Culinary Memoirs of A Biologist Who Loves Food

Posts tagged “tulisan

Transitional Article: Indonesia to Finland

Nampaknya… udah 2 hari lagi sampai saya bakal terbang dari Indonesia ke Finlandia untuk S3. Simpel aja, yang saya mau bilang… saya bakal lebih sering pakai bahasa Inggris… walaupun ya saya bertanya2 kapan seharusnya saya pakai bahasa Indonesia ya? Haha. Mungkin kalian bisa memberi pendapat kalian di kolom komentar di bawah.

Well… for me, it will be a totally new story to tell. Don’t you think? More food to eat, more chefs to meet, and more steps to lead.

Scandinavian cuisine, they said it’s more plain than what we normally eat in Indonesia. Of course, we have all spices that we need here. Peppers, nutmeg, cloves, chilli peppers, and more. All food in Europe will normally rely more on aroma and taste from herbs and only few spices (more spices and herbs combinations are used in Mediterranean countries). Not in Nordic… Scandinavian country like Finland. They used broth from meat or vegetables, salt, wildly harvested mushrooms, herbs and berries (like lingonberry), that means their food would be… earthy. And they used bread and potato instead of rice as staple food.

In the future, I will let you know on how can we find edible mushrooms and plants in the wild, story of fishing (am I patient enough for this… that’s the question to tell!), (legal) hunting… and more! And obviously, there will be more recipes, more restaurants, and more… more… stories!

For 2016, it will be around Finland, especially Turku, Helsinki, or perhaps Oulu? And any neighbouring countries like Sweden, Norway, or Denmark.

It’s a 10,301 Km journey, mate!

So… sampai jumpa Indonesia…

…ja tervetuloa Suomen! 🙂

PS: Here… read the spoiler on food!

THB-Indonesia-Finland

-AW-

Advertisements

New Name, New Look – The Hungry Biologist!

The “Kulinerologi si AW” is now “The Hungry Biologist”! After some consideration for name, I decided to change it to approach more audience in both Indonesian and worldwide scale. With my dream to study abroad attached on it, I wish I can review more Indonesian cuisine and yet-uncommon international cuisine, as well I wish I can have some endorsements from some chefs or fellow bloggers, foodgramers, and also food critics. I wish to learn more.

“Kulinerologi si AW” sekarang menjadi “The Hungry Biologist”! Setelah beberapa pertimbangan untuk nama, saya memutuskan untuk menggantinya untuk menarik lebih banyak audiens di Indonesia atau skala global. Dengan menyertakan mimpi saya untuk melanjutkan kuliah di luar negeri, saya ingin me-review makanan Indonesia dan makanan luar yang masih belum kita kenal, serta saya berharap untuk mendapatkan dukungan dari pihak chef atau sesama blogger, foodgramer, dan bahkan kritikus makanan. Saya ingin belajar lebih banyak lagi.

Laman FB kini berubah alamatnya menjadi: https://web.facebook.com/hungrybiologist.blog

Screen Shot 2015-05-14 at 3.59.53 PM

Instagram di bawah nama saya sendiri Adhityo Wicaksono: http://instagram.com/AW5889

Screen Shot 2015-05-14 at 4.02.01 PM

Hope you enjoy our new looks!

-AW-


Minggu Spesial: Hotel Buffet Ramadhan

Halo pembaca! Pertama2 pesan saya adalah mari menggunakan hak pilih kita di Pemilu Capres 2014 ini dengan sebaik2nya demi Indonesia 5 tahun ke depan yang semakin makmur! Terus… yah… selamat buat para pendukung tim Jerman tadi malam atas kemenangan maut nya 7-1!

Kali ini saya cuma mau kasih sedikit update. Pikiran saya lagi rada campur2 akhir2 ini. Ujian, plus pikiran lainnya… ya gitu deh. Akhirnya saya memutuskan buat sedikit refreshing. Caranya? Saya ikut 3 sesi buffet yang ditawarkan di waktu buka puasa bulan Ramadhan 1434 H/2014 M ini alias makan sepuasnya di 3 hotel di Yogya ini. Hotel mana saja? Ini:

  1. Hotel Grand Aston Yogyakarta (Saffron Restaurant)
  2. Hotel Royal Ambarrukmo (Royal Restaurant)
  3. Hotel Sheraton Mustika Yogyakarta (Androwino Bistro)

Oke lah! Nantikan!

-AW-


Tersedia: Fotografi Makanan Untuk Menu dan Display

Halo semuanya! Memasuki pos ke-35 dari blog ini, saya ingin memberikan sebuah penawaran kepada pembaca. Khususnya buat Anda yang baru saja membuka bisnis makanan, baik untuk restoran, kafe, hingga home catering, saat ini saya menawarkan sebuah jasa kepada Anda! Apa itu?

Opus - Truffle Shoestring Fries Yakisoba Pan Anago - 2 El Greco - Aubergine with Feta Pizza Boat Blue Rare Steak Saffron - Pavarotti Bread Saffron - Grilled Lamb Tagine Black Rice Mushroom Risotto (2) Lox Bagel

Jasa fotografi makanan (food photography)! Ya, jika Anda butuh gambar makanan dan minuman menjadi display di dinding restoran Anda, untuk membantu menyebarkan iklan restoran Anda ke media, hingga jika ingin menu restoran Anda ada foto makanannya, saya bersedia melakukan sesi fotografi untuk Anda dengan harga yang oke dan bisa dinegosiasi, dan hasil foto yang super!

Saffron - Lychee Iced Tea Philly Cheese Steak Yamas - Chicken (Behind) and Lamb (Front) Koutavsouvli Medium Rare Steak Red Velvet Latte Sushi Miya8i - Angry Pizza Sushi

Selain makanan, foto ruangan pun juga bisa menjadi opsi!

KK2 Kado ++ (1) Kado ++ (5) Kado ++ (4) Roast Woods (3)

Oke, ini paketnya!

Pilihan: Dengan Lightbox putih (cocok buat display sederhana atau gambar di menu), atau natural ambience background.

Paket gambar HD (resolusi paling tinggi, untuk skala display):

Kafe: Rp 5.000.000,00

Restoran: Rp 7.000.000,00

Paket gambar menu (resolusi tinggi, tapi bisa di resize untuk skala menu atau web-display):

Kafe: Rp 3.000.000,00

Restoran: Rp 4.000.000,00

Katering/delivery: Rp 5.000.000,00

PS: Harga bisa dinegosiasikan sesuai kesepakatan.

Paket gambar menu + desain menu: Rp 7.000.000,00

Buat Anda yang berada di Pulau Jawa, harga ini sudah termasuk biaya transportasi. Jika Anda berada di luar Jawa, ongkos transportasi akan dikenakan sesuai lokasi. Posisi saya saat ini adalah Yogyakarta.

Also available for people who live in Singapore, Malaysia, and Thailand, the prices will be negotiated and set outside the list above.

Agar tidak terlalu bentrok dengan kerjaan saya yang lain, sesi hanya bisa saya lakukan di saat akhir pekan/hari libur nasional. Perubahan jadwal harap diberitahukan 4 hari sebelumnya. Biaya pembatalan adalah 40% dari harga kesepakatan awal.

Pemotretan 1 tempat dilakukan dalam 1-2 hari, dan foto berupa data (baik original atau editan) akan diserahkan beberapa jam setelah pemotretan hari terakhir. Untuk saat ini, tidak melayani hasil tercetak.

Pembayaran dilakukan setelah sesi selesai (max 3 hari) dan bayaran bisa berupa cash (langsung), transfer via BCA atau Mandiri.

Semua paket termasuk review oleh saya sendiri dan akan ditampilkan ke blog ini.

Jadi begitu dulu. Jika berminat, silakan kontak saya:

Adhityo Wicaksono

e-mail: adhityo.wicaksono@gmail.com

Twitter (langsung mention): @Adit_W

Telepon: +6285722314325 (SMS dulu buat awal2)

-AW-


Sesi Tanya Jawab #1

Oke, mulai sekarang saya akan pasang sesi tanya jawab!

Q: Dit, kok lo review makanan luar mulu, mana makanan Indonesia-nya? Atau emang lo ga suka makanan lokal?

-Anonim-

Saya jawab: Saya suka makanan Indonesia kok, cuma masalahnya untuk skala review saya di sini…

  1. Sekalinya nemu yang enak, biasanya homemade. Otomatis ga saya cantumkan dong (kecuali resepnya mungkin, itupun susah karena masakan kita itu masaknya pake bumbu yang berlimpah).
  2. Sekalinya nemu, selalu di tempat yang ga terduga dan di waktu yang ga terduga. Walaupun sekarang saya jadi lebih cermat lagi kalo nemu masakan Indo yang enak.
  3. Sekalinya saya jalan sama teman2 saya, saya jarang ke resto Indo.
  4. Diversitas pilihan makanan Indo saya masih minim. Saya suka rata2 makanan dari Sumatera secara umum (apalagi bebek tangkap khas Aceh, sate Padang, rendang, kerupuk paru, dan pempek), sebagian makanan daerah pulau Jawa (saya suka gurame goreng, tempe goreng, tahu Sumedang, dan gudeg), dan kreasi orang2 untuk membuat makanan ini jadi wah sampai terdengar kabarnya ke saya masih sangat minim. Jadi kalau ada rekomendasi, kasih tau saya ya!

Jadi, mungkin ke depannya nanti, saya bakal lebih membiasakan lidah saya sama makanan Indo sendiri. 🙂

PS: Kalo ada pertanyaan, kirim aja ke adhityo.wicaksono@gmail.com atau mention saya dengan hashtag #AWKulinerologi di @Adit_W, dengan segala moderasi (ga nerima prank call) insya Allah akan saya jawab!

-AW-


AW’s Guide: Arti 5 Centangan

Di post kali ini, saya cuma mau memperjelas arti centang (√) dari skala 1-5 yang diterapkan di blog ini:

Centang 5 (√√√√√) – Maximum Consumer Satisfaction

Untuk restoran: Restoran ini punya konsep dan standar quality control yang bagus, bahan2 yang segar walau sampai last order (pesanan terakhir pas malam), makanan yang dimasak dengan autentik (untuk yang menyajikan menu khas, benar2 mengikuti aturan dasarnya) dan original (untuk kreasi menu2 baru), suasana yang nyaman, manajemen pelayanan yang bagus, dan harga yang ga menguras dompet (standar saya, per menu makanan utama di bawah Rp 60rb). Biasanya restoran yang seperti ini akan jadi tempat pilihan saya dan akan saya datangi berkali2 setelah saya review.

Untuk makanan: Original dan unik, segar, enak, diracik dengan kreatif, harganya OK, dan nagih! Untuk makanan jenis ini, saya rela datang jauh2 cuma buat beli ini aja dan pulang lagi!

Centang 4 (√√√√) – Good Consumer Satisfaction

Untuk restoran: Restoran ini punya konsep dan standar quality control yang oke, bahan yang segar, masakan punya nilai ke-khasan tersendiri (bisa autentik dan original, tapi bisa juga standar atau seperti kebanyakan, tapi restoran ini punya caranya sendiri untuk memasaknya), suasana yang nyaman, manajemen pelayanan yang bagus, dan harga yang… lumayan lah (sekali makan penuh, total di bawah Rp 300rb). Semua oke, cuma yang biasanya membedakan ama centang 5 adalah harga sama keniatan dalam merancang konsep dan first impression saat saya datang pertama. Biasanya restoran yang seperti ini akan jadi tempat pilihan saya dan akan saya sesekali setelah saya review.

Untuk makanan: Enak, punya nilai originalitas dan keunikan, harganya terjangkau, dan soal rasa oke… yah bisa diadu!

Centang 3 (√√√) – Standard Consumer Satisfaction (Note: Mulai dari sini biasanya standarnya bisa dibilang biasa, dan ini adalah nilai terbaik saya untuk resto dan makanan yang biasa2 aja, plus di bawah nilai ini saya ga akan memberi tips di ujung artikel)

Untuk restoran: Konsepnya biasa, punya nilai khas pada restoran, suasana nyaman, pelayanan yang cepat, porsi dan harga yang oke. Cuma di balik semua itu rasanya biasa aja, dan bahkan ga konsisten. Penggunaan bahan yang biasanya disimpan dan dipanasin lagi biasanya juga membuat saya masuk ke penilaian ini. Atau, restoran ini menurunkan standar konsep makanan asli ke versi restoran ini, tapi kadang mereka ga tau apa yang mereka lakuin itu bisa berakibat fatal ke rasa (misal: ga pake keju parmesan, tapi pake quick melt, atau ga pake pasta tomat segar, tapi pake saus tomat dalam bahan). Tapi overall enak buat duduk2 lama dan pesan lagi dan lagi.

Untuk makanan: Enak walaupun biasa aja (gimana sih ngejelasinnya ya, rasanya biasa aja… tapi suatu saat kita pengen makan lagi), khas, harga terjangkau.

Centang 2 (√√) – Poor Consumer Satisfaction

Untuk restoran: Konsep biasa, restoran sangat “pada umumnya” (ga terlalu punya nilai keunikan), rasa makanan biasa aja, ga konsisten, manajemen mulai berantakan (biasanya lama), tapi seenggaknya mereka masih tau cara membuat makanan enak. Harga terjangkau (karena kalo udah mahal dan ancur, saya ga bakal kasih centang 2).

Untuk makanan: Rasanya biasa aja, dimasak seadanya, kadang ga namanya ga sesuai aslinya (kalo merujuk ke menu tertentu dari negara lain).

Centang 1 (√) – Minimum Consumer Satisfaction (Note: Nilai terpelit yang saya akan kasih kalo saya pulang dari restoran dalam keadaan kesal)

Untuk restoran: Ga ngerti konsep, menu makanan standar, ga konsisten, bahan makanan ga segar sampai akhir, manajemen restoran berantakan (udah lama, pelayanannya ga ramah, pramusaji bingung sendiri, dll), makanannya… Anda beruntung kalo dapet yang enak hari itu. Udah gitu harga ditinggi2in lagi.

Untuk makanan: Rasanya biasa, dimasak seadanya yang kadang2 belum matang, dibuat ga pake hati, yang buat ga ngerti apa yang dia buat, bahannya ga segar.

Centang 0 – Defected 

Untuk restoran: Ga ngerti konsep, menu makanan standar, sepi (pertanda udah ancur), makanan ada yang busuk, manajemen restoran berantakan (kayak centang 1 lah, plus kalo kita beri kritik malah mereka yang nyolot), makanannya… mengutip kata2 Gordon Ramsay di Kitchen Nightmare:

“IT’S DISGUSTING! DO YOU NEED A DEATH IN THIS RESTAURANT UNTIL YOU GET IT?? OH ****!!”

Ya… seancur itu, dan saya pastikan ke Anda sebagai pembaca, saya hampir ga pernah nemu resto seperti ini. Karena pastinya, saat saya tau ada resto yang ngaco, saya ga bakal dateng karena biasanya beritanya udah nyebar. Sedihnya, jam terbang saya belum cukup tinggi dan modal saya minim, jadi saya ga bisa ada kesempatan buat ngubah itu resto kayak Gordon.

Untuk makanan: *bleh!*

Begitu sekira2nya…

-AW-


Note Penulis – 290513

Halo pembaca sekalian!

Cuma mau menambahkan saja: Sesi kategori “Si Tukang Masak” akan saya bagi jadi 2 rubrik, “Sentuhan Chef” di mana akan berisi short profile chef dan masakan mudah buatannya, dan “Di Balik Wajan” yang isinya akan ada teman2 saya yang hobi masak, sedikit tentang dia, dan masakan hasil eksperimen dapur buatannya!

Saya menyimpulkan begini karena saya ga mau dicap ngejiplak majalah online saya sendiri (takut kena teguran).

Pastinya, kategori-kategori baru bakal ditambah nantinya! Stay tune and enjoy the blog!

-AW-


Dari Penulis

Hai pembaca sekalian!

Salam kenal buat mereka yang baru kenal saya dan halo lagi yang mungkin sudah sering mengunjungi blog kompendium saya yang satu itu… hehe…

Oke… kali ini sehubungan dengan kerjaan saya sebagai Food Journalist, saya nampaknya akhir ini mulai cukup berkecimpung dengan dunia kuliner. Mengunjungi restoran hingga pedagang makanan, ketemu para chef hingga mereka yang memasak karena suka berbagi, memotret apa yang saya makan hingga saya menjilati jari2 saya, memasak sendiri hingga memodifikasi menu restoran, hingga memberikan review hangat hingga kritik panas akan menjadi sesuatu yang akan saya share kepada pembaca sekalian!

“Emang lo siapa? Kayak lo ngerti semua makanan di dunia aja!”

Saya ga tau SEMUA makanan di dunia, tapi saya berharap saya bisa keliling dunia, jalan2 mencicipi makanan yang baru dan saya rasa edible (maaf, ketimbang para petualang yang lain, saya akui saya agak picky) buatan kepala suku di Afrika hingga sajian berkelas restoran dengan 3 bintang Michellin seperti karya chef terkenal dunia, Gordon Ramsay (yang akhir2 ini sangat menginspirasi saya terlepas ucapannya yang “sangat berwarna-warni” itu). Saya hobi makan makanan baru sejak saya kecil, dan itu yang bakal jadi referensi saya dalam menulis. Kalau saya salah dalam mengkritik atau mendeskripsikan sesuatu, saya harap para pembaca yang ahli dalam hal kuliner mengkoreksi saya karena saya sendiri juga manusia. OK?

“Wah, inspirasinya apa nih Dit? Kok dari peneliti jadi ke makanan?”

Menjadi seorang peneliti, merupakan pekerjaan yang butuh ketekunan dan menguras waktu. Selama 4 tahun kuliah di ITB, saya akui memang menantang. Di sela2 penelitian, saya tentu perlu bersosialisasi atau jalan2 sendiri! Di saat inilah, saya pergi dan mencari makanan di area tempat tinggal saya. Makanannya enak? Saya rekomendasi. Kalo ngga? Hati2 bagi yang punya resto kalo kalian ngaco banget *hehe bercanda* Sekarang, menunggu S2, saya menjadi seorang Food Journalist di majalah online ShoppingMagz. Diberi peluang bertemu para chef muda, mampir ke berbagai restoran, dan mencicipi kudapan di kedai2 atau toko2 menjadi rutinitas saya yang menarik (sampai dompet saya mulai memberi warning). Di luar itu, saya tetap suka mencari makanan2 baru, dan kadang… masak2 bersama teman2 saya yang lain! Buat saya, masak untuk seseorang dengan cinta itu adalah hal yang indah (ya gak?).

“Hmmm… gitu ya? Terus di sini mau nulis apa aja?”

Saya bakal bagi ke berbagai rancangan kategori awal:

  1. Menu Pilihan. Saya datang ke resto, memberi review ke satu hingga beberapa menu saja.
  2. Kunjungan Restoran. Mampir ke resto, memberi review.
  3. Pergi Ke Dapur. Sesi masak saya dan teman2 saya.
  4. Bahan Spesial. Membahas bahan atau bumbu.
  5. Bertemu Sang Ahli. Bertemu juru masak atau chef handal untuk diskusi, wawancara, dan ngobrol asik.
  6. Si Tukang Masak. Masak kadang bukan kemampuan para chef doang. Ibu2, anak2 kosan pun doyan masak. Gimana ceritanya? Tunggu aja.
  7. Petualangan Kuliner. Pergi ke luar kota asal, untuk berburu makanan baru.
  8. Di Luar Menu. Pernah penasaran untuk membuat pizza custom made? Pernah meminta barista memblender suatu minuman dengan biskuit? Semua akan masuk ke sini!
  9. Sesi Perbandingan. 2 resto, 1 menu, apa bedanya? Atau mungkin 2 resto, 1 franchise, 1 menu? Bisa aja beda tergantung mood chef atau kebijakan manajernya!
  10. Kayaknya Enak. Makanan/minuman yang kayaknya enak, tapi belum kesampaian untuk dicoba (biasanya dari luar negeri).
  11. Notes. Cuma tulisan dari saya.

Begitulah, saya harap blog ini akan menarik!

“Lo bisa masak?? Enak gak tuh?”

Saya masak doang sih bisa. Cuma kadang tergantung mood. Enak? Temen2 saya, sahabat2 saya, bahkan mantan2 pacar saya sendiri bilang masakan saya enak! :p Tapi saya ingin terus mencari tau bagaimana skill2 baru di dunia kuliner ini untuk diterapkan!

“Siapa atau apa sumber inspirasi lo?”

Mama, yang sejak saya SD ngajarin masak. Mbah putri Siti Sarie, yang sangat jago masak mulai dari masakan Indo, Korea, Jepang, hingga Meksiko, dan turun ke anaknya (tante saya) Win, dan (almh. tante) Nina, yang juga suka ngajarin saya masak dari saat saya kecil. Mbah kakung (alm) Soeroso yang dikit2 ngajarin saya masak, nemu bahan2 baru, dan suka marahin saya kalo saya kebanyakan makan. Semua cw2 di sekitar saya dari saya SMU hingga kuliah, yang dengan manisnya memberi saya semangat untuk masak (aseeek). Chef Auguste Gusteau dan Remy di film Pixar, Ratatouille, yang menularkan semangat untuk masak dan mengeksplor masakan, dan bahkan kritikus masakan di film yang sama, Anton Ego, yang sekarang saya mulai ngerti bagaimana menjadi seorang reviewer makanan itu sekeras apa. Chef Gordon Ramsay, sang chef yang masaknya (piiip) banget, gayanya (piiip) parah, dan tegasnya (piiiip) (piiiip)!! *apa dah* Teman2 saya sendiri, Alrizki “Rino” Marino, Dwipurnama “Dwiki” Mahendra, Ganesh Aji Wicaksono dan ibunya Aji, Tante Eka “Arie” Arbawati yang selalu memberi tantangan dan latihan keisengan memasak! Dan… mungkin kalian juga!

“Ada ketentuan lain soal makanan dan minuman yang dicoba?”

Selama itu halal, dan selama itu buat saya gak jijay, selama itu bukan sesuatu yang saya ga suka, saya akan coba.

Jadi, kalo ada pertanyaan… tulis aja di komentar, atau e-mail saya di adhityo.wicaksono@gmail.com

Selamat malam, dan bon appétit! 

-AW-