). But I like it!

Later, I’m still curious about some meals. I visited a stand named S.J. Tandoori. They also sell naan and curry. The other interesting fact here is they also sell snacks. There, I bought Butter Naan with Vegetable Curry and a unique Indian dessert, Gulab Jamun.

Tekka - Butter Naan, Vegetable Curry & Shalot Chutney

Butter Naan with Shallot Relish and Mint Chutney, and Vegetable Curry.

The Butter Naan here is smoother in appearance, and look! I got chopped shallot relish and… mint chutney! Perhaps I can pour it somewhere and see what’s gonna happened (lame reference to “3 Idiots”). And man, look at the curry. It’s nice, and loaded with goodness of lentils, potato, and some other vegetables on it. About the naan, actually I love the burn mark on it; indicating that it has been burned to perfection… to crispiness. But this one is okay, the butter… I believe they used Ghee (some kind of butter with lower water content), it has nice flavour on it. This one is SGD 1.50 (but I forget about  price of the curry). Scoring for the Naan: √√√√½ (4.5 out of 5).

Now, I’ll show you this:

Tekka - Gulaab Jamun 1

Gulab Jamun.

Tekka - Gulaab Jamun 2

Bitten Gulab Jamun.

I consider that this SGD 2.00 dessert is one of the most unique sweets I ever ate. According on several recipes and literatures that I read, Gulab Jamun is made from a dough made from buffalo milk, sugar, then fried until brown, and served in liquid sugar and rose water syrup. A massive intake of calories, eh? It’s okay. Funny thing is, the Gulab Jamun I tried here is more flour-ish than milk in my taste buds. Plus, instead of using rose water, they use ginger water. It’s… zingy… warm… and sweet! And as they add more flour, (apparently) you can worry less about your calories intake.

As I done with my lunch, I made some walk with Rino in the neighbourhood area of Little India. I found a local retail selling Indian snacks.

BB - Indian 2

It’s like… falafel… or veggie cookie, I guess.

BB - Indian 1

There’s Dhokla, Samosa, Murukku.

I know Samosa, it’s fried flour dumplings with curry and vegetables on the inside. I haven’t tried Murukku, but it said that it’s made from rice and urad dal flour. Well, it worth to try next time. Dhokla… ah I’ve mention this one before.

BB - Dhokla 2

Dhokla… it sounds like a bomb… (another reference to “3 Idiots”)

BB - Dhokla

Served Dhokla.

Dhokla is made from fermented rice and chickpea batter. It has consistency of sponge cake, very oily, and for me, it tastes like tofu. It usually served with green chilli, plus cilantro leaf and seeds.

Ah well, that’s for my Indian food experience! This time I cannot refer the name of the shops I visited because it will be too much and I didn’t keep the details as well. However, I’ll give you the place location on Foursquare:

Tekka Centre Food Court – The location is on Serangoon Road, near intersection of Sungei Road. If you walk from Selegie Road, go across MacKenzie Road, cross twice on Sungei Road (the road has 2 ways), then you managed to go to the left. You’ll see a vast food court. There you go! 4SQ link please click here.

Big Bites Restaurant – It’s on 70 Serangoon Road. From Tekka Centre, go to the northeast exit, as in your right is Serangoon Road, go to the north (go farther from the intersection). Walk for several buildings away then look on your right. Cross the road on a right place and go there. There you go! 4SQ link please click here.

Ah right, I recommend you if you go there by MRT, take the North-East Line (NE, the purple line) and stop in NE 7- Little India. Find the exit on MacKenzie road.

I hope you enjoy your reading, and as my experience fro Indian food is in learning as well, please do not hesitate to tell me for corrections and comments!

-AW-