Culinary Memoirs of A Biologist Who Loves Food

Posts tagged “solo

Wisata Kuliner: Sosis Solo

Halo pembaca! Di post ini saya ingi melanjutkan misi untuk menjelajahi kuliner khas Solo alias Surakarta, dan kali ini akan lebih fokus ke Sosis Solo. Sosis Solo merupakan makanan jenis makanan ringan yang biasanya menjadi jajanan pasar. Penjualannya sudah tersebar dari Solo sendiri ke Yogya, bahkan kita lain seperti Jakarta. Uniknya, sosis ini tidak seperti sosis!

Sosis Solo - Bitten

Malah kayak risoles! Dokumentasi 2 tahun lalu dari penjual yang di dekat kosan saya.

Daerah Jawa memiliki pengaruh kuat bekas kolonial Belanda dan bukan tidak mungkin bahwa sosis ini juga merupakan makanan yang diwariskan dari kebudayaan Belanda pada era kolonial. Sosis yang kita ketahui berasal dari kawasan Eropa Tengah (daerah Jerman, Belanda, dan sekitarnya) memiliki lapisan bungkus yang terbuat dari usus babi gelatin, kulit, hingga kolagen sapi. Mungkin karena di Indonesia saat itu sangat sulit diolah menjadi yang bisa diproses seperti sosis, sehingga yang digunakan adalah menggunakan tepung.

Jadi, mari kita ke Solo dulu…

Sosis - Basah & Kering (1)

Sosis Solo… yang kiri itu sosis basah, yang kanan sosis kering atau goreng…

Sosis - Basah & Kering (2)

…versi setelah digigit.

Sosis Solo yang saya temui ada dua macam: yang basah, yang dililit dari telur dadar yang tipis, dan yang kering, yang dari adonan risoles dan digoreng. Isinya sama, ayam cincang dengan bumbu yang manis. Bentuknya juga sama, yaitu panjang… yang mungkin lahir dari konsep awal sosis itu sendiri.

Kota tetangga Solo, Boyolali tepatnya kawasan Pengging, terkenal dengan wisata kuliner Sosis Bedug nya. Sosis ini bukan sebesar bedug, melainkan merupakan peninggalan Mbah Bedug yang menjadi awal dari usaha tersebut sejak tahun 1950. Berbeda dengan sosis Solo yang tipis adonannya, Sosis Bedug lebih tebal, dan dagingnya bukan ayam tetapi sapi.

Sosis - Bedug Pengging (1)

Sosis Bedug Pengging dari Boyolali…

Sosis - Bedug Pengging (2)

…bagian dalamnya.

Tekstur adonannya lebih lembut dan bagian terluarnya juga lembut (tidak renyah seperti sosis Solo yang lain) dan dilapisi putih telur sehingga lebih gurih. Intinya lebih lembut daripada renyah. Pokoké nampol!

Varian lainnya, adalah di sang pemrakarsa sup timlo di Solo, Timlo Sastro. Sosis Solo di sini berbeda lagi bentuknya, lebih seperti gabungan sosis Solo ini dengan martabak telur.

Sosis - TS Sosis Kuah (3)

Sosis versi Timlo Sastro

Bentuknya lebih besar, lembarannya lebih longgar dan isinya ayam bumbu juga tapi rasanya lebih asin. Sosis di Timlo Sastro ini disajikan lebih sebagai tambahan pada kuah Sup Timlo, atau disajikan sendiri sebagai Sosis Kuah. Kuah yang dipakai juga merupakan kuah kaldu yang dipakai pada Sup Timlo yang rasanya kuat dengan bawang merah, dan rasa ayam yang menjadi bahan utama kuah itu sendiri.

Sosis - TS Sosis Kuah (1) Sosis - TS Sosis Kuah (2)

Sosis Kuah…

Tanpa kuah, rasa sosis ini renyah seperti martabak dan ayam di dalamnya rasanya tidak diberi bumbu manis seperti sosis Solo lainnya. Sehingga rasa dari kuahnya yang memberi rasa ekstra ke sosis ini. Yang jelas sensasinya unik! Oh ya, makan timlo di sini juga dapat sosis ini lho di dalam campurannya! (Note: Cuma karena timlo isinya telur dan jeroan, dua hal yang saya kurang suka… maka saya lebih prefer sosis kuah itu).

Variasi dari menu Sosis Solo ini bisa menjadi peluang usaha atau semacam “godaan” buat kalian untuk berwisata kuliner lagi. Jadi, kapan kalian mau ke Solo? 🙂

Sosis pertama karena itu belinya random sebagai jajanan, saya ga akan ngasih alamatnya.

Sosis kedua saya beli di Solo, di toko2 jajanan seperti:

Mie Gadjah Mas. Jl. Suryopranoto no. 1 (dekat Pasar Gede), Solo. Harga: (kalo ga salah) Rp 3.000,00-Rp 5.000,00. Foursquare klik sini.

Sosis kuah:

Timlo Sastro. Jl. Pasar Gede Timur 1-2, Solo. Harga: Rp 12.000,00. Foursquare klik sini. Note: Buka pagi sampai siang saja, sore tutup.

Sosis Bedug Pengging:

Sosis Bedug Pengging. Kawasan Pasar Pengging, Kecamatan Banyudono – Boyolali. Harga: Rp 3.000,00. Foursqure Pasar Pengging klik sini.

-AW-


Wisata Kuliner: Mencari Cemilan di Solo

Hari Sabtu (19 Oktober 2013), saya dan teman saya Joko pergi ke Solo untuk menyusuri kota di mana makanan2nya punya keunikan tersendiri (dari yang saya ketahui ya). Bagaimana tidak? Cek ini:

  1. Sosis Solo. Bentuknya gak kayak sosis, tapi kayak risoles.
  2. Serabi Solo. Bentuknya gak kayak serabi, tapi kayak kue ape.
  3. Selat Solo (Selat awal katanya dari ‘Salad’). Bentuknya gak kayak salad, tapi kayak bistik kuah.

Ya itu deh. Alhasil, kami pun melesat dari Yogyakarta jam 8 pagi dengan persiapan seadanya. Joko bahkan ga bawa tas, cuma bawa jaket. Saya? Tas isi charger, jaket, tas kamera, dan botol minum.

Pagi ini teriknya minta ampun. Melihat sebuah aplikasi cuaca di HP saya, saya cukup kaget. Cuaca kering, tingkat indeks radiasi ultra violet hari ini sangat tinggi (skala 9-12, 9 itu sangat tinggi, dan di atas 10 itu ekstrim).

Joko: Lo ga pake jaket? Kulit lo kebakar ntar.

Saya: Udah… cuek aja kalo kulit sih…

Cekaman pagi ini akibat cuaca cukup ekstrim. Panas, ditambah perjalanan 2 jam di jalan naik motor. Pantat rasanya super pegal. Di tengah jalan, kami stop sesaat di sebuah toko untuk beli minum untuk 15 menit dan jalan lagi. Tibalah kami di pinggiran Surakarta atau Solo jam 11 siang lewat.

Konyolnya setelah kami tiba di jalanan utama Solo, Jalan Slamet Riyadi, baru kepikiran sesuatu:

“Kita mau ke mana sih sebenernya?”

Untungnya, ada teknologi yang namanya Facebook dan Foursquare. Facebook, di saat yang pas ini, teman saya dan adek kelas saya Gagas bilang:

“Kakak harus pergi ke restoran Kusuma Sari.. Most recomended.”

Saya pun ga ada ide itu restoran apa awalnya, ngecek di Foursquare, ternyata tempatnya gak jauh. Udah, yang penting ngadem dulu. PANAS!

Jalan di sepanjang Jalan Slamet Riyadi bagian kota, kita bisa ngeliat ada trem di sebelah kanan (ga usah jauh2 ke Eropa bro kalo mau liat trem), pepohonan di kanan-kiri, dan begitu ke arah kota, kita bakal mulai ngeliat penjual serabi gerobak berjualan di sisi kanan-kiri (kemaren liatnya di kiri aja sih). Kami awalnya pengen berhenti, cuma kayaknya mending nyobain langsung di lokasi utamanya deh, biar seru!

Oke, tibalah kami di Kusuma Sari.

Kusuma Sari - Sign

Pelang tempat nya cukup kecil, dari Jalan Slamet Riyadi masuk Jalan Yos Sudarso belok kanan langsung nengok kanan.

Kusuma Sari - Exterior

Pintu masuknya.

Tempatnya nyaman, apalagi buat kita yang pengen santai abis perjalanan jauh atau mau ngobrol2 sejenak. Harga makanannya? Bisa dibilang murah! Kita bisa killing time di sini dengan makan kroket. Andalan mereka, ada kroket mayonaise. Kroket kentang tumbuk yang lembut dengan ayam, pakai tepung panir, digoreng, dan disajikan dengan mayo manis yang nampaknya buatan asli dari sini.

Kusuma Sari - Mini Kroket & Kroket Mayonaise

(Belakang) Kroket Mayonaise, (Depan) Kroket Mini.

Andalan lain tempat ini? Es krimnya! Dari yang saya cicipi, nampaknya mereka membuat sendiri es krim di tempat ini karena rasanya beda dan saya belum pernah mencicipi rasa ini dari brand lain.

Kusuma Sari - Vanilla Ice Cream Kusuma Sari - Kopyor Ice Cream

Es Krim Vanilla, dan Kopyor Sundae.

Di sini juga tersedia menu makan yang agak berat seperti salad, sup dan steak. Lalu, saya memesan Selat Solo.

Kusuma Sari - Selat Solo

Oh ini yang namanya ‘Selat Solo’

Selat Solo, konon awalnya dari kata “Salad” dan masakan ini berawal dari jaman di mana ada pengaruh Eropa di sini. Dari steak (atau sebut aja bistik), jadilah Selat Solo ini. Kita lihat aja, ada kentang goreng, wortel, buncis, tomat, telur, mustard/mayo, keripik kentang, dan irisan daging sapi tipis, semua di dalam kuah. Secara konsep, mirip steak kan?

Akhirnya kami beranjak ke Jalan Mohammad Yamin gak terlalu jauh dari situ. Ada cemilan lagi yang SANGAT terkenal di Solo: Serabi Notosuman! Lebih epic lagi, di sekitar tempat ini banyak cemilan lainnya. Ada Leker Notosuman dan Ayam Goreng Ragi di seberang tempat serabi.

Serabi Notosuman - Stoves Serabi Notosuman - Products Serabi Notosuman

Inilah Serabi Notosuman yang terkenal itu!

Ummm… soal hubungan serabi ini dengan surabi di kawasan Jawa Barat dan kenapa beda, ntah… saya belum menemukan jawabannya. Yang mana yang duluan dan mana yang merupakan produk adaptasi. Satu hal yang saya tau: Enak!

Serabi Notosuman menyediakan 2 rasa: Rasa polos (putih) dan coklat. Berupa serabi segar (bentuk seperti kue ape disajikan di atas wadah anyaman bambu) dan serabi gulung (siap dibawa ke-mana2, tapi umur cuma 24 jam; menyimpan lebih dari itu? percaya sama saya… Anda gak mau ngelakuin itu, karena punya saya langsung berubah rasanya). Di tempat ini dijual minuman botolan dingin, dan jajanan pasar lainnya seperti Sosis Solo.

Sosis Solo - Whole Sosis Solo - Bitten

Kayak risoles kan?

Sambil makan, saya mikir. Mungkin asal-usul nama sosis ini karena daging cincang, dibungkus sesuatu. Mungkin ketimbang menggunakan usus atau apa yang lebih ribet, digunain adonan tepung kulit risoles, dan jadilah Sosis Solo. Ya gak sih?

Di tahap setelah ini, Joko sudah tidak ikut makan karena kekenyangan.

Di depan tempat ini, ada Leker Notosuman. Saya pun menyapa sang bapak penjual kue ini yang sangat bersahabat. Kue leker di Solo ini berbeda dengan kue leker di Jakarta yang dibuat dengan loyang berputar, mereka menggunakan loyang yang mirip dengan serabi, cuma adonan hanya dituang sedikit dan hasilnya pun adalah adonan kulit yang renyah dengan isian yang nikmat!

Leker Notosuman - Stoves Leker Notosuman - Cooking Leker Notosuman

Kue Leker Notosuman.

Kue leker di sini ada berbagai macam pilihan rasa: Pisang coklat yang paling laris, coklat, pisang coklat keju, dan coklat keju. Saya yang juga mulai kekenyangan pun memesan yang pisang coklat saja. Rasanya renyah, manis, dan pisangnya masih harum. Mmmm… *kraus*

Saya sudah kenyang, tapi demi mencoba makanan baru, saya pun pergi ke sebelah kios kue leker. Ada kios ayam goreng ragi. Digoreng dengan minyak, di atas kompor anglo dengan bahan bakar kayu. Saya sebetulnya kurang tau ini makanan dari Solo juga kah? Saya pun beli satu dan bertanya…

Saya: Bu, kenapa namanya ayam ragi ya? Pakai ragi?

Ibu penjual: Karena pakai kelapa…

Saya: *terdiam* Oke bu…

Mungkin karena kelapa parut goreng bentuknya kayak ragi bubuk.

Ayam Goreng Ragi Notosuman - Stove Ayam Goreng Ragi Notosuman - Cooked Chicken Ayam Goreng Ragi Notosuman - Stand

Ini dia kios ayam goreng ragi.

Ayam Goreng Ragi Notosuman

Ini ayam gorengnya.

Ayam gorengnya saya beli bagian paha atas, karena ntah bagaimana bagian dada nampaknya sudah dipesan orang. Satu porsi ayam goreng bagian paha plus taburan kelapa Rp 6rb. Ayamnya enak, rasanya ga terlalu ada, rasa kuat dan asin justru muncul di kelapanya. Walaupun asin banget sih. Kayaknya emang dinetralisir dengan makan pakai nasi.

Beres makan ayam, saya mencari tahu soal tempat pembuatan Sosis Solo dan pusat Selat Solo. Selat Solo… kami skip karena udah kelewat kenyang. Mencoba mencari2 tempat pembuatan Sosis Solo, tapi sayangnya kami tidak menemukannya sama sekali.  Ah sudahlah, akhirnya kami bersiap kembali ke Yogya setelah melewati Jalan Ahmad Yani dan tidak menemukan apa2, kecuali kepanasan.

Pulang, kami checkpoint stop sebentar di masjid buat sholat, dan lanjut ke Yogya. Yang aneh adalah, kali ini pas pulang yang ada kami kehujanan. Untung kami bawa jaket. Lebih aneh lagi? Masuk area Prambanan, hujannya berhenti. Yogya kering. Aneh.

Sebelum menutup sesi jalan2 kali ini, kami beli es dawet di Es Dawet Pandawa di Prambanan. 1 gelas Rp 3rb. Segar, dan manisnya tidak lebay karena hanya sedikit gula yang ditambahkan. Dawet di sini adalah dawet putih. Beda sama kebanyakan dawet yang pernah saya coba, teksturnya kenyal dan tidak gampang patah.

Dawet Pandawa

Ini dawetnya.

Sampai Yogya… mata sudah 5 watt karena udah ngelewatin panas-hujan dan debu2 di jalan. Saya turun di kosan, dan Joko langsung balik juga ke kosannya. Saya langsung merebah… bzzzzz…

Malamnya, ada tetangga kosan saya, Mas Aqli.

Mas Aqli: Eh, kamu dari Solo juga ya tadi? Saya liat di Foursquare.

Saya: Lah, Mas Aqli juga?

MA: Iya, tadi ada seminar. Oh iya, ini ada serabi…

Saya: *gak bisa nolak serabi* Makasih ya mas!

Alhasil, berat saya naik ke 87 Kg. Untung paginya balik lagi ke 85.5 Kg. Hehehe…

Soal detail tempat:

RESTORAN KUSUMA SARI

Jl. Yos Sudarso no. 81 (baru: no. 12), Solo. Telp: +62271 656406

Jangkauan harga:

Makanan: Rp 3.000,00 – Rp 14.000,00 (tidak ada pajak)

Minuman: Rp 3.500,00 – Rp 6.000,00 (tidak ada pajak)

Es krim: Rp 6.000,00 – Rp 11.000,00, untuk ukuran besar (0.5-1 L): Rp 21.000,00 – Rp 46.000,00 (lagi… tidak ada pajak)

Pesanan hari ini:

Mini kroket: Rp 9.000,00

Kroket mayonaise: Rp 5.000,00

Selat segar: Rp 10.000,00

Kopyor sundae: Rp 7.000,00

Ice cream vanilla: Rp 6.000,00

Total:  Rp 37.000,00

SERABI NOTOSUMAN (Pusat: Solo, Cabang: Yogya, Kudus, Boyolali)

Jl. Mohammad Yamin no. 28. Solo. Telp: +62271 651852

Harga:

10 serabi putih: Rp 20.000,00

5 putih, 5 coklat: Rp 21.000,00

10 putih: Rp 22.000,00

Putih (satuan): Rp 2.000,00

Coklat (satuan): Rp 2.500,00

Sosis solo: Rp 2.500,00

Air mineral botolan: Rp 2.500,00 (pesan Joko: rasa kayak air suling/akuades di laboratorium)

LEKER NOTOSUMAN

Jl. Mohammad Yamin (seberang Serabi Notosuman). Solo. Telp: +62271 2102118

Harga:

Pisang Coklat: Rp 2.000,00

Coklat: Rp 1.700,00

Pisang Coklat Keju: Rp 3.000,00

Coklat Keju: Rp 2.500,00

AYAM GORENG RAGI NOTOSUMAN

Jl. Mohammad Yamin (seberang Serabi Notosuman). Solo.

Harga: Rp 6.000,00/porsi dengan sambal tanpa nasi.

ES DAWET PANDAWA

Di area Bogem, dekat Prambanan. Jalan ke arah Yogyakarta.

Harga: Rp 3.000.00/gelas

Pesan tambahan: Semoga lain kali ada persiapan lebih matang buat jalan2nya dan bisa lebih rame2 jadi ga ada yang namanya kekenyangan di jalan!

PS: Kalau ada referensi di mana tempat pembuatan sosis Solo, atau ada info soal tempat lagi, tulis aja di komen bawah! 🙂

-AW-